RADAR TULUNGAGUNG – Sebuah replika Kabah berdiri di puncak Gunung Cilik, Dusun Ngingas, Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung.
Lokasinya bersebelahan dengan makam tokoh setempat Raden Alit dan berada di atas kawasan RSUD Campurdarat, sehingga cukup mudah dijangkau masyarakat
Bangunan replika yang menyerupai Kabah itu diketahui mulai berdiri sejak beberapa bulan lalu. Menurut informasi, tujuan awal pembangunan replika tersebut adalah sebagai sarana latihan manasik haji bagi warga sekitar.
Baca Juga: Wisata Religi di Tulungagung Menyusuri Jejak Ziarah dan Tradisi Spiritual yang Sarat Makna
Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi replika Kabah itu meluas dan menjadi destinasi baru bagi masyarakat.
Banyak warga memanfaatkannya untuk bersantai di sore hari, menikmati pemandangan alam dari ketinggian, bahkan berdiri pula warung kopi sederhana yang melayani pengunjung.
Dari atas puncak Gunung Cilik, pengunjung dapat melihat hamparan sawah hijau yang membentang luas.
Pemandangan ikonik Gunung Budeg yang menjulang juga terlihat jelas dari lokasi ini, menambah daya tarik wisata religi sekaligus panorama alam.
Fenomena keberadaan replika Kabah ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat sekitar, tetapi juga viral di media sosial.
Sejumlah kreator TikTok membuat konten parodi dengan caption unik, di antaranya “the real cod Mekkah” dan “Alhamdulillah dulur saget ngibadah haji”.
Baca Juga: Mengenal Wisata Religi, Sejarah Sunan Kuning di Kabupaten Tulungagung
Konten-konten tersebut mendapatkan respons beragam dari warganet. Sebagian menilai hal itu sekadar hiburan kreatif, sementara sebagian lainnya menganggapnya berlebihan dan tidak pantas.
Perdebatan semakin ramai ketika pada 7 Agustus 2025, akun Facebook @Pak Bos Reels mengunggah vlog yang memperlihatkan akses menuju replika Kabah tersebut. Video itu mendapat banyak komentar yang memperdebatkan keberadaan bangunan tersebut.
Beberapa komentar menilai pembangunan replika Kabah sebagai bentuk pelecehan terhadap simbol suci umat Islam.
Ada pula yang menyebut lebih baik membangun candi sebagai pengingat budaya dan warisan nenek moyang daripada replika Kabah yang dikhawatirkan menimbulkan kesalahpahaman.
Di sisi lain, sebagian warganet justru menilai replika Kabah ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi.
Mereka berpendapat bahwa bangunan tersebut bisa menjadi sarana latihan manasik haji bagi anak-anak dan masyarakat yang belum berangkat ke Tanah Suci.
Hingga kini, replika Kabah di puncak Gunung Cilik Campurdarat tetap berdiri dan terus didatangi masyarakat.
Meski menuai pro dan kontra, keberadaannya membuat lokasi ini semakin dikenal luas, baik sebagai tempat latihan manasik maupun destinasi alternatif untuk berwisata. ****
Editor : Dharaka R. Perdana