RADAR TULUNGAGUNG – Festival Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke-21 kembali menghadirkan kemeriahan di kawasan Malioboro, Sabtu malam (28/2/2026).
Salah satu daya tarik utama acara tersebut adalah bazar kuliner di Kampung Ketandan, yang dipadati pengunjung meski hujan sempat mengguyur Kota Yogyakarta.
Bazar yang menjadi bagian dari perayaan Imlek 2026 ini menghadirkan ratusan pelaku usaha kuliner dan UMKM.
Total terdapat 172 tenant yang menjajakan berbagai makanan, mulai dari street food hingga kuliner khas Tionghoa.
Kehadiran bazar kuliner PBTY ini sekaligus menjadi salah satu magnet wisata malam di kawasan Malioboro Yogyakarta, yang sejak sore sudah dipadati wisatawan.
Kampung Ketandan, Pecinan Bersejarah di Malioboro
Kampung Ketandan merupakan kawasan pecinan bersejarah yang berada di jantung Kota Yogyakarta. Wilayah ini sudah ada sejak awal abad ke-19 dan dikenal sebagai pusat perdagangan komunitas Tionghoa di kota tersebut.
Nama Ketandan sendiri berasal dari kata “tondo”, yakni pejabat penarik pajak yang diberikan oleh Sultan kepada etnis Tionghoa yang tinggal di wilayah tersebut.
Ciri khas kawasan ini terlihat dari gapura merah bergaya arsitektur Tionghoa yang menjadi gerbang masuk ke Kampung Ketandan. Gapura tersebut juga menjadi salah satu ikon wisata budaya di Malioboro.
Saat festival berlangsung, kawasan ini berubah menjadi pusat kuliner yang ramai oleh pengunjung.
172 Tenant Kuliner Ramaikan Festival
Bazar kuliner PBTY 2026 menghadirkan ragam makanan yang menggugah selera. Dari total 172 tenant yang berpartisipasi, sekitar 142 tenant menyajikan makanan halal, sedangkan 30 tenant lainnya menyediakan kuliner non-halal.
Pengunjung dapat menemukan berbagai makanan seperti seafood bakar, sosis panjang, chicken roll, hingga aneka jajanan khas festival.
Salah satu menu yang cukup menarik perhatian adalah bakso mekar jumbo, kuliner unik yang disajikan dengan tampilan menyerupai bunga.
“Baksonya besar dan saat digoreng bisa mekar seperti bunga. Proses pembuatannya sekitar lima menit,” ujar Angga, salah satu pedagang.
Selain itu terdapat pula kuliner khas Tionghoa seperti coipan atau cai kue. Makanan ini merupakan kue kukus dengan kulit tipis berbahan tepung beras yang berisi sayuran seperti bengkuang atau kucai.
Coipan dikenal sebagai kuliner khas Pontianak dan Singkawang yang cukup populer di Kalimantan Barat.
Ragam Street Food dari Nusantara hingga Korea
Tak hanya makanan lokal, bazar ini juga menghadirkan berbagai jajanan internasional yang sedang tren.
Beberapa tenant menawarkan menu seperti Korean grill street food, termasuk kimchi beef roll yang dibuat dari irisan daging sapi yang digulung bersama kimchi dan jamur enoki sebelum dipanggang.
Selain itu terdapat pula aneka seafood seperti kerang bakar dan cumi bakar yang menjadi favorit pengunjung.
Keberagaman kuliner tersebut membuat bazar PBTY menjadi salah satu destinasi wisata kuliner yang menarik selama perayaan Imlek di Yogyakarta.
Hujan Tak Surutkan Antusias Pengunjung
Meski hujan sempat turun cukup deras sejak sore hari, kondisi tersebut tidak mengurangi jumlah pengunjung yang datang ke kawasan Malioboro.
Banyak wisatawan tetap berjalan menyusuri kawasan pedestrian untuk menikmati suasana festival budaya yang digelar di pusat kota tersebut.
Selain bazar kuliner di Kampung Ketandan, rangkaian acara PBTY ke-21 juga mencakup karnaval Imlek di Titik Nol Kilometer Yogyakarta serta bazar UMKM di Teras Malioboro.
Perpaduan antara pertunjukan budaya dan festival kuliner membuat kawasan Malioboro semakin hidup di malam hari.
Event budaya seperti ini juga dinilai mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi para pelaku UMKM lokal.