RADAR TULUNGAGUNG – Kawasan Malioboro Yogyakarta kembali dipadati wisatawan pada Sabtu malam (28/2/2026).
Meski sempat diguyur hujan deras sejak sore, antusiasme masyarakat untuk menghadiri Karnaval Imlek dalam rangka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke-21 tetap tinggi.
Acara yang dipusatkan di Titik Nol Kilometer Yogyakarta itu menjadi magnet utama wisata malam di kawasan Malioboro.
Selain karnaval budaya, sejumlah agenda lain seperti bazar UMKM di Teras Malioboro 1 serta festival kuliner di Kampung Ketandan turut meramaikan suasana.
Hujan yang turun cukup lebat tidak menyurutkan semangat peserta maupun pengunjung.
Sejak malam hari, berbagai pertunjukan budaya dan parade seni digelar sebagai bagian dari perayaan Imlek yang menjadi agenda tahunan kota budaya tersebut.
Karnaval Imlek Meriah di Titik Nol Kilometer
Suasana di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta terlihat meriah meski kondisi jalan sempat basah akibat hujan. Para peserta karnaval tetap tampil dengan kostum budaya yang menarik.
Beberapa penampilan yang disuguhkan antara lain tari tradisional hingga pertunjukan budaya yang menggambarkan keberagaman seni Tionghoa.
Salah satu peserta karnaval, Karla, mengaku sudah beberapa kali mengikuti acara serupa.
“Seru banget karena di sini kita bisa tampil bareng-bareng. Banyak pertunjukan juga, bukan cuma parade saja,” ujarnya.
Antusiasme penonton pun terlihat tinggi. Banyak wisatawan yang tetap bertahan menyaksikan pertunjukan meski hujan masih turun secara berkala.
Malioboro Tetap Ramai Meski Diguyur Hujan
Selepas dari Titik Nol Kilometer, suasana Malioboro tetap hidup dengan aktivitas wisata malam.
Sejumlah lokasi ikonik yang dilewati pengunjung antara lain Museum Benteng Vredeburg, Gedung Agung Yogyakarta, hingga kawasan pedestrian Jalan Margo Mulyo.
Benteng Vredeburg sendiri merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada 1787 oleh pemerintah kolonial Belanda.
Benteng tersebut kini berfungsi sebagai museum yang menampilkan berbagai diorama perjuangan bangsa Indonesia.
Di sepanjang kawasan tersebut, pengunjung juga dapat menemukan berbagai pusat oleh-oleh dan kerajinan, salah satunya Hamzah Batik, yang dikenal sebagai salah satu pusat penjualan batik terbesar di Yogyakarta.
Tak jauh dari lokasi itu terdapat Teras Malioboro 1, yang malam itu menjadi lokasi bazar UMKM. Beragam produk lokal hingga kuliner khas dijajakan oleh para pelaku usaha.
Kampung Ketandan Jadi Surga Kuliner Imlek
Salah satu lokasi yang paling ramai adalah Kampung Ketandan, kawasan pecinan bersejarah di jantung Kota Yogyakarta. Di tempat ini digelar bazar kuliner sebagai bagian dari rangkaian PBTY ke-21.
Tercatat sekitar 172 tenant ikut meramaikan bazar tersebut. Sebanyak 142 tenant menyediakan kuliner halal, sementara 30 lainnya menyajikan makanan non-halal.
Berbagai jenis makanan dijual di lokasi ini, mulai dari street food hingga kuliner khas Tionghoa.
Salah satu yang menarik perhatian adalah bakso mekar jumbo, yang memiliki tampilan unik menyerupai bunga saat disajikan.
“Prosesnya sekitar lima menit saja sampai jadi,” ujar Angga, salah satu pedagang kuliner di bazar tersebut.
Selain itu, pengunjung juga bisa mencicipi makanan khas Tionghoa seperti coipan, jajanan tradisional yang populer di Pontianak dan Singkawang.
Makanan ini berupa kue kukus berbahan tepung beras dengan isian sayuran seperti bengkuang atau kucai.
Tak hanya kuliner Nusantara dan Tionghoa, bazar tersebut juga menghadirkan berbagai jajanan internasional seperti Korean grill street food hingga aneka seafood bakar.
Wisata Malam Malioboro Tetap Hidup
Menjelang pukul 23.00 WIB, hujan kembali turun dengan intensitas cukup lebat. Meski begitu, kawasan Malioboro tetap dipenuhi wisatawan yang berjalan menyusuri jalur pedestrian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Malioboro tetap menjadi salah satu pusat wisata malam favorit di Yogyakarta, terutama saat digelar event budaya seperti Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta.
Perpaduan antara parade budaya, wisata sejarah, serta festival kuliner menjadikan kawasan ini semakin hidup dan menarik bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Dengan berbagai agenda budaya yang digelar, Malioboro kembali membuktikan diri sebagai ruang publik yang mampu menyatukan tradisi, wisata, dan ekonomi kreatif dalam satu kawasan yang ikonik.