Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

BMKG Ungkap Ancaman Gempa Megathrust Selat Sunda: Jangan Tunggu Sirene, Warga Pesisir Diminta Paham Aturan 20-20-20

Natasha Eka Safrina • Minggu, 8 Februari 2026 | 17:49 WIB

BMKG jelaskan ancaman gempa megathrust Selat Sunda dan aturan 20-20-20, warga pesisir diminta siaga tanpa panik.
BMKG jelaskan ancaman gempa megathrust Selat Sunda dan aturan 20-20-20, warga pesisir diminta siaga tanpa panik.

JAKARTA – Isu potensi gempa megathrust Selat Sunda kembali ramai diperbincangkan di media sosial dalam beberapa waktu terakhir. Narasi “tinggal menunggu waktu” memicu kekhawatiran masyarakat pesisir barat Indonesia, khususnya wilayah Lampung, Banten, hingga Sumatra bagian barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun angkat bicara untuk meluruskan pemahaman publik agar tidak terjebak kepanikan berlebihan.

Penjelasan tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan BMKG dalam sebuah wawancara edukatif yang melibatkan mahasiswa keperawatan. BMKG menegaskan, potensi gempa megathrust Selat Sunda memang nyata secara ilmiah karena wilayah tersebut berada tepat di zona subduksi aktif, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Namun, istilah “menunggu waktu” kerap disalahartikan oleh masyarakat awam.

“Dalam bahasa geologi, menunggu waktu artinya energi sudah terkumpul dan bisa dilepaskan kapan saja. Tapi kapan pastinya, tidak ada satu pun teknologi di dunia yang bisa memprediksi,” jelas BMKG.

Megathrust Itu Nyata, Tapi Bukan Ramalan Waktu

BMKG menekankan bahwa gempa megathrust bukanlah ramalan kejadian dalam hitungan hari atau bulan. Bisa saja terjadi besok, 10 tahun lagi, bahkan puluhan tahun mendatang. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi ke masyarakat seharusnya menitikberatkan pada kesiapsiagaan, bukan menakut-nakuti.

Baca Juga: Gempa Megathrust Pacitan Magnitudo 6,4 Guncang Jawa, BMKG Ungkap Mekanisme Naik dan Catatan Tsunami 1840

BMKG menganalogikan kondisi wilayah pesisir barat seperti rumah di pinggir jalan besar yang dilalui truk bertonase berat. Getaran tidak bisa dicegah, tetapi rumah bisa diperkuat dan penghuni harus tahu jalur evakuasi jika terjadi kecelakaan.

“Fokusnya bukan ketakutan, tapi kesiapan,” tegasnya.

Golden Time Tsunami Sangat Singkat

Dalam konteks gempa megathrust Selat Sunda, BMKG mengingatkan bahwa waktu emas atau golden time evakuasi tsunami sangat terbatas, terutama jika sumber gempa berada dekat garis pantai. Waktu yang tersedia hanya sekitar 15–20 menit setelah gempa berhenti sebelum gelombang tsunami berpotensi tiba.

Sistem peringatan dini tsunami BMKG akan dikeluarkan maksimal lima menit setelah gempa terjadi. Namun, BMKG memberi pesan penting: masyarakat dan tenaga kesehatan tidak boleh menunggu sirene atau pesan resmi jika guncangan dirasakan sangat kuat.

BMKG memperkenalkan prinsip 20-20-20, yakni:

Bahasa Sederhana Kunci Keselamatan

BMKG juga menyoroti pentingnya komunikasi sederhana dalam situasi bencana, terutama bagi tenaga medis dan relawan. Istilah teknis justru bisa membuat warga bingung saat kondisi panik.

Contohnya, istilah “triase merah, kuning, hijau” sebaiknya diganti dengan penjelasan langsung seperti, “Kami akan menolong yang lukanya paling parah lebih dulu.” Begitu pula istilah medis seperti fraktur femur atau trauma abdomen, cukup disampaikan sebagai “kaki patah” atau “perut terbentur keras”.

“Tujuan komunikasi bencana itu aksi, bukan kuliah,” tegas BMKG.

Baca Juga: Gempa Megathrust Pacitan Trending 500 Ribu Pencarian, Satu Warga Meninggal dan Puluhan Bangunan Rusak

Perawat Jadi Pemimpin di Lapangan

Dalam kondisi darurat, khususnya di wilayah terpencil dengan akses terbatas, BMKG menyebut perawat dan tenaga kesehatan sebagai figur sentral. Mereka bukan hanya penjahit luka, tetapi juga pemimpin komunitas kecil yang bertugas menenangkan warga, mengatur sanitasi darurat, hingga mencegah wabah penyakit.

“Perawat di desa itu adalah menteri kesehatannya,” ujar BMKG. Menurutnya, korban yang selamat dari gempa jangan sampai justru meninggal akibat penyakit di pengungsian.

BMKG berharap edukasi seperti ini bisa memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi gempa megathrust Selat Sunda, tanpa terjebak ketakutan yang tidak perlu. Kesadaran, latihan, dan komunikasi yang tepat dinilai jauh lebih menyelamatkan nyawa dibanding kepanikan massal.

Baca Juga: Gempa Megathrust Pacitan Magnitudo 6,2 Guncang Jawa, BMKG Ungkap Bedanya dengan Gempa Biasa dan Ancaman Terburuknya

Editor : Natasha Eka Safrina
#tsunami #bmkg #gempa megathrust