Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ancaman Gempa Megathrust Indonesia Tinggal Menunggu Waktu: BRIN Sebut Akumulasi Energi Setara Magnitudo 9,2 Kini Incar Pulau Jawa!

Natasha Eka Safrina • Minggu, 8 Februari 2026 | 14:10 WIB

Ancaman gempa Megathrust Indonesia nyata! BRIN ungkap potensi magnitudo 9,2 di selatan Jawa. Simak langkah mitigasi dan analisis pakar selengkapnya di sini.
Ancaman gempa Megathrust Indonesia nyata! BRIN ungkap potensi magnitudo 9,2 di selatan Jawa. Simak langkah mitigasi dan analisis pakar selengkapnya di sini.

JAKARTA – Isu mengenai Ancaman Gempa Megathrust Indonesia kini tengah menjadi perhatian serius setelah para ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan temuan terbaru mengenai akumulasi energi di zona subduksi. Fenomena ini bukan lagi sekadar prediksi ilmiah di atas kertas, melainkan ancaman nyata yang diibaratkan sebagai "bom waktu" geologis. Sejarah mencatat bahwa Indonesia memiliki rekam jejak kelam terkait gempa raksasa dan tsunami yang sewaktu-waktu dapat berulang dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Rahma Hanifa, mengungkapkan bahwa Ancaman Gempa Megathrust Indonesia bersumber dari zona subduksi, yakni pertemuan antara lempeng samudra dan lempeng benua. Di wilayah selatan Sumatera hingga Jawa, pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia menjadi titik krusial. Rahma menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan, namun wajib memahami bahwa kita secara geografis memang hidup di atas zona megathrust yang aktif.

Baca Juga: Narasi Rapel Gaji Pensiunan 2026 Diklaim Sudah Cair, Ini Fakta Sebenarnya Menurut Pemerintah dan TASPEN

Berdasarkan riset geodetik yang dilakukan selama belasan tahun, BRIN mengidentifikasi adanya 16 segmen megathrust di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, zona di selatan Pulau Jawa menjadi salah satu yang paling diwaspadai karena kepadatan penduduknya. Saat ini, Ancaman Gempa Megathrust Indonesia di selatan Jawa menunjukkan adanya kekosongan gempa besar (seismic gap) selama ratusan tahun, yang menandakan energi raksasa sedang terperangkap dan siap lepas.

Skenario Terburuk: Magnitudo 9,2 dan Tsunami 20 Meter

Rahma menjelaskan bahwa jika segmen megathrust di selatan Jawa sepanjang 1.000 kilometer pecah secara serentak dari Selat Sunda hingga Bali, kekuatannya bisa mencapai magnitudo 9,2. Skala ini serupa dengan gempa dahsyat Aceh 2004 atau gempa Tohoku di Jepang 2011. "Guncangannya akan membuat kita sulit berdiri. Di wilayah pesisir, air laut bisa terangkat hingga rata-rata 20 meter dan menerjang daratan dalam waktu singkat," jelasnya.

Bahkan, dampak guncangan ini diprediksi akan terasa sangat kuat hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung dengan intensitas mencapai 6 hingga 7 MMI. Hal ini berisiko meruntuhkan bangunan yang tidak memiliki struktur tahan gempa. Di Jakarta sendiri, sisa gelombang tsunami diprediksi masih bisa mencapai ketinggian satu meter di wilayah pesisir, yang tetap memiliki daya hancur besar karena massa air yang kuat.

Baca Juga: Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Bangkai Membusuk Ditemukan di Lahan Konsesi Perusahaan

Siklus 600 Tahun yang Mendekati Akhir

Data paleo-tsunami melalui penggalian tanah menunjukkan bahwa gempa besar di selatan Jawa terakhir kali terjadi sekitar 400 hingga 600 tahun lalu. Dengan pergerakan lempeng yang mencapai puluhan milimeter per tahun, akumulasi energi saat ini sudah sangat jenuh. BRIN menegaskan bahwa meskipun para ahli tahu energinya sudah cukup untuk memicu gempa magnitudo 9, data sains saat ini belum mampu memprediksi secara akurat mengenai tanggal dan jam terjadinya bencana tersebut.

Kawasan Banten dan Jawa Barat menjadi wilayah dengan waktu respons tercepat jika tsunami terjadi. "Mungkin hanya punya waktu 10 hingga 15 menit untuk evakuasi mandiri. Oleh karena itu, prinsip '20-20-20'—yaitu jika gempa terasa selama 20 detik, segera lari ke tempat dengan ketinggian minimal 20 meter atau sejauh 1 kilometer dalam waktu 20 menit—harus menjadi naluri dasar masyarakat," tambah Rahma.

Baca Juga: Isu Rapel Gaji Pensiunan 2026 Kembali Menguat, Ini Penjelasan Logika Kebijakan Negara dan Mekanisme Bertahap

Mitigasi: Memperkuat Bangunan dan Literasi Bencana

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah melalui BMKG dan BRIN terus memutakhirkan Peta Gempa Nasional. Masyarakat diimbau untuk mulai menata kembali konstruksi rumah dan memastikan jalur evakuasi di dalam ruangan tidak terhalang benda berat. Persiapan "Tas Siaga Bencana" yang berisi kebutuhan darurat untuk tiga hari juga menjadi hal yang krusial di tengah ketidakpastian kapan energi tersebut akan lepas.

Mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar, baik itu ancaman tsunami di pesisir maupun longsor di pegunungan akibat guncangan, adalah kunci keselamatan. "Kita tidak bisa menghindari Megathrust, tapi kita bisa beradaptasi dan hidup berdampingan dengannya melalui mitigasi yang tepat. Jangan menunggu bencana datang untuk mulai belajar cara menyelamatkan diri," tegas penutup dalam diskusi tersebut.

Editor : Natasha Eka Safrina
#gempa megathrust Indonesia #mitigasi bencana #gempa megathrust #Tsunami Selatan Jawa