TULUNGAGUNG - Telaga Buret terletak di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Sebagai bagian dari geosite Geopark Tulungagung, telaga ini memiliki karakteristik unik: airnya berasal dari sistem perbukitan gamping, sehingga tidak pernah mengering meski musim kemarau.
Luasnya sekitar 30 × 40 meter, dengan tebing patahan di sisi belakang yang menambah daya tarik alamnya.
Daya tariknya yaitu air telaga Buret di Tulungagung dikenal berwarna biru toska yang mencolok, dikelilingi oleh pepohonan rindang yang menciptakan suasana alami dan menenangkan.
Lingkungan sekitar telaga buret Tulungagung ini masih sangat asri dan terjaga. Di sekitar telaga juga dapat ditemukan berbagai satwa liar seperti kera ekor panjang dan rusa, menjadikannya tempat yang cocok untuk wisata edukatif, rekreasi keluarga, maupun fotografi alam.
Mitos dan Cerita Rakyat
Menurut cerita masyarakat, Telaga Buret berasal dari kisah Eyang Jigang Joyo, seorang tokoh Majapahit.
Ketika rombongannya kehausan, beliau menggali tanah hingga memunculkan mata air yang kini menjadi Telaga Buret Tulungagung. Airnya kemudian mengaliri empat desa sekitar dan dianggap sebagai sumber berkah.
Ada sejumlah mitos yang dipercayai masyarakat setempat, seperti larangan menebang pohon di sekitar telaga buret.
Konon, siapa pun yang melanggarnya akan mendapat musibah. Beberapa warga juga percaya bahwa telaga buret Tulungagung ini dijaga oleh makhluk gaib seperti Anoman, kera putih, dan ikan lele tanpa daging.
Jika makhluk tersebut muncul ke permukaan, diyakini akan terjadi pertanda buruk. Karena itulah, tidak ada yang berani menyelam ke dalam telaga, sebab dipercaya memiliki pusaran air misterius yang berbahaya.
Tradisi Budaya: Upacara Ulur-ulur
Telaga Buret di Tulungagung juga menjadi pusat tradisi budaya masyarakat lokal, yaitu ritual Upacara Ulur-ulur. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun pada hari Jumat Legi atau Jumat Pon di bulan Selo dalam penanggalan Jawa.
Ritual ini mencerminkan rasa syukur masyarakat atas kelimpahan air yang menyuburkan tanah pertanian. Prosesi dilakukan dengan membawa berbagai sesaji serta mengarak arca Dewi Sri dan Joko Sedono, yang melambangkan kesuburan. Arak-arakan ini diakhiri dengan tabur bunga ke telaga.
Upacara Ulur-ulur telah berlangsung sejak tahun 1995 dan kini diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan sosial antarwarga, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga dan menghormati alam sekitarnya.
Tips Kunjungan ke Telaga Buret
1. Pakaian: gunakan alas kaki yang nyaman karena jalur menuju lokasi cukup berbatu.
2. Etika berkunjung: hormati aturan dan kepercayaan lokal. Jangan membuang sampah sembarangan.
3. Fasilitas: masih terbatas, jadi disarankan membawa bekal dan perlengkapan pribadi.
4. Keselamatan: hindari berenang atau menyelam di telaga karena pusaran air yang belum diketahui kedalamannya.
Telaga Buret bukan hanya destinasi wisata alam biasa. Ia menyimpan perpaduan keindahan alam, nilai budaya, serta warisan legenda yang hidup di tengah masyarakat. Bagi pecinta alam, peneliti, maupun wisatawan budaya, Telaga Buret adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di Tulungagung.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz