Tak heran jika desa wisata ini sering disebut sebagai salah satu desa terbersih di dunia dan menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana pedesaan khas Bali.
Desa Panglipuran terletak sekitar 60 kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai dengan waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan, tergantung kondisi lalu lintas.
Tiket Masuk Desa Panglipuran
Untuk masuk ke kawasan wisata ini, pengunjung diwajibkan membeli tiket masuk.
Harga tiketnya cukup terjangkau, yaitu:
-
Rp25.000 untuk wisatawan dewasa
-
Rp15.000 untuk anak-anak
Tiket dapat dibeli di beberapa loket yang tersedia di area desa wisata.
Selain tiket reguler, beberapa pengunjung juga memilih paket bundling dengan kafe atau restoran, sehingga tiket masuk sudah termasuk dengan menu makanan tertentu.
Asal Usul Nama Panglipuran
Nama Panglipuran memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan leluhur masyarakat Bali.
Secara etimologis, kata Panglipuran berasal dari:
-
Pengeling atau eling, yang berarti mengingat atau mengingatkan
-
Pura, yang berarti tempat atau tanah leluhur
Dengan demikian, Panglipuran dapat dimaknai sebagai tempat untuk mengenang atau mengingat asal-usul dan tanah leluhur.
Menurut sejarah, desa ini sudah ada sejak masa Kerajaan Bangli sekitar 700 tahun yang lalu.
Desa Terbersih dengan Banyak Penghargaan
Kebersihan dan kerapian lingkungan menjadi ciri khas utama Desa Panglipuran.
Desa ini bahkan pernah menerima sejumlah penghargaan di bidang lingkungan dan pariwisata, di antaranya:
-
Kalpataru
-
Indonesia Sustainable Tourism Award
-
Masuk daftar Top 100 Sustainable Destination versi Green Destinations Foundation.
Penghargaan tersebut diberikan karena keberhasilan desa dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mempertahankan budaya tradisional Bali.
Tata Ruang Desa Berdasarkan Konsep Tri Mandala
Sebagai desa adat, tata ruang Panglipuran dibangun berdasarkan filosofi Bali yang disebut Tri Mandala.
Konsep ini membagi wilayah desa menjadi tiga zona utama:
-
Utama Mandala
Area paling utara yang digunakan sebagai kawasan suci tempat pura dan kegiatan keagamaan. -
Madya Mandala
Wilayah tengah yang menjadi kawasan permukiman masyarakat. Rumah-rumah penduduk tersusun rapi di sepanjang jalan utama desa. -
Nista Mandala
Area paling selatan yang difungsikan sebagai tempat pemakaman warga desa.
Pembagian wilayah ini menunjukkan bagaimana masyarakat Panglipuran masih menjaga tata kehidupan yang berlandaskan adat dan tradisi.
Spot Foto, Souvenir, dan Sewa Baju Adat
Salah satu aktivitas favorit wisatawan di Desa Panglipuran adalah berburu foto di sepanjang jalan utama desa yang dipenuhi rumah tradisional Bali yang tertata rapi.
Banyak wisatawan juga menyewa pakaian adat Bali untuk berfoto dengan suasana desa yang autentik.
Harga sewa pakaian adat biasanya sekitar Rp50.000 per set. Selain itu, tersedia juga jasa fotografer lokal dengan tarif sekitar Rp5.000 per foto.
Di sepanjang kawasan desa, banyak rumah warga yang membuka usaha kecil seperti:
-
Penjualan souvenir khas Bali
-
Kerajinan tangan
-
Ikat kepala dan pakaian tradisional
-
Boneka dan kerajinan kayu
Hutan Bambu dan Wisata Kuliner
Selain area permukiman, Desa Panglipuran juga memiliki kawasan hutan bambu yang menjadi daya tarik wisata alam.
Di sekitar kawasan ini terdapat beberapa tempat makan dan kafe yang menawarkan berbagai pilihan menu, mulai dari masakan Bali, oriental, hingga western dengan harga sekitar Rp10.000 hingga Rp65.000.
Salah satu minuman khas yang bisa dicoba wisatawan adalah loloh cemcem, minuman tradisional Bali yang memiliki rasa unik perpaduan asam, manis, dan gurih.
Dengan suasana desa yang bersih, budaya yang masih terjaga, serta banyak spot foto menarik, Desa Panglipuran menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang wajib dikunjungi saat berlibur ke Bali.Baca Juga: Review Wisata Atlas Beach Fest Bali: Beach Club Terbesar di Dunia dengan Kolam 300 Meter dan Sunset Pantai Berawa yang Memikat
Editor : Fadhilah Salsa Bella