JAKARTA - Tsunami menerjang kawasan permukiman dan membuat warga panik. Dalam rekaman video, warga terlihat berlarian menyelamatkan diri setelah air laut menerjang rumah dan sejumlah bangunan hingga mengalami kerusakan parah.
Suasana kepanikan terdengar jelas dalam video. Warga berulang kali mengucapkan takbir dan istigfar sambil mencari tempat yang dianggap lebih aman.
Seorang warga bahkan memperingatkan agar masyarakat tidak menuju ke arah gunung. Ia menyebut kawasan yang dilalui air mengalami kerusakan paling parah.
“Ini yang paling terbesar susulannya. Semua sudah roboh,” ujar seorang warga dalam rekaman tersebut.
Kondisi permukiman setelah air menerjang terlihat memprihatinkan. Sejumlah rumah disebut sudah rata dan tidak lagi terlihat seperti sebelumnya.
Air Laut Menerjang Permukiman
Warga dalam video menggambarkan bagaimana air laut datang dan menerjang kawasan permukiman. Mereka menyebut ketinggian air mencapai sekitar dua meter ketika berada di area rumah.
Baca Juga: Tembang Macapat dan Tahapan Hidup Manusia, dari Lahir hingga Kembali
“Air besar dua meter tingginya. Semua begini nih, rumah rata,” kata warga dalam rekaman tersebut.
Warga juga menceritakan kondisi air setelah sempat surut. Menurut kesaksian dalam video, setelah air surut, air kembali datang dengan kondisi yang membuat warga semakin panik.
“Setelah air surut, air pasang itu mendidih. Nah, itu berkejaran dengan air,” ujar warga.
Dalam situasi tersebut, warga tidak sempat mengukur secara pasti ketinggian air. Kepanikan membuat mereka langsung berusaha menyelamatkan diri.
“Kalau lewat pun tetap tingginya seberapa, Bang? Tinggi airnya kita tidak bisa mengukur karena kita semua pada panik,” kata warga lainnya.
Masyarakat kemudian berlari meninggalkan kawasan yang diterjang air. Mereka mengaku tidak memilih berlari lurus, melainkan bergerak melintang untuk menghindari terjangan air laut.
Kesaksian warga menyebut air menerjang rumah dari bagian belakang. Kondisi sejumlah bangunan pun mengalami kerusakan berat.
Warga Kehilangan Rumah dan Harta Benda
Dalam video, seorang warga mengaku hanya menyisakan pakaian yang melekat di badan setelah peristiwa tersebut. Barang-barang dan kebutuhan sehari-hari yang sebelumnya berada di rumah ikut hilang.
Baca Juga: Berbakti kepada Orang Tua, Pesan tentang “Gantian” yang Disampaikan dalam Kajian Jawa
“Baju di badan,” ujar warga tersebut ketika menggambarkan kondisi setelah tsunami menerjang.
Warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan kebutuhan dasar setelah kejadian. Makanan dan bahan pokok disebut tidak tersedia di lokasi yang mereka tempati.
“Mie satu bungkusnya tidak. Beras satu biji pun tidak ada,” kata warga.
Kondisi tersebut membuat masyarakat kebingungan menentukan tempat untuk bertahan. Mereka berharap ada bantuan dan arahan setelah rumah serta barang-barang milik mereka terdampak.
“Tidak ada yang ke tempat. Kita masyarakat ini mau ke mana? Harapan kita ini?” ujar seorang warga.
Selain persoalan kebutuhan pokok, warga juga menyoroti sistem pemberitahuan kepada masyarakat. Mereka mengaku tidak mendapatkan arahan yang cukup sebelum air menerjang.
Seorang warga meminta pemerintah setempat memperkuat penyampaian informasi kepada masyarakat. Menurutnya, pengeras suara bertenaga baterai dapat digunakan untuk menyampaikan peringatan apabila terjadi kondisi darurat.
Ia berharap perangkat tersebut bisa digunakan untuk mengarahkan warga menuju lokasi yang aman. Dengan begitu, masyarakat tidak kebingungan ketika harus segera menyelamatkan diri.
Rekaman tersebut memperlihatkan kondisi warga yang masih diliputi kepanikan. Kerusakan rumah, kehilangan barang, serta keterbatasan kebutuhan dasar menjadi persoalan yang mereka hadapi setelah tsunami menerjang.
Namun, lokasi dan waktu pasti kejadian tidak disebutkan secara jelas dalam rekaman. Karena itu, informasi mengenai wilayah terdampak maupun detail lain di luar kesaksian warga tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan video tersebut.
Editor : Maylanni Diana Fitri