Korban Gempa NTT Tinggalkan Duka Mendalam, Keluarga Masih Terbayang Sosok Daeng

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:12 WIB
Korban gempa NTT meninggalkan duka bagi keluarga. Selain kehilangan anggota keluarga, rumah mereka rusak dan menyisakan trauma.(pinterest)
Korban gempa NTT meninggalkan duka bagi keluarga. Selain kehilangan anggota keluarga, rumah mereka rusak dan menyisakan trauma.(pinterest)

JAKARTA - Duka mendalam masih dirasakan keluarga korban gempa NTT yang kehilangan anggota keluarga akibat bencana. Kesedihan semakin berat karena rumah mereka turut mengalami kerusakan dan menyisakan ketakutan bagi anggota keluarga yang masih bertahan.

Seorang perempuan dalam tayangan tersebut menceritakan kondisi keluarganya setelah bencana. Ia mengaku masih memikirkan anggota keluarga yang telah meninggal serta kondisi rumah yang sudah tidak seperti sebelumnya.

"Jadi saya sebagai omah juga kepikiran dia yang sudah meninggal, kepikiran rumah sudah begini, jadi masih ada kebimbangan, pikiran ragu," tuturnya.

Kehilangan tersebut tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga membuat keluarga harus menghadapi situasi yang sulit. Rumah yang rusak menjadi bagian lain dari persoalan yang mereka hadapi setelah bencana.

Dalam kesaksiannya, keluarga juga menceritakan detik-detik ketika seorang anggota keluarga bernama Daeng berada di dalam rumah. Saat itu, Daeng disebut berada di rumah ketika terjadi peristiwa yang membuat bangunan tersebut runtuh.

Daeng Ditemukan di Bawah Reruntuhan

Cerita keluarga menggambarkan situasi yang penuh kepanikan. Disebutkan, seseorang berusaha menyelamatkan anak yang masih berada di sekitar lokasi. Anak tersebut akhirnya berhasil luput, sementara Daeng menjadi korban.

Baca Juga: Waduk Ranu Kumbolo Tulungagung Punya Spot Sunset hingga Cerita Mistis

"Pergi kenapa? Sudah ditendes dari rumah dengan sama Fitri. Tapi Fitrinya dia lindung. Akhirnya anak luput, dia yang korban," ujar salah seorang dalam tayangan tersebut.

Keluarga kemudian mengetahui kondisi Daeng setelah melihatnya di bawah reruntuhan. Saat itu, Daeng disebut tidak lagi memberikan respons.

Salah satu anggota keluarga menceritakan bagaimana kondisi Daeng ketika ditemukan. Ia melihat telepon genggam masih berada di tangan Daeng yang sudah tertimpa material bangunan.

"Kenapa Bapak tidak bersuara? Bapak di mana sudah Bapak ini?" demikian cerita yang disampaikan dalam tayangan.

Keluarga kemudian menyadari bahwa Daeng telah meninggal dunia. Kesadaran tersebut menambah kesedihan bagi anggota keluarga yang berada di lokasi.

"Bapak saya meninggal," kata salah seorang dalam kesaksiannya.

Kisah tersebut memperlihatkan beratnya situasi yang dihadapi keluarga korban setelah bencana. Selain kehilangan anggota keluarga, mereka juga harus menghadapi kondisi rumah yang telah rusak.

Keluarga Antarkan Daeng ke Pemakaman

Setelah Daeng dinyatakan meninggal, keluarga kemudian membawa jenazahnya untuk dimakamkan. Dalam tayangan tersebut, suasana duka terlihat ketika keluarga mengenang sosok Daeng yang telah pergi.

Baca Juga: Plt Bupati Ahmad Baharudin Melantik Pimpinan BAZNAS Tulungagung Periode 2026-2031

"Bapak Daeng sudah tidak mau dengan kita," ujar salah seorang anggota keluarga.

Pertanyaan mengenai keberadaan Daeng kemudian berubah menjadi kenyataan pahit bagi keluarga. Mereka harus menerima bahwa Daeng telah meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Dalam proses pemakaman, salah seorang anggota keluarga juga disebut membawa air sendiri ke lokasi. Ia kemudian menunggu anggota keluarga lainnya datang.

Cerita tersebut menggambarkan kesederhanaan prosesi yang dilakukan keluarga di tengah kondisi pascabencana. Mereka tetap berusaha memberikan penghormatan terakhir kepada Daeng meski berada dalam situasi sulit.

Keluarga kemudian membawa bunga dan air untuk keperluan di makam. Percakapan mengenai bunga dan air tersebut menjadi bagian dari momen ketika keluarga mengantarkan Daeng ke tempat peristirahatan terakhir.

Kehilangan Daeng meninggalkan luka bagi keluarga yang ditinggalkan. Kesedihan itu semakin terasa karena mereka masih harus menghadapi rumah yang rusak serta kondisi kehidupan setelah bencana.

Bagi keluarga, kepergian Daeng bukan hanya kehilangan satu anggota keluarga. Peristiwa tersebut juga meninggalkan kenangan tentang bagaimana mereka berusaha menyelamatkan diri dan orang-orang terdekat ketika bencana terjadi.

Sementara itu, anggota keluarga yang masih hidup harus melanjutkan kehidupan dengan membawa trauma dan kesedihan. Rumah yang rusak serta kehilangan orang terdekat menjadi bagian dari beban yang harus mereka hadapi setelah bencana.

Kesaksian keluarga tersebut menjadi gambaran duka yang dirasakan korban gempa NTT. Di tengah upaya untuk bangkit, mereka masih harus berdamai dengan kehilangan dan ketidakpastian kehidupan setelah bencana.

Editor : Maylanni Diana Fitri
korban bencana Korban Gempa NTT Gempa NTT Daeng keluarga korban