Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Wisata Buatan Jadi Motor Ekonomi Kreatif, ARKI Ungkap Pertumbuhan 35 Persen Pasca Pandemi dan Tantangan Overcrowded

Fadhilah Salsa Bella • Jumat, 23 Januari 2026 | 19:00 WIB

Wisata buatan tumbuh 35 persen pasca pandemi dan jadi motor ekonomi kreatif. ARKI soroti standar keamanan dan kolaborasi UMKM.
Wisata buatan tumbuh 35 persen pasca pandemi dan jadi motor ekonomi kreatif. ARKI soroti standar keamanan dan kolaborasi UMKM.
RADAR TULUNGAGUNG - kian menunjukkan peran strategis sebagai motor baru ekonomi kreatif Indonesia. Tren ini menguat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi, ketika pola konsumsi masyarakat terhadap hiburan dan rekreasi mengalami pergeseran signifikan.

Tak hanya menjadi tempat berlibur, wisata buatan kini berkembang menjadi ruang kolaborasi antara pelaku UMKM, industri kreatif, dan pemerintah daerah.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Rekreasi Keluarga Indonesia (ARKI), Taufik Awumu, mengungkapkan bahwa pertumbuhan sektor wisata buatan pasca pandemi mencapai 35 persen. Lonjakan tersebut terutama terjadi pada arena permainan yang berlokasi di pusat perbelanjaan.

“Setelah pandemi terjadi pergeseran besar di mall. Banyak toko buku, supermarket, hingga toko elektronik tutup. Ruang-ruang kosong itu kemudian diisi arena permainan dan family entertainment center,” ujarnya dalam program Jendela Negeri.

Menurut Taufik, pertumbuhan signifikan itu sekaligus memunculkan tantangan baru berupa kepadatan usaha sejenis atau overcrowded.

Kondisi tersebut berpotensi memicu persaingan ketat dan penurunan kualitas layanan apabila tidak diimbangi standar operasional yang jelas.

Baca Juga: Breaking News! Bus Harapan Jaya Tabrak Sejumlah Kendaraan di Perempatan Kemuning Kediri, Korban Bergelimpangan di Jalan

Wisata Buatan dan Peran UMKM

Di berbagai daerah, wisata buatan terbukti mendorong geliat UMKM lokal. Di Jambi, misalnya, taman kota, ruang terbuka hijau, hingga desa wisata buatan menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus ruang promosi produk ekonomi kreatif. Lapak-lapak UMKM hadir di sekitar kawasan wisata dan mendapatkan dampak langsung dari meningkatnya kunjungan.

Pelaku UMKM setempat mengaku terbantu dengan adanya destinasi wisata buatan. Ramainya pengunjung berdampak langsung pada peningkatan penjualan.

Konsep ini dinilai efektif karena tidak hanya mengandalkan wisata alam, tetapi menghadirkan alternatif rekreasi berbasis kreativitas lokal.

Fenomena serupa terlihat di Manokwari, Papua Barat. Sebuah taman hiburan di Kampung Aimasi SP3 menjadi pusat kegiatan masyarakat sekaligus ruang ekonomi kreatif.

Warga memanfaatkan keramaian pengunjung untuk menjajakan produk kuliner dan dagangan lokal. Aktivitas olahraga sore hingga kegiatan pemerintahan yang dipusatkan di lokasi tersebut turut menggerakkan roda ekonomi warga sekitar.

Baca Juga: Trip Pinisi Labuan Bajo, Jelajah Pulau Padar, Snorkeling Manta Point hingga Bertemu Komodo Secara Langsung

Standar Keamanan Jadi Sorotan

Meski pertumbuhan wisata buatan menjanjikan, aspek keamanan menjadi perhatian serius. Taufik menegaskan pentingnya penerapan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan perizinan berbasis risiko.

“Setiap usaha wisata buatan harus diaudit dan disertifikasi, baik dari sisi produk, pelayanan, maupun pengelolaan. Tanpa SOP yang jelas, risiko kecelakaan akan selalu ada,” tegasnya.

ARKI, lanjut dia, juga memberi perhatian khusus pada wahana hiburan berpindah atau mobile attraction seperti pasar malam. Selama ini, sektor tersebut dinilai minim pengawasan regulator, padahal memiliki potensi risiko tinggi.

Menurutnya, sertifikasi melalui lembaga independen yang terakreditasi menjadi langkah penting untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung.

Ia mendorong dinas pariwisata di daerah aktif melakukan sosialisasi dan supervisi agar pelaku usaha memahami kewajiban standar operasional.

Baca Juga: Pantai Watu Kodok Gunung Kidul, Surga Pasir Putih Favorit Camping dengan Tiket Rp15 Ribu yang Bisa Jelajahi Belasan Pantai

Strategi Kolaborasi dan Daya Tarik Unik

Dalam mendukung pertumbuhan berkelanjutan, Taufik menekankan tiga faktor utama pengembangan destinasi, yakni attraction (keunikan), accessibility (aksesibilitas), dan amenities (fasilitas pendukung).

Setiap daerah, kata dia, harus mampu mengidentifikasi daya tarik unik, baik berbasis budaya maupun alam, lalu mengombinasikannya dengan sentuhan kreatif wisata buatan. Kolaborasi antara wisata alam dan wahana buatan dinilai mampu memperluas segmentasi pasar.

Ia menambahkan, momentum libur Natal dan Tahun Baru, libur sekolah, serta Lebaran menjadi kontributor terbesar pendapatan sektor rekreasi, mencapai 70 hingga 80 persen dari total pendapatan tahunan.

Karena itu, pengelola destinasi perlu mempersiapkan strategi matang, termasuk kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif dan UMKM.

Ke depan, ARKI berharap kontribusi wisata buatan terhadap kunjungan wisatawan mancanegara yang saat ini masih sekitar 5 persen dapat terus meningkat melalui inovasi dan penguatan standar.

Dengan dukungan regulasi, kolaborasi lintas sektor, serta pengawasan yang konsisten, wisata buatan diyakini mampu menjadi pilar penting pertumbuhan ekonomi kreatif nasional sekaligus menciptakan destinasi yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Baca Juga: One Day Trip Labuan Bajo, Tracking Pulau Padar, Main di Pink Beach hingga Bertemu Komodo dan Manta Ray

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#ARKI #umkm #ekonomi kreatif #pariwisata indonesia #wisata buatan