PROBOLINGGO– Gunung Bromo di Jawa Timur kembali menunjukkan pesona terindahnya saat memasuki bulan Juli dan Agustus.
Dua bulan ini disebut-sebut sebagai musim emas Gunung Bromo di Jawa Timur, ketika cuaca cerah, suhu sejuk, dan langit bersih membuat pemandangan Bromo tampak sempurna dari berbagai sudut.
Periode ini selalu menjadi waktu favorit wisatawan, baik lokal Jawa Timur maupun mancanegara, untuk mengunjungi Gunung Bromo yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Kondisi alam yang stabil tanpa hujan menjadi alasan utama banyak orang memilih bulan Juli–Agustus sebagai waktu terbaik ke Gunung Bromo.
Musim kemarau di kawasan Gunung Bromo mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus.
Langit biasanya bersih dari awan, sehingga sunrise Gunung Bromo terlihat sangat jelas dan dramatis dari spot-spot andalan seperti Penanjakan 1, Seruni Point, Bukit Kingkong, hingga Bukit Cinta.
Wisatawan yang datang pada dini hari akan disambut pemandangan langit yang perlahan berubah warna, dari gelap menuju semburat oranye keemasan yang muncul dari balik Gunung Batok dan Gunung Semeru.
Sunrise seperti inilah yang menjadi daya tarik utama wisatawan pada musim ini.
Meskipun data Juli–Agustus 2025 belum dirilis, tren dari tahun-tahun sebelumnya menunjukkan peningkatan signifikan pada periode ini.
Pada libur panjang akhir Mei 2025, tercatat lebih dari 11.700 wisatawan mengunjungi Bromo hanya dalam beberapa hari.
Angka ini diperkirakan akan melonjak saat memasuki pertengahan tahun, seiring libur sekolah dan kondisi alam yang bersahabat.
Tidak heran jika hotel-hotel di kawasan Tosari, Ngadisari, dan Cemoro Lawang mulai penuh dipesan sejak awal Juli.
Para penyedia jasa sewa jeep juga mengalami lonjakan permintaan hingga dua kali lipat dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Salah satu hal yang membuat wisata ke Bromo pada Juli dan Agustus semakin istimewa adalah suhu ekstrem yang menyentuh 5°C bahkan di bawah 0°C pada dini hari.
Suasana dingin berpadu dengan kabut tipis menciptakan nuansa magis yang sulit ditemukan di tempat lain.
Banyak wisatawan sengaja datang lebih awal, mengenakan jaket tebal, sarung tangan, dan syal, hanya untuk merasakan “dingin khas Bromo” sambil menanti matahari terbit.
Sensasi ini bahkan sering disamakan dengan musim dingin ringan di luar negeri.
Bagi pecinta fotografi, Juli dan Agustus adalah waktu yang sangat ideal.
Langit biru jernih, pencahayaan alami, dan kontras antara pasir hitam dengan vegetasi hijau kekuningan membuat setiap sudut Bromo tampak fotogenik.
Spot seperti Lautan Pasir, Kawah Bromo, dan Bukit Teletubbies menjadi favorit untuk pemotretan pre-wedding hingga konten sosial media.
Jika Anda berencana berlibur ke Bromo dalam waktu dekat, ada beberapa hal yang perlu disiapkan.
Pertama, pastikan datang lebih awal, idealnya pukul 03.00 dini hari, untuk mendapatkan momen sunrise terbaik.
Kedua, gunakan pakaian hangat dan masker, karena udara dingin dan debu pasir bisa cukup ekstrem di musim kemarau.
Jangan lupa untuk memesan jeep dan penginapan lebih awal karena tingginya jumlah pengunjung bisa membuat ketersediaan layanan menjadi terbatas.
Tiket masuk ke kawasan TNBTS juga sudah bisa dipesan secara online melalui situs resmi mereka. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah