JAKARTA - Gempa susulan NTT terus terjadi setelah gempa utama Magnitudo 7,7 mengguncang Flores. BMKG mencatat sebanyak 2.928 gempa susulan selama enam hari hingga Rabu siang, membuat warga di sejumlah wilayah masih diliputi trauma dan memilih bertahan di tenda.
Guncangan susulan dirasakan di sejumlah daerah, termasuk Nagekeo, Palue, Sikka, Wewaria, dan Ende. Sebagian warga bahkan memilih mendirikan tenda di halaman rumah karena khawatir bangunan yang mereka tempati tidak lagi aman.
Salah satu gempa susulan yang dirasakan warga disebut berkekuatan Magnitudo 5,7. Getarannya membuat suasana di pos pengungsian Kampung Binaan, Kabupaten Manggarai Timur, panik.
Bangunan posko yang sebelumnya mengalami keretakan juga akhirnya ambruk akibat guncangan. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Warga yang berada di pos pengungsian terlihat panik ketika gempa kembali terasa kuat. Relawan kemudian datang untuk memberikan bantuan kepada sejumlah pengungsi.
Gempa susulan tersebut disebut menjadi salah satu yang paling kuat sejak gempa utama terjadi. Guncangan dilaporkan berlangsung beberapa kali dalam rentang sekitar 30 menit.
Ribuan Gempa Susulan Masih Terjadi
BMKG mencatat 2.928 gempa susulan mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, dalam enam hari. Salah satu hasil pemutakhiran analisis BMKG menyebut gempa susulan berkekuatan Magnitudo 5,1 dengan kedalaman 10 kilometer.
Baca Juga: Ratusan Kepsek Definitif di Tulungagung Belum Dilantik, 49 Calon Masih Terkendala Pertek dan Sistem
Pusat gempa tersebut berada sekitar 50 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT. BMKG menyatakan gempa itu tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Ribuan gempa tersebut merupakan rangkaian aktivitas setelah gempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores. BMKG menyebut gempa susulan yang terjadi merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar Flores.
Aktivitas gempa masih terus dipantau. Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG dan tidak mudah percaya terhadap isu yang beredar.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan masyarakat perlu tetap waspada terhadap gempa susulan selama dua minggu ke depan. Namun, ia menyebut kekuatan gempa susulan cenderung lebih kecil dibandingkan gempa utama.
Saat mengunjungi pengungsi di Kabupaten Sikka, Suharyanto mengatakan sebagian warga masih percaya dengan isu akan terjadi gempa yang lebih besar setelah gempa Magnitudo 7,7.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan informasi terbaru dari Kepala BMKG, jumlah gempa telah mencapai lebih dari 2.000 kali. Sebanyak 81 gempa di antaranya dirasakan masyarakat, tetapi tidak ada lagi gempa dengan skala di atas Magnitudo 6,2.
Menurut Suharyanto, kondisi diharapkan semakin stabil dalam dua hingga tiga minggu. Meski demikian, masyarakat di Flores masih mungkin merasakan gempa-gempa lanjutan.
Warga Pilih Tidur di Tenda
Kondisi tersebut membuat sejumlah warga memilih bertahan di tenda mandiri. Di Nagekeo, warga mendirikan tenda di halaman rumah karena tidak berani bermalam di dalam bangunan.
Baca Juga: Pantai Sine Tulungagung, Camping Nyaman dengan Warung Buka 24 Jam
Riswan Dapa, salah seorang warga, mengatakan empat kepala keluarga dengan sekitar 20 orang telah tinggal di tenda sejak gempa pada 15 Agustus 2026.
"Kami membuat tenda mandiri sini pasca gempa tanggal 15 Agustus kemarin sehingga praktis sampai malam hari ini sudah malam kelima kami bertahan di tenda pengungsi mandiri," kata Riswan.
Tenda tersebut dibuat menggunakan peralatan seadanya. Warga menggunakan terpal dan tikar untuk bertahan, terutama pada malam hari.
Riswan mengatakan kondisi tenda belum memadai. Angin, embun, dan cuaca yang berubah-ubah kerap mengganggu waktu istirahat. Kondisi itu semakin dirasakan oleh lansia, anak-anak, dan bayi yang berada di lokasi.
Bantuan berupa kebutuhan pokok telah diterima warga melalui pemerintah setempat. Namun, Riswan menyebut bantuan tersebut masih belum sepenuhnya mencukupi karena jumlah pengungsi cukup banyak.
Warga juga membutuhkan obat-obatan, vitamin, dan suplemen. Aktivitas pekerjaan sebagian warga ikut terganggu karena mereka masih mengalami trauma dan khawatir meninggalkan tenda.
Riswan mengatakan gempa masih dapat dirasakan hampir setiap jam. Karena itu, warga belum dapat memastikan kapan akan kembali ke rumah.
Sebagian bangunan di sekitar lokasi mengalami kerusakan sedang hingga berat. Ada rumah yang runtuh, sementara bangunan lain terlihat masih berdiri tetapi mengalami kerusakan struktur.
"Kami tidak tahu kapan terjadi gempa lagi," ujarnya.
Selama gempa susulan masih terjadi, warga memilih tetap berada di tenda. Mereka berharap rangkaian guncangan segera berakhir agar dapat perlahan kembali menjalankan aktivitas dan memulihkan kondisi psikologis.
Editor : Maylanni Diana Fitri