RADAR TULUNGAGUNG – Suasana Ubud Januari 2026 menjadi sorotan setelah sebuah video virtual tour dari kanal YouTube Ju Abit memperlihatkan kondisi terkini kawasan wisata budaya tersebut.
Memasuki pertengahan Januari yang bertepatan dengan libur panjang, Ubud justru tampak lebih lengang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meski di beberapa titik lalu lintas tetap padat.
Dalam video yang direkam pada siang hari sekitar pukul 12.30 WITA, terlihat suasana Ubud Januari 2026 cenderung tenang dengan cuaca mendung ringan.
Jalan Pengosekan menjadi titik awal perjalanan virtual yang menampilkan aktivitas wisatawan yang masih berjalan kaki, nongkrong di kafe, serta lalu lalang kendaraan yang cukup padat namun tidak ekstrem.
Jalan Pengosekan dikenal sebagai salah satu kawasan favorit wisatawan karena fasilitasnya lengkap.
Mulai dari hotel, homestay ramah kantong, restoran, bar, hingga coffee shop berjajar di sepanjang ruas jalan ini.
Tak heran jika kawasan tersebut masih menjadi pilihan utama wisatawan asing maupun domestik untuk menginap saat berlibur ke Ubud.
Kondisi Jalan Monkey Forest dan Sentral Ubud
Memasuki Jalan Monkey Forest, suasana Ubud Januari 2026 menunjukkan ciri khasnya sebagai kawasan wisata yang nyaman untuk berjalan kaki.
Wisatawan asing terlihat santai menyusuri trotoar, sementara sejumlah kendaraan bermotor terparkir di sisi jalan.
Aktivitas kuliner di sekitar area ini juga masih berjalan, meski tidak seramai puncak liburan tahun lalu.
Beberapa titik perbaikan infrastruktur masih terlihat di kawasan Monkey Forest, termasuk area dekat gate objek wisata.
Meski demikian, patung dan ukiran khas Bali tetap memperkuat identitas budaya Ubud yang menjadi daya tarik utama wisatawan.
Kemacetan ringan terjadi di perempatan antara Monkey Forest dan Puri Saren Ubud. Lokasi ini memang dikenal sebagai simpul lalu lintas menuju Campuhan, Kintamani, Tegallalang, hingga Denpasar.
Meski volume kendaraan meningkat pada jam makan siang, kondisi tersebut dinilai masih lebih lengang dibandingkan situasi Ubud di tahun 2025.
Pasar Seni dan Jalan Kajeng Masih Jadi Favorit
Di sekitar Pasar Seni Ubud, aktivitas jual beli oleh-oleh tetap berlangsung. Wisatawan terlihat berburu kerajinan tangan, kain, hingga suvenir khas Bali. Namun, jumlah pengunjung pasar tampak menurun dibandingkan musim liburan sebelumnya.
Perjalanan berlanjut ke Jalan Kajeng, salah satu ruas jalan yang dikenal sebagai jalur jogging dan wisata alam persawahan.
Kawasan ini juga menjadi contoh kolaborasi antara warga lokal dan wisatawan asing dalam menjaga lingkungan.
Nama-nama donatur yang membantu paving jalan masih terpampang, menandakan kepedulian terhadap kawasan ini.
Bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh dengan harga lebih terjangkau, Jalan Kajeng tetap menjadi pilihan.
Interaksi langsung dengan pedagang lokal menjadi nilai tambah, sekaligus pengalaman budaya yang autentik.
Jalan Gotama dan Pesona Penginapan Warga
Jalan Gotama, yang dikenal sebagai salah satu jalan romantis di Ubud, masih mempertahankan pesonanya.
Penginapan kecil milik warga, warung lokal, serta suasana tenang menjadikan kawasan ini favorit wisatawan asing yang ingin menginap dekat pusat Ubud tanpa hiruk pikuk.
Meski demikian, suasana Ubud Januari 2026 memperlihatkan penurunan jumlah wisatawan domestik.
Beberapa faktor diduga memengaruhi kondisi ini, salah satunya harga tiket pesawat ke Bali yang dinilai cukup mahal dibandingkan destinasi luar negeri seperti Thailand.
Wisatawan Asing Masih Mendominasi
Meski jumlah wisatawan menurun, wisatawan asing masih mendominasi kunjungan ke Ubud.
Turis dari Jepang, Korea, India, hingga Eropa terlihat di berbagai titik, baik berjalan kaki maupun menggunakan sepeda motor.
Kehadiran mereka membantu menjaga denyut ekonomi lokal di tengah penurunan kunjungan wisatawan domestik.
Secara keseluruhan, suasana Ubud Januari 2026 dinilai ideal bagi wisatawan yang mencari ketenangan, pengalaman budaya, dan eksplorasi tanpa keramaian berlebihan.
Meski terdapat beberapa titik kemacetan akibat jalan sempit dan perbaikan infrastruktur, Ubud tetap menawarkan pesona khas Bali yang teduh, ramah, dan penuh nilai tradisi.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan