JAKARTA – Pandemi Covid-19 kembali diperdebatkan setelah sebuah tayangan diskusi di YouTube viral dan menyebut wabah global tersebut sebagai awal dari perang dunia ketiga. Dalam tayangan itu, narasumber mengklaim pandemi bukan sekadar krisis kesehatan, melainkan bagian dari skenario global yang telah dirancang sejak lama untuk menguji kepatuhan massal masyarakat dunia.
Narasumber menyebut perang dunia ketiga tidak lagi menggunakan senjata militer konvensional, melainkan dijalankan melalui ketakutan kolektif, kebijakan publik, dan kepatuhan masyarakat. “Ketakutan itu seperti bom, kebijakan seperti misil, dan kepatuhan massal menjadi pasukan militernya,” ujarnya dalam video tersebut.
Dokumen Lock Step Rockefeller Foundation
Dalam penjelasannya, narasumber merujuk pada dokumen “Scenarios for the Future of Technology and International Development” yang diterbitkan Rockefeller Foundation pada 2010, khususnya skenario Lock Step. Dokumen tersebut kembali ramai diperbincangkan sejak pandemi karena memuat simulasi respons global terhadap wabah penyakit menular, termasuk pembatasan pergerakan dan penguatan kontrol negara.
Narasumber menilai skenario Lock Step bukan sekadar kajian akademik, melainkan cetak biru yang disebutnya “terlalu rapi” dan tidak bersifat kebetulan. Ia juga mengaitkan dokumen tersebut dengan berbagai kebijakan lockdown yang diterapkan di banyak negara selama pandemi Covid-19.
Selain itu, ia menyinggung adanya simulasi pandemi pada tahun-tahun sebelum Covid-19, termasuk berbagai dokumen perencanaan kesehatan nasional dan internasional yang disebut telah menyusun timeline sejak 2015 hingga 2019.
Klaim Uji Kepatuhan Massal
Dalam diskusi tersebut, World Economic Forum (WEF) disebut-sebut sebagai pihak yang mendorong simulasi pandemi untuk menguji pola kepatuhan manusia. Covid-19 diklaim sebagai uji coba terhadap masyarakat dengan “pola pikir standar” agar tunduk terhadap kebijakan global.
Narasumber menilai uji kepatuhan tersebut “berhasil sebagian”, namun menyebut tidak ada kejahatan yang sempurna. Ia mengaitkan terbukanya berbagai dokumen hukum belakangan ini sebagai bentuk “peringatan Tuhan” agar masyarakat kembali sadar terhadap apa yang ia sebut sebagai agenda global yang merugikan rakyat.
Dikaitkan dengan Epstein Files
Diskusi juga mengaitkan pandemi dengan terbukanya Epstein Files, kumpulan dokumen hukum terkait kasus mendiang Jeffrey Epstein. Menurut narasumber, terbukanya dokumen tersebut bukan peristiwa kebetulan, melainkan akibat diberlakukannya Epstein Files Transparency Act yang disahkan melalui undang-undang pada November.
Ia menyebut pengungkapan dokumen Epstein sebagai bukti bahwa terdapat kejahatan kemanusiaan berskala besar yang selama ini tertutup, sekaligus menjadi momentum untuk membuka kesadaran publik terhadap berbagai agenda global lanjutan, termasuk isu geoengineering dan konvergensi biodigital.
Seruan Permintaan Maaf kepada Publik
Dalam pernyataannya, narasumber juga menyerukan agar pejabat, pakar, influencer, hingga media massa yang selama pandemi mendukung kebijakan kesehatan tertentu meminta maaf kepada publik. Ia menuding adanya media yang dianggap “menggaungkan ketakutan” dan menyebut pandemi sebagai agenda politik, bukan murni kesehatan.
Namun, para pakar kesehatan dan komunikasi publik menegaskan bahwa dokumen seperti Lock Step merupakan skenario perencanaan, bukan bukti adanya rekayasa pandemi. Simulasi wabah lazim dilakukan oleh lembaga internasional sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan.
Hingga kini, tidak ada bukti ilmiah maupun kesimpulan hukum yang menyatakan Covid-19 merupakan hasil skenario global terencana. Organisasi kesehatan dunia dan komunitas ilmiah menegaskan bahwa pandemi disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 dengan dampak nyata terhadap kesehatan global.
Di tengah derasnya narasi alternatif yang beredar di media sosial, masyarakat diimbau untuk bersikap kritis, membedakan antara klaim, opini, dan fakta ilmiah, serta tidak menyimpulkan hubungan sebab-akibat tanpa dasar yang terverifikasi.
Editor : Natasha Eka Safrina