NGANJUK - Museum Anjuk Ladang menawarkan pengalaman mendalam bagi wisatawan yang ingin menggali serta mempelajari sejarah dan budaya Kabupaten Nganjuk.
Terletak strategis di sebelah timur Terminal Bus Nganjuk, Museum ini menyimpan segudang artefak penting dari era Hindu–Doho hingga Majapahit.
1. Sejarah dan Lokasi
Awal berdirinya: Pembangunan dimulai tahun 1993–1996 atas inisiatif Bupati Soetrisno Rachmadi dan diresmikan pada 10 April 1996, bertepatan dengan peringatan ke-1059 Hari Jadi Nganjuk.
Alamat lengkap: Jl. Gatot Subroto, Ringin Anom, Kauman, Kecamatan Nganjuk — tepat di sebelah Terminal Bus Kota Nganjuk.
2. Koleksi Menarik Yang Dimiliki
Prasasti Anjuk Ladang
Replika prasasti asli berangka 859 Saka (937 M) yang menandai peran warga dalam membantu Raja Pu Sindok melawan pasukan Melayu — cikal bakal nama “Nganjuk”
Artefak Hindu–Budha & Medang
Arca-arca seperti Durga, Ganesha, Nandi dan arca Hari‑Hara (Siva + Wisnu) terdapat dan dipamerkan dalam prasasti dan diorama sejarah nganjuk.
Benda budaya lokal
Koleksi guci, pot, wayang kulit, topeng, genta, mangkuk, artefak kolonial, hingga fosil purbakala yang ditemukan di wilayah Nganjuk.
3. Fasilitas dan Jam Operasional
Jam buka: Setiap hari pukul 08.00–14.00 WIB Dibuka juga Sabtu–Minggu.
Biaya masuk: Gratis; parkir motor dan mobil tersedia (beberapa sumber sebut tarif rendah, Rp 2.000–5.000)
Fasilitas pendukung seperti Area parkir, toilet umum, gazebo, kantor informasi, warung makan, dan lokasi dekat alun‑alun serta penginapan.
4. Tips Berkunjung
Cocok untuk keluarga dan pelajar: Banyak artefak edukatif dan ruang diorama untuk belajar langsung
Ambil foto di spot menarik: Di depan arca, prasasti, dan area fosil.
Bawa penjelasan atau pemandu: Supaya lebih mendapatkan konteks sejarah artefak.
Kunjungi saat ramai: Weekend biasanya lebih ramai, cocok untuk suasana edukasi interaktif.
5. Atraksi Sekitar
Taman Pintar Nganjuk & Alun‑Alun Nganjuk: Destinasi bebas biaya, hanya 1,4 km dari stasiun nganjuk.
Taman Pandan Wilis dan Candi Lor: Kedua tempat ini juga mudah dijangkau dan memberi tambahan nilai sejarah serta relaksasi.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz