LOMBOK – Keindahan Gunung Rinjani tak hanya terletak pada puncaknya yang megah, tetapi juga pada Danau Segara Anak yang tersembunyi di kawah gunung ini.
Danau yang berada di ketinggian sekitar 2.000 mdpl itu menyimpan panorama luar biasa.
Airnya biru kehijauan, dikelilingi tebing-tebing tinggi dan hutan lebat, menjadi salah satu daya tarik utama bagi pendaki yang ingin merasakan sisi lain Gunung Rinjani.
Namun di balik pesonanya, perjalanan menuju Danau Segara Anak bukanlah hal yang mudah.
Perjalanan menuju Danau Segara Anak, terutama dari jalur Pelawangan Sembalun, dikenal curam dan ekstrem.
Banyak tanjakan dan turunan tajam yang menuntut fokus serta stamina pendaki.
Salah langkah sedikit saja, bisa berujung petaka. Hal ini kembali terbukti dari insiden jatuhnya pendaki asal Swiss, Benedikt Emmenegger, pada Rabu, 16 Juli 2025.
Korban jatuh saat melewati jalur curam menuju danau dan mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuh.
Ia harus dievakuasi menggunakan helikopter karena kondisi luka yang parah.
Evakuasi ini menjadi yang pertama kali dilakukan menggunakan helikopter setelah sebelumnya banyak desakan agar evakuasi udara tersedia di kawasan Rinjani.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) melalui rilis resminya menyatakan bahwa jalur menuju danau memang membutuhkan perhatian ekstra.
“Perhatikan pijakan kaki di setiap langkahnya, jangan terburu-buru dan tetap utamakan keselamatan,” imbau BTNGR dalam unggahan terbarunya.
Danau Segara Anak sendiri terbentuk akibat letusan Gunung Rinjani ribuan tahun silam.
Di tengah danau, berdiri Gunung Barujari, gunung api kecil yang masih aktif dan kerap mengeluarkan aktivitas vulkanik ringan.
Kondisi ini semakin menambah daya tarik kawasan tersebut, sekaligus menjadi pengingat bahwa Rinjani adalah kawasan rawan bencana.
Meski demikian, popularitas Segara Anak tak surut. Setiap musim pendakian, ratusan pendaki lokal hingga mancanegara memilih berkemah di tepi danau.
Beberapa memancing, berendam di sumber air panas alami yang ada di sisi timur danau, atau sekadar menikmati pagi berkabut yang menyelimuti lanskap kawah.
BTNGR menegaskan bahwa meskipun lokasi danau populer dan banyak dikunjungi pendaki, jalurnya bukan untuk pendaki pemula tanpa persiapan.
Curamnya turunan menuju Danau Segara Anak memerlukan kewaspadaan tinggi, perlengkapan yang memadai, serta pendampingan dari guide dan porter berpengalaman.
Selain jalur curam, perubahan cuaca mendadak dan minimnya sinyal komunikasi menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki.
Oleh karena itu, perencanaan matang dan kondisi fisik prima sangat disarankan bagi siapa pun yang ingin mengunjungi danau ini.
Tim SAR dan relawan Rinjani juga terus meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
Pelatihan rutin, peralatan evakuasi, serta sistem pelaporan insiden terus diperbarui.
Pihak BTNGR pun mengimbau agar para pendaki menggunakan jasa guide dan porter resmi, serta mengikuti semua aturan keselamatan yang berlaku.
Bagi yang ingin melihat keindahan danau ini, penting untuk mengedepankan keselamatan, menghormati alam, dan selalu waspada terhadap kondisi sekitar.
Editor : Didin Cahya Firmansyah