RADAR TULUNGAGUNG- atau kebencian terhadap kaum Yahudi merupakan salah satu fenomena sosial dan politik paling panjang dalam sejarah dunia. Sejak era Kekaisaran Romawi hingga abad modern, sentimen anti-Yahudi muncul dalam berbagai bentuk—mulai dari diskriminasi agama, pengusiran massal, hingga genosida yang terjadi pada abad ke-20.
Memahami sejarah antisemitisme penting untuk melihat bagaimana konflik, prasangka, dan propaganda terbentuk selama berabad-abad. Banyak faktor yang memicu kebencian tersebut, mulai dari perbedaan keyakinan, ekonomi, hingga politik.
Awal Konflik pada Masa Romawi
Sejarah kebencian terhadap Yahudi dapat ditelusuri hingga masa Kekaisaran Romawi. Pada masa itu, masyarakat Romawi menganut kepercayaan pagan atau menyembah banyak dewa, sedangkan kaum Yahudi memegang teguh konsep monoteisme, yakni menyembah satu Tuhan.
Perbedaan keyakinan tersebut menimbulkan kecurigaan. Praktik-praktik keagamaan Yahudi seperti hari Sabat dan sunat dianggap aneh oleh masyarakat Romawi. Akibatnya, hubungan sosial antara kedua kelompok menjadi tegang.
Situasi semakin memanas setelah peristiwa penyaliban Jesus Christ pada sekitar tahun 33 M. Meskipun secara historis penyaliban dilakukan oleh otoritas Romawi, narasi yang berkembang di sebagian komunitas Kristen kemudian menuduh orang Yahudi sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Ketegangan tersebut memuncak pada tahun 70 M ketika Romawi menghancurkan Bait Suci Yerusalem. Peristiwa ini mendorong diaspora besar-besaran kaum Yahudi yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia.
Pengaruh Gereja dan Diskriminasi Abad Pertengahan
Ketika Kekaisaran Romawi mulai memeluk Kristen pada masa pemerintahan Kaisar Constantine the Great pada abad ke-4, posisi gereja menjadi sangat kuat dalam struktur politik.
Pada masa ini, berbagai aturan diskriminatif mulai diberlakukan. Kaum Yahudi diwajibkan mengenakan tanda pengenal khusus seperti bintang Daud atau pakaian tertentu agar mudah dikenali.
Di berbagai wilayah Eropa, mereka juga dilarang memiliki tanah atau bekerja di banyak profesi. Akibatnya, sebagian Yahudi beralih ke bidang perdagangan dan keuangan, termasuk praktik peminjaman uang dengan bunga.
Profesi tersebut kemudian menimbulkan stereotip negatif. Gambaran tentang rentenir Yahudi bahkan muncul dalam karya sastra seperti drama The Merchant of Venice karya William Shakespeare yang menampilkan tokoh Shylock sebagai pemberi pinjaman uang.
Tuduhan pada Masa Wabah Black Death
Pada abad ke-14, Eropa dilanda pandemi mematikan yang dikenal sebagai Black Death. Wabah ini menewaskan sekitar sepertiga populasi benua tersebut.
Namun alih-alih memahami penyebab ilmiahnya, banyak masyarakat justru menuduh kaum Yahudi sebagai biang keladi wabah. Mereka dituduh meracuni sumur dan menyebabkan penyakit menyebar.
Akibat tuduhan tersebut, kekerasan terhadap komunitas Yahudi meningkat tajam. Di berbagai kota Eropa, pogrom atau pembantaian massal terhadap orang Yahudi terjadi.
Sejarah mencatat sejumlah pengusiran besar terhadap komunitas Yahudi, antara lain dari Inggris pada 1290, dari Prancis pada 1306, serta dari berbagai wilayah Eropa lainnya sepanjang abad pertengahan.
Baca Juga: Rumor Benjamin Netanyahu Tewas Diserang Iran Hebohkan Dunia, Ini Fakta Terbaru Kondisi PM Israel
Teori Ras dan Lahirnya Antisemitisme Modern
Memasuki abad ke-19, antisemitisme mulai berubah dari konflik agama menjadi isu rasial. Perkembangan ini dipengaruhi oleh teori evolusi yang dipopulerkan oleh Charles Darwin melalui bukunya The Origin of Species.
Beberapa kalangan kemudian memelintir konsep “survival of the fittest” untuk membangun teori ras superior dan inferior. Dalam konteks ini, seorang jurnalis Jerman bernama Wilhelm Marr mempopulerkan istilah “antisemitisme” pada akhir abad ke-19.
Ia menyebarkan gagasan bahwa orang Yahudi bukan sekadar kelompok agama, tetapi ras yang dianggap tidak cocok hidup berdampingan dengan masyarakat Eropa.
Puncak Kebencian pada Era Nazi
Ideologi antisemitisme mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Nazi di Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler.
Hitler menggunakan propaganda antisemit untuk menyalahkan kaum Yahudi atas berbagai masalah Jerman, termasuk kekalahan negara itu dalam Perang Dunia I.
Kebijakan Nazi kemudian berujung pada Holocaust, tragedi kemanusiaan yang menewaskan sekitar enam juta orang Yahudi selama Perang Dunia II.
Antisemitisme dan Konflik Modern
Meskipun Holocaust menjadi salah satu pelajaran besar bagi dunia, sentimen antisemitisme masih muncul hingga sekarang di berbagai negara.
Di sisi lain, konflik geopolitik modern di Timur Tengah juga memunculkan perdebatan baru mengenai hubungan antara sejarah Yahudi, negara Israel, dan Palestina.
Para sejarawan menilai bahwa memahami akar sejarah antisemitisme penting agar masyarakat dunia dapat menghindari propaganda kebencian yang serupa di masa depan.
Dengan memahami perjalanan panjang konflik ini, masyarakat diharapkan mampu melihat persoalan global secara lebih kritis dan mendorong terciptanya perdamaian yang lebih berkelanjutan.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani