Ombak 4 Meter Hantam Pantai Gunung Kidul, Fasilitas Wisata Rusak dan Warga Berlarian

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:25 WIB
Ombak 4 meter hantam pantai Gunung Kidul dan wilayah pesisir DIY. Fasilitas wisata rusak, rumah roboh, kapal nelayan terdampak.(pinterest)
Ombak 4 meter hantam pantai Gunung Kidul dan wilayah pesisir DIY. Fasilitas wisata rusak, rumah roboh, kapal nelayan terdampak.(pinterest)

GUNUNG KIDUL - Ombak 4 meter menghantam sejumlah pantai di Gunung Kidul, Yogyakarta, pada Selasa, 11 Agustus. Gelombang tinggi menerjang kawasan pesisir dan merusak sejumlah fasilitas pariwisata.

Ombak 4 meter tersebut juga membuat sejumlah pengunjung panik. Mereka berlarian menjauh dari bibir pantai untuk menyelamatkan diri dari terjangan gelombang laut selatan.

Pantai Jungwok dan Pantai Gesing menjadi sejumlah lokasi yang terdampak. Video gelombang besar hingga air laut menerjang kawasan wisata kemudian viral di media sosial.

Gelombang Tinggi Dipicu Angin Monsun Australia

Pakar gempa bumi dan mitigasi bencana Indonesia, Dariono Prwirasakti, menjelaskan gelombang besar di pesisir Gunung Kidul berkaitan dengan kondisi angin di perairan selatan Jawa.

Baca Juga: Kekeringan Ekstrem 2026 Makin Parah, Warga Rela Antre Air hingga Jual Ternak

Angin monsun Australia yang berembus kencang melintasi perairan terbuka Samudra Hindia menghasilkan energi kinetik besar. Energi tersebut kemudian terakumulasi menjadi gelombang alun atau swell dengan periode panjang.

Gelombang bergerak secara konsisten menuju daratan. Ketika memasuki kawasan perairan dangkal, terjadi efek pendangkalan atau shoaling effect yang dapat meningkatkan ketinggian dan daya hantam gelombang.

Kondisi tersebut semakin berisiko di Pantai Gesing. Bentuk pantai yang menyerupai teluk, sempit, dan dikelilingi tebing karang membuat energi gelombang terkonsentrasi.

Air laut kemudian dapat meluap jauh melewati garis pantai atau mengalami run-up. Kondisi tersebut juga meningkatkan potensi arus balik atau rip current yang dapat membahayakan wisatawan.

Kapal Nelayan dan Fasilitas Pesisir Terancam

Dariono menyebut kerusakan kapal nelayan akibat benturan di area tambat menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Fasilitas pesisir juga berpotensi mengalami kerusakan apabila gelombang tinggi terus berlangsung.

Baca Juga: Antraknosa Bawang Merah Bisa Bikin Tanaman Mati Mendadak, Kenali Gejalanya

Karena itu, ia menyarankan sejumlah langkah mitigasi. Perahu tempel milik nelayan perlu dievakuasi ke lokasi yang lebih tinggi untuk menghindari kerusakan akibat hantaman gelombang.

Aktivitas air bagi wisatawan juga disarankan ditutup total ketika kondisi gelombang membahayakan. Selain itu, posko siaga perlu disiapkan oleh unsur SAR, Satelmas, dan BPBD.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah korban jiwa sekaligus mengurangi potensi kerugian ekonomi di kawasan wisata pesisir.

Tiga Kabupaten di DIY Terdampak

Gelombang tinggi tidak hanya terjadi di Gunung Kidul. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Tribun Jogja, dampaknya meluas ke tiga wilayah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wilayah tersebut meliputi Bantul, Gunung Kidul, dan Kulon Progo. Kerusakan dilaporkan terjadi pada sejumlah infrastruktur pesisir, rumah warga, hingga kapal nelayan.

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat peningkatan gelombang tinggi sebenarnya sudah terpantau sejak Senin, 10 Agustus, sore.

Kondisi tersebut kemudian mencapai puncaknya pada Selasa pagi. Gelombang tinggi yang datang ke daratan menyebabkan sejumlah bangunan dan fasilitas di kawasan pesisir terdampak.

Dua Rumah Warga Roboh di Bantul

Di Kabupaten Bantul, sejumlah warung di kawasan pantai dilaporkan mengalami kerusakan akibat gelombang pasang.

Koordinator Tempat Pemungutan Retribusi kawasan Pansela Bantul bagian barat, Sto Akhir, menyampaikan terdapat laporan warung di Pantai Baru bagian timur yang terkena gelombang pasang.

Gelombang pasang terjadi sejak pagi dengan ketinggian sekitar 1 hingga 4 meter. Jarak hantaman gelombang dari bibir pantai menuju daratan disebut mencapai sekitar 25 meter.

Kondisi tersebut disebut sebagai fenomena yang dapat terjadi secara musiman atau tahunan. Perubahan musim dan pengaruh angin dari arah selatan atau Australia diduga menjadi salah satu faktornya.

Dampaknya cukup serius. Dua rumah warga dilaporkan roboh. Rumah milik City dan Samsina masing-masing mengalami kerugian yang diperkirakan mencapai Rp10 juta.

Selain itu, satu perahu pecah akibat benturan dengan perahu lain ketika gelombang menghantam kawasan tersebut. Kerugian akibat kerusakan perahu ditaksir sekitar Rp1 juta.

Kondisi ini menjadi pengingat bagi wisatawan dan masyarakat pesisir agar meningkatkan kewaspadaan ketika gelombang tinggi melanda. Penutupan kawasan berisiko dan langkah evakuasi menjadi penting untuk mencegah jatuhnya korban.

Editor : Maylanni Diana Fitri
ombak 4 meter Pantai Gesing Pantai Jungwok gelombang tinggi pantai Gunung Kidul