RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Kawah Ijen menjadi salah satu destinasi wisata alam di Jawa Timur yang menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, kawasan ini tidak hanya terkenal karena fenomena blue fire yang langka, tetapi juga memiliki danau kawah berwarna toska, jalur pendakian, panorama pegunungan, hingga aktivitas penambangan belerang.
Jalur Pendakian Kawah Ijen
Perjalanan menuju kawasan puncak dimulai dari Paltuding. Jarak pendakian sekitar 3,8 kilometer dengan waktu tempuh rata-rata 1,5 hingga 2 jam.
Jalur tersebut dinilai cukup ramah bagi pendaki pemula. Meski begitu, wisatawan tetap disarankan menjaga ritme perjalanan dan tidak terburu-buru. Mengatur napas serta memanfaatkan bagian jalur yang lebih landai untuk beristirahat menjadi salah satu cara agar perjalanan tetap nyaman.
Pada pagi hari, udara di kawasan pegunungan terasa sejuk. Jika memulai pendakian lebih awal, wisatawan bahkan dapat menikmati suasana langit yang masih gelap dengan taburan bintang.
Sepanjang perjalanan, pemandangan Gunung Ranti dan Gunung Raung dapat terlihat dari jalur pendakian. Paltuding perlahan tampak semakin kecil ketika wisatawan semakin mendekati puncak.
Di jalur tersebut juga sesekali terlihat sepeda motor. Kendaraan itu bukan milik wisatawan, melainkan kendaraan operasional yang digunakan petugas dengan izin khusus untuk menjalankan tugas di kawasan Kawah Ijen.
Sesampainya di atas, wisatawan akan disuguhi pemandangan danau kawah yang menjadi salah satu daya tarik utama. Warna toska pada permukaan danau terlihat semakin terang ketika terkena sinar matahari.
Baca Juga: Menjelajahi Wisata Beiji Guwang Hidden Canyon, Air Terjun Tukad Cepung, dan Blue Lagoon Sambangan
Blue Fire hingga Aktivitas Penambangan Belerang
Meski pemandangan siang hari sudah menarik, Kawah Ijen juga memiliki fenomena blue fire yang membuatnya dikenal hingga mancanegara. Fenomena api biru tersebut hanya dapat diamati pada malam hingga menjelang fajar.
Karena itu, wisatawan yang ingin melihat blue fire biasanya melakukan pendakian pada malam hari. Kondisi angin pada waktu tersebut juga cenderung lebih tenang dibandingkan ketika hari semakin siang.
Selain menikmati panorama, kawasan kawah juga memperlihatkan aktivitas penambangan belerang. Untuk menuju area tersebut, wisatawan harus menuruni jalur yang cukup curam dan berjalan dengan hati-hati.
Semakin mendekati dasar kawah, aroma belerang terasa semakin kuat. Asap putih juga dapat terbawa angin dan menutupi jalur secara tiba-tiba. Penggunaan masker menjadi penting karena arah angin dapat berubah.
Para penambang terlihat membawa dua keranjang bambu berisi bongkahan belerang berwarna kuning. Beban yang dibawa dapat mencapai puluhan hingga lebih dari 100 kilogram dalam sekali perjalanan.
Panorama dari Sisi Timur hingga Utara
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju sisi timur kawah. Kawasan ini terasa lebih sepi karena wisatawan mulai meninggalkan titik yang ramai.
Dari sisi tersebut, wisatawan dapat menikmati panorama Gunung Merapi yang berada dalam kompleks pegunungan Ijen. Hamparan langit biru, perbukitan hijau, dan danau kawah menciptakan lanskap yang menarik untuk diabadikan.
Tumbuhan cantigi ungu juga menjadi bagian dari pemandangan di sepanjang jalur. Tanaman tersebut tumbuh berdampingan dengan bebatuan vulkanik, memberikan kontras alami di lereng kawah.
Perjalanan berlanjut hingga sisi utara yang menjadi salah satu area terakhir yang dapat dijelajahi. Dari titik tertentu, wisatawan dapat melihat Gunung Baluran ketika cuaca cerah. Kawasan ini juga menjadi salah satu lokasi untuk menikmati matahari terbit.
Dengan berbagai daya tarik tersebut, Kawah Ijen menawarkan pengalaman wisata yang lebih luas daripada sekadar fenomena blue fire. Panorama kawah, jalur pendakian, pegunungan, hingga kehidupan para penambang menjadi bagian dari pengalaman yang membuat kawasan ini menarik untuk dikunjungi.
Baca Juga: Jalan Manding Pucanglaban Tulungagung Kini Mulus, Karya Bhakti TNI 2026 Resmi Ditutup
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest