BULELENG - Pulau Bali tak hanya dikenal dengan pantai dan hiburan malamnya. Di wilayah Bali Utara, tepatnya Kabupaten Buleleng, berdiri sebuah tempat suci yang menawarkan ketenangan, sejarah panjang, sekaligus panorama alam menawan. Brahma Vihara Arama Bali menjadi destinasi yang semakin populer bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang mencari wisata spiritual dan suasana damai.
Berlokasi di Desa Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar, Brahma Vihara Arama Bali berjarak sekitar 19 kilometer dari Kota Singaraja atau dapat ditempuh sekitar 30 menit perjalanan darat. Akses menuju lokasi tergolong mudah karena kondisi jalan yang cukup baik. Vihara ini berada di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut, menjadikannya sejuk dan jauh dari hiruk pikuk permukiman warga.
Bagi pengunjung yang datang, Brahma Vihara Arama Bali menetapkan tiket masuk sebesar Rp35.000. Setiap pengunjung diwajibkan mengenakan kain atau kamen untuk menutup bagian bawah tubuh sebagai bentuk penghormatan terhadap kawasan suci. Pihak pengelola telah menyediakan berbagai pilihan kain bermotif khas Bali.
Sejarah Panjang Brahma Vihara Arama
Secara historis, Brahma Vihara Arama telah ada sejak tahun 1958. Awalnya, vihara ini berada di dekat kawasan Pemandian Air Panas Banjar dengan status lahan pinjaman. Wihara tersebut didirikan oleh seorang biksu bernama Giri Rakitotera atau Biksu Giri.
Seiring perkembangan umat Buddha, lokasi lama dianggap kurang memadai dan terlalu dekat dengan keramaian sehingga mengganggu aktivitas meditasi. Akhirnya, Biksu Giri membeli lahan baru di Desa Banjar Tegeha. Pembangunan vihara dimulai pada November 1970 dan mulai difungsikan sebagai tempat kebaktian pada Mei 1971.
Nama Brahma Vihara Arama memiliki makna filosofis yang dalam. “Brahma” melambangkan sifat luhur, “Vihara” berarti tempat tinggal biksu, sementara “Arama” diartikan sebagai taman. Secara keseluruhan, Brahma Vihara Arama dimaknai sebagai taman kedamaian yang luhur.
Pusat Meditasi dan Pendidikan Spiritual
Brahma Vihara Arama dikenal luas sebagai pusat meditasi Buddha di Bali. Wihara ini kerap digunakan untuk latihan meditasi intensif selama 7 hingga 17 hari. Kegiatan meditasi meliputi duduk bersila, meditasi berjalan, serta kebaktian rutin.
Tujuan utama latihan tersebut adalah untuk mengenal dan mengendalikan pikiran, membersihkan batin, serta mencapai kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Karena itu, vihara ini memiliki fungsi pendidikan, pembinaan umat, serta penyuluhan spiritual yang kuat.
Arsitektur Unik dan Daya Tarik Wisata
Dari sisi arsitektur, Brahma Vihara Arama tampil unik karena memadukan gaya Buddha dengan sentuhan khas Bali. Bangunannya berundak-undak menyerupai pura Hindu, lengkap dengan gerbang candi bentar di setiap halaman.
Di dalam kompleks vihara terdapat berbagai patung Buddha dengan beragam sikap tangan (mudra), patung Buddha Pari Nirwana berlapis emas, serta ornamen khas Bali. Beberapa patung diketahui merupakan sumbangan dari Thailand dan Sri Lanka.
Area vihara memiliki luas sekitar 1,5 hektare, dengan bangunan utama menempati sekitar 35 are. Sisanya berupa perkebunan yang mengelilingi vihara, menciptakan suasana hijau dan asri. Dari titik-titik tertentu, pengunjung dapat menikmati pemandangan laut dan perbukitan Bali Utara yang menenangkan.
Destinasi Favorit Wisatawan
Selain sebagai pusat spiritual, Brahma Vihara Arama Bali juga berfungsi sebagai objek wisata. Banyak wisatawan asing dari Inggris, Belanda, Amerika, hingga Australia yang berkunjung, bahkan mengikuti program meditasi.
Suasana yang tenang, udara sejuk, serta banyaknya spot foto menjadikan vihara ini cocok dikunjungi pada pagi hari sebelum matahari terbit atau sore menjelang senja. Burung-burung yang terbang bebas di area vihara semakin menambah kesan damai.
Bagi wisatawan yang ingin merasakan sisi Bali yang berbeda, Brahma Vihara Arama menjadi destinasi wajib yang menawarkan ketenangan batin, keindahan arsitektur, dan kekayaan nilai budaya.
Editor : Natasha Eka Safrina