NAGEKEO - Gempa Flores kembali mengguncang Pulau Flores pada Senin pagi. Gempa bermagnitudo 5,8 dengan kedalaman 10 kilometer di wilayah Kabupaten Nagekeo membuat ratusan pelajar SMP dan SMA Seminari Bunda Segala Bangsa berhamburan ke lapangan.
Para pelajar saat itu sedang membersihkan halaman sekolah. Begitu merasakan guncangan, mereka langsung berlari menuju area terbuka untuk menyelamatkan diri.
Guncangan tersebut juga membuat pihak sekolah tidak menggelar upacara atau apel bendera untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Para pelajar memilih tetap berada di area terbuka karena khawatir gempa susulan kembali terjadi.
Gempa Flores tersebut menjadi bagian dari rangkaian guncangan yang dirasakan masyarakat setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu sebelumnya.
Pelajar Tidur di Lapangan
Sejak gempa besar tersebut terjadi, ratusan pelajar calon imam Katolik di Seminari Bunda Segala Bangsa harus bertahan di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Kemarau Bikin Debit Embung Sidem Tulungagung Menurun, Air Masih 3 Meter dan Jadi Favorit Pemancing
Kondisi itu membuat aktivitas mereka berubah. Pada malam hari, para pelajar harus tidur di lapangan futsal karena belum memiliki tenda untuk tempat berlindung.
Mereka tidur dengan beralaskan kasur di ruang terbuka. Kondisi tersebut membuat para pelajar harus menghabiskan malam di bawah langit terbuka.
Situasi kembali menegangkan ketika gempa bermagnitudo 5,8 mengguncang pada Senin pagi. Para pelajar yang sedang melakukan aktivitas di lingkungan sekolah langsung berhamburan menuju lapangan.
Mereka juga tidak melaksanakan apel bendera untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kekhawatiran terhadap gempa susulan membuat para pelajar memilih tetap berada di area yang lebih terbuka.
Rangkaian gempa tersebut tidak hanya berdampak pada aktivitas pendidikan. Kondisi serupa juga dialami warga di Pulau Palue.
Warga Palue Masih Bertahan di Pengungsian
Ratusan warga Pulau Palue masih bertahan di lokasi pengungsian dengan kondisi serba terbatas. Desa Nitung menjadi salah satu wilayah yang mengalami kesulitan akses setelah jalur darat terputus akibat longsor.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Berangkat ke NTT Bantu Korban Bencana, Respons Permintaan Putra Flores
Tanah di kawasan tersebut juga masih bergerak. Kondisi itu membuat akses darat belum dapat digunakan untuk mendukung mobilitas warga maupun proses penyaluran bantuan.
Saat ini, akses menuju wilayah tersebut hanya melalui jalur laut. Keterbatasan akses membuat proses evakuasi dan pengiriman bantuan bagi warga terdampak menjadi lebih sulit.
Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa. Warga kemudian meninggalkan rumah dan memilih bertahan di tenda-tenda darurat yang dibangun secara seadanya.
Kondisi pengungsian juga masih serba terbatas. Warga terdampak membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama belum dapat kembali ke rumah masing-masing.
Keterisolasian wilayah menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan pascagempa. Jalur darat yang terputus membuat bantuan tidak dapat disalurkan dengan mudah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengupayakan pengiriman bantuan melalui jalur yang memungkinkan. Upaya tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak gempa.
Gempa Flores yang kembali terjadi menunjukkan warga di sejumlah wilayah NTT masih berada dalam situasi waspada. Para pelajar di Seminari Bunda Segala Bangsa harus beraktivitas di ruang terbuka, sementara warga Pulau Palue masih bertahan di pengungsian.
Kondisi tersebut memperlihatkan dampak gempa tidak hanya dirasakan saat guncangan terjadi. Aktivitas belajar, peringatan HUT Kemerdekaan, tempat tinggal, hingga akses bantuan bagi warga ikut terdampak.
Editor : Maylanni Diana Fitri