RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena gerhana 2026 menjadi perhatian publik setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memastikan akan terjadi gerhana bulan total pada Selasa, 3 Maret 2026. Peristiwa langit ini disebut sebagai salah satu fenomena astronomi 2026 yang dapat diamati langsung dari berbagai wilayah di Indonesia.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelli Florida Riama, menjelaskan bahwa gerhana 2026 ini terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Kondisi tersebut membuat bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti bumi atau umbra, sehingga memunculkan fenomena gerhana bulan total.
Saat puncak gerhana 2026, bulan akan tampak berwarna merah. Fenomena ini sering disebut sebagai “blood moon” dan menjadi daya tarik utama bagi masyarakat serta pecinta astronomi. Jika langit cerah, perubahan warna bulan akan terlihat jelas tanpa bantuan alat khusus.
Baca Juga: Saudi Aramco Diserang Drone, Selat Hormuz Ditutup Iran, Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak di 2026
Durasi dan Waktu Puncak Gerhana
BMKG mencatat bahwa total durasi gerhana bulan kali ini mencapai 5 jam 41 menit 51 detik. Sementara itu, fase parsial berlangsung selama 3 jam 27 menit 47 detik.
Adapun fase totalitas dalam gerhana 2026, yakni saat bulan sepenuhnya tertutup bayangan umbra, berlangsung selama 59 menit 27 detik. Inilah momen terbaik untuk menyaksikan perubahan warna bulan menjadi merah pekat.
Berdasarkan data pengamatan, gerhana mulai terjadi pada sore hingga malam hari. Puncak gerhana diperkirakan terjadi sekitar pukul 18.33 WIB, 19.33 WITA, dan 20.33 WIT. Setelah itu, fenomena akan berakhir sepenuhnya menjelang malam.
Kenapa Bulan Berwarna Merah?
Warna merah pada bulan saat gerhana 2026 bukanlah tanpa sebab. Fenomena ini terjadi akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.
Cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru akan tersebar, sementara cahaya merah dengan panjang gelombang lebih panjang tetap diteruskan hingga mencapai permukaan bulan. Akibatnya, bulan tampak berwarna merah saat fase totalitas.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana proses fisika atmosfer memengaruhi tampilan objek langit yang diamati dari bumi.
Wilayah Terbaik untuk Mengamati
BMKG menyebutkan bahwa wilayah Indonesia bagian timur memiliki peluang pengamatan yang lebih baik. Hal ini karena fase awal gerhana sudah dapat terlihat sejak bulan terbit.
Sementara itu, di wilayah barat Indonesia, bulan akan terlihat ketika gerhana sudah berlangsung, bahkan mendekati fase puncak. Meski begitu, masyarakat tetap dapat menikmati momen totalitas jika kondisi langit mendukung.
Untuk mendapatkan pengalaman terbaik, masyarakat disarankan mencari lokasi minim polusi cahaya, seperti area terbuka atau pedesaan, dengan pandangan luas ke arah timur.
Satu-satunya Gerhana yang Terlihat di Indonesia
Menariknya, dari total empat fenomena gerhana sepanjang tahun ini, hanya satu yang dapat diamati secara optimal di Indonesia, yakni gerhana 2026 pada 3 Maret ini.
Fenomena ini juga merupakan bagian dari siklus astronomi Saros 133, yang berulang dalam periode tertentu. Gerhana serupa sebelumnya terjadi pada 2008 dan akan kembali terjadi pada tahun-tahun mendatang.
Momen Langka yang Sayang Dilewatkan
Gerhana bulan total selalu menjadi momen spesial karena tidak hanya langka, tetapi juga dapat dinikmati tanpa alat bantu khusus. Selain itu, fenomena ini aman dilihat langsung dengan mata telanjang.
Dengan durasi totalitas hampir satu jam, masyarakat memiliki waktu cukup panjang untuk mengabadikan momen ini, baik melalui fotografi maupun sekadar menikmati keindahan langit malam.
Fenomena gerhana 2026 ini pun menjadi pengingat akan keindahan alam semesta yang dapat dinikmati secara langsung dari bumi.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula