Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang Ditemukan Meninggal Setelah 23 Hari, Jasad Yazid Ahmad Firdaus Masih Utuh di Jalur Tapak Nogo

Krisna Pambudi • Rabu, 11 Februari 2026 | 13:27 WIB
Ilustrasi Gunung Lawu. (Sumber: Jawa Pos)
Ilustrasi Gunung Lawu. (Sumber: Jawa Pos)

RADAR TULUNGAGUNG – Misteri hilangnya pendaki hilang di Bukit Mongkrang akhirnya terungkap.

Yazid Ahmad Firdaus, pendaki asal luar daerah yang dilaporkan hilang sejak 18 Januari 2026, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa, 10 Februari 2026.

Pendaki hilang di Bukit Mongkrang tersebut ditemukan setelah 23 hari pencarian.

Jasad Yazid ditemukan oleh tim relawan dari komunitas Wanadri Bandung di Bukit Mitis, sisi barat Bukit Mongkrang, Gunung Lawu, dekat aliran sungai dengan medan terjal dan sulit dijangkau.

Kabar ditemukannya pendaki hilang di Bukit Mongkrang ini langsung menyita perhatian publik.

Terlebih, operasi pencarian resmi sebelumnya sempat dihentikan setelah 13 hari tanpa hasil.

Ditemukan di Medan Terjal Dekat Aliran Sungai

Informasi yang dihimpun, jasad Yazid ditemukan sekitar pukul 08.54 WIB.

Tim relawan lebih dulu menemukan sebuah botol kosong di koordinat 07°41’00” Lintang Selatan dan 111°10’30” Bujur Timur.

Dari titik itulah pencarian difokuskan hingga akhirnya jasad korban ditemukan.

Lokasi penemuan berada di jalur Tapak Nogo menuju Bukit Mitis, kawasan yang dikenal memiliki jurang curam dan vegetasi lebat.

Medan ekstrem menjadi salah satu kendala terbesar selama proses pencarian.

Menariknya, meski telah 23 hari berada di alam terbuka, kondisi jasad korban dilaporkan masih utuh.

Hal ini memunculkan tanda tanya sekaligus rasa haru di kalangan relawan dan keluarga.

Hilang Sejak 18 Januari Saat Mendaki Bersama Tiga Teman

Yazid diketahui memulai pendakian di Bukit Mongkrang, Tawangmangu, pada Minggu, 18 Januari 2026.

Ia mendaki bersama tiga rekannya. Namun dalam perjalanan, Yazid terpisah dari rombongan dan tidak kembali hingga dinyatakan hilang.

Laporan kehilangan langsung ditindaklanjuti oleh tim SAR gabungan.

Sebanyak 300 personel dikerahkan dalam operasi pencarian, melibatkan Basarnas, TNI, Polri, relawan, hingga anjing pelacak.

Pada hari kesembilan pencarian, tim sempat mencium bau anyir di sekitar Pos Tiga, yang merupakan titik terakhir keberadaan Yazid.

Namun dugaan tersebut tidak bisa ditindaklanjuti maksimal karena cuaca ekstrem dan kondisi jurang sedalam sekitar 200 meter yang membahayakan tim pencari.

Hingga hari ke-13, pencarian belum membuahkan hasil. Operasi SAR resmi dihentikan pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Ditemukan Setelah Operasi SAR Dihentikan

Hampir 10 hari setelah operasi SAR ditutup, secercah harapan kembali muncul.

Komunitas Wanadri Bandung yang tetap melakukan penyisiran mandiri akhirnya menemukan tanda-tanda keberadaan korban.

Awalnya tim menemukan botol kosong yang diduga milik korban.

Temuan tersebut kemudian dianalisis dan dijadikan titik awal pembukaan jalur evakuasi.

Proses evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian mengingat medan yang sulit serta lokasi yang berada di dekat aliran sungai dan lereng curam.

Relawan juga melakukan pemetaan ulang jalur terdekat untuk memastikan proses evakuasi berjalan aman.

Duka Mendalam dan Kisah Haru Sang Ibu

Di balik kabar duka ini, terselip kisah yang menyentuh.

Yazid ditemukan tak lama setelah sang ibu menunaikan ibadah umrah. Keluarga sebelumnya terus berharap korban ditemukan dalam kondisi selamat.

Kabar penemuan ini pun membawa duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta komunitas pendaki.

Banyak warganet menyampaikan belasungkawa dan apresiasi atas kerja keras tim SAR serta relawan yang tidak menyerah meski operasi resmi telah dihentikan.

Kasus ini juga menjadi pengingat keras akan risiko pendakian di medan ekstrem seperti Bukit Mongkrang.

Gunung yang dikenal memiliki jalur curam dan jurang dalam itu kerap menjadi tujuan favorit pendaki karena panorama alamnya, namun tetap menyimpan potensi bahaya besar.

Evaluasi Prosedur Keselamatan Pendakian

Tragedi ini memunculkan evaluasi serius terkait standar keselamatan pendakian.

Pendaki diimbau untuk tidak memisahkan diri dari rombongan, membawa perlengkapan memadai, serta selalu memperhatikan kondisi cuaca.

Koordinasi dan komunikasi juga menjadi faktor krusial dalam pendakian.

Keterbatasan sinyal di kawasan hutan dan pegunungan sering kali menyulitkan proses pelacakan ketika terjadi insiden.

Dengan ditemukannya jasad Yazid Ahmad Firdaus, pencarian panjang pendaki hilang di Bukit Mongkrang akhirnya berakhir.

Namun peristiwa ini meninggalkan luka mendalam sekaligus pelajaran penting bagi para pencinta alam agar lebih waspada saat menaklukkan alam bebas.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#wanadri bandung #Yazid Ahmad Firdaus #pendaki hilang di bukit mongkrang #Bukit Mongkrang Tawangmangu #Operasi SAR Gabungan