Tak hanya menjadi tempat berlibur, wisata buatan kini berkembang menjadi ruang kolaborasi antara pelaku UMKM, industri kreatif, dan pemerintah daerah.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Rekreasi Keluarga Indonesia (ARKI), Taufik Awumu, mengungkapkan bahwa pertumbuhan sektor wisata buatan pasca pandemi mencapai 35 persen. Lonjakan tersebut terutama terjadi pada arena permainan yang berlokasi di pusat perbelanjaan.
“Setelah pandemi terjadi pergeseran besar di mall. Banyak toko buku, supermarket, hingga toko elektronik tutup. Ruang-ruang kosong itu kemudian diisi arena permainan dan family entertainment center,” ujarnya dalam program Jendela Negeri.
Menurut Taufik, pertumbuhan signifikan itu sekaligus memunculkan tantangan baru berupa kepadatan usaha sejenis atau overcrowded.
Kondisi tersebut berpotensi memicu persaingan ketat dan penurunan kualitas layanan apabila tidak diimbangi standar operasional yang jelas.
Wisata Buatan dan Peran UMKM
Di berbagai daerah, wisata buatan terbukti mendorong geliat UMKM lokal. Di Jambi, misalnya, taman kota, ruang terbuka hijau, hingga desa wisata buatan menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus ruang promosi produk ekonomi kreatif. Lapak-lapak UMKM hadir di sekitar kawasan wisata dan mendapatkan dampak langsung dari meningkatnya kunjungan.
Pelaku UMKM setempat mengaku terbantu dengan adanya destinasi wisata buatan. Ramainya pengunjung berdampak langsung pada peningkatan penjualan.
Konsep ini dinilai efektif karena tidak hanya mengandalkan wisata alam, tetapi menghadirkan alternatif rekreasi berbasis kreativitas lokal.
Fenomena serupa terlihat di Manokwari, Papua Barat. Sebuah taman hiburan di Kampung Aimasi SP3 menjadi pusat kegiatan masyarakat sekaligus ruang ekonomi kreatif.
Warga memanfaatkan keramaian pengunjung untuk menjajakan produk kuliner dan dagangan lokal. Aktivitas olahraga sore hingga kegiatan pemerintahan yang dipusatkan di lokasi tersebut turut menggerakkan roda ekonomi warga sekitar.
Standar Keamanan Jadi Sorotan
Meski pertumbuhan wisata buatan menjanjikan, aspek keamanan menjadi perhatian serius. Taufik menegaskan pentingnya penerapan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 6 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan perizinan berbasis risiko.
“Setiap usaha wisata buatan harus diaudit dan disertifikasi, baik dari sisi produk, pelayanan, maupun pengelolaan. Tanpa SOP yang jelas, risiko kecelakaan akan selalu ada,” tegasnya.
ARKI, lanjut dia, juga memberi perhatian khusus pada wahana hiburan berpindah atau mobile attraction seperti pasar malam. Selama ini, sektor tersebut dinilai minim pengawasan regulator, padahal memiliki potensi risiko tinggi.
Menurutnya, sertifikasi melalui lembaga independen yang terakreditasi menjadi langkah penting untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung.
Ia mendorong dinas pariwisata di daerah aktif melakukan sosialisasi dan supervisi agar pelaku usaha memahami kewajiban standar operasional.
Strategi Kolaborasi dan Daya Tarik Unik
Dalam mendukung pertumbuhan berkelanjutan, Taufik menekankan tiga faktor utama pengembangan destinasi, yakni attraction (keunikan), accessibility (aksesibilitas), dan amenities (fasilitas pendukung).
Setiap daerah, kata dia, harus mampu mengidentifikasi daya tarik unik, baik berbasis budaya maupun alam, lalu mengombinasikannya dengan sentuhan kreatif wisata buatan. Kolaborasi antara wisata alam dan wahana buatan dinilai mampu memperluas segmentasi pasar.
Ia menambahkan, momentum libur Natal dan Tahun Baru, libur sekolah, serta Lebaran menjadi kontributor terbesar pendapatan sektor rekreasi, mencapai 70 hingga 80 persen dari total pendapatan tahunan.
Karena itu, pengelola destinasi perlu mempersiapkan strategi matang, termasuk kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif dan UMKM.
Ke depan, ARKI berharap kontribusi wisata buatan terhadap kunjungan wisatawan mancanegara yang saat ini masih sekitar 5 persen dapat terus meningkat melalui inovasi dan penguatan standar.
Dengan dukungan regulasi, kolaborasi lintas sektor, serta pengawasan yang konsisten, wisata buatan diyakini mampu menjadi pilar penting pertumbuhan ekonomi kreatif nasional sekaligus menciptakan destinasi yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Editor : Fadhilah Salsa Bella