JAKARTA - Kisah horor yang selama ini dikenal lewat film Open Water ternyata bukan sekadar fiksi. Tragedi penyelam Jepang di Bali pada Februari 2014 menjadi bukti nyata betapa tipisnya batas antara liburan indah dan mimpi buruk di tengah laut. Tujuh perempuan asal Jepang mengalami pengalaman mengerikan saat ditinggal kapal ketika menyelam di perairan Nusa Lembongan dan Nusa Penida, Bali.
Peristiwa tragedi penyelam Jepang di Bali ini kembali menjadi sorotan karena detail kisahnya yang brutal, penuh kelalaian manusia, serta berakhir dengan misteri jasad yang ditemukan ratusan kilometer dari lokasi awal. Lima penyelam berhasil selamat setelah bertahan hidup selama tiga hari, sementara dua lainnya meninggal dunia.
Kejadian ini berlangsung pada 14 Februari 2014, bertepatan dengan Hari Valentine. Tujuh perempuan tersebut bukan penyelam amatir. Mereka dijuluki The Magnificent Seven, terdiri dari lima wisatawan Jepang berpengalaman dan dua instruktur selam profesional yang menetap di Bali, yakni Shoko Takahashi (35) dan Saori Furukawa (37). Rata-rata telah mencatatkan lebih dari 50 kali penyelaman.
Menyelam di “Mesin Cuci” Nusa Penida
Tujuan mereka hari itu adalah perairan Mangrove Point, kawasan Nusa Lembongan–Nusa Penida yang terkenal indah sekaligus berbahaya. Di kalangan penyelam, wilayah ini dijuluki The Washing Machine karena arusnya berputar, naik-turun, dan sangat kuat akibat berada di jalur Indonesia Throughflow, arus besar penghubung Samudra Pasifik dan Hindia.
Awalnya penyelaman berjalan normal. Namun 20 menit setelah turun, cuaca berubah drastis. Langit menggelap, hujan deras turun, dan arus bawah laut menjadi sangat agresif. Para instruktur segera memutuskan abort dive dan naik ke permukaan. Dalam kondisi panik, ketujuh penyelam sempat berpegangan tangan, tetapi kekuatan arus memisahkan mereka satu per satu.
Saat berhasil muncul ke permukaan, mereka mendapati kenyataan paling mengerikan: kapal Ocean Express yang seharusnya menjemput sudah tidak ada.
Kelalaian Fatal Kapten Kapal
Belakangan terungkap, kapten kapal Agustinus Brata Kusuma meninggalkan lokasi penyelaman untuk mengisi bahan bakar tanpa mengikuti SOP keselamatan. Ia tidak memantau gelembung udara penyelam dan pergi selama 1–2 jam. Dalam waktu tersebut, arus Selat Lombok menyeret para penyelam hingga belasan kilometer ke arah selatan.
Tanpa makanan, air minum, atau alat komunikasi, para korban terpaksa bertahan hidup di laut lepas. Lima orang berhasil terdampar di karang terjal kawasan Manta Point setelah menghantamkan tubuh ke batu karang demi keluar dari air. Mereka bertahan dari dehidrasi dengan meminum air kelapa hanyut dan menadah air hujan menggunakan botol bekas.
Saori Furukawa terpisah sendiri, sementara Ritsuko Miata tidak pernah mencapai karang.
Lima Selamat, Dua Meninggal
Pada 17 Februari 2014, nelayan lokal menemukan lima penyelam dalam kondisi mengenaskan. Kulit terbakar matahari, bibir pecah-pecah, dan trauma berat. Mereka langsung dilarikan ke RSUP Sanglah, Bali.
Tak lama berselang, jasad Ritsuko Miata ditemukan di perairan Bali. Ia diidentifikasi melalui cincin pernikahan yang masih melekat di jarinya. Penyebab kematian dinyatakan akibat kelelahan ekstrem dan tenggelam.
Namun misteri terbesar datang sebulan kemudian. Pada 14 Maret 2014, nelayan di perairan Pulau Sempu, Malang, Jawa Timur, menemukan jasad seorang penyelam mengenakan wetsuit lengkap. Hasil tes DNA memastikan jenazah tersebut adalah Shoko Takahashi. Jasadnya diyakini terseret arus Samudra Hindia sejauh ratusan kilometer dari Bali ke pesisir selatan Jawa.
Vonis dan Pelajaran Pahit
Kasus ini berujung ke meja hijau. Agustinus Brata Kusuma divonis tiga tahun penjara atas kelalaiannya. Putusan tersebut menjadi tamparan keras bagi industri wisata bahari Indonesia.
Tragedi penyelam Jepang di Bali menjadi pengingat bahwa laut bukan sekadar destinasi wisata, melainkan alam buas yang tak bisa ditawar. Keselamatan, SOP ketat, dan tanggung jawab operator menjadi harga mati agar tragedi serupa tak terulang.
Editor : Natasha Eka Safrina