Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Suasana Malioboro Saat Karnaval Imlek 2026 Diguyur Hujan, PBTY ke-21 Ketandan Tetap Dipadati Wisatawan

Fadhilah Salsa Bella • Minggu, 8 Maret 2026 | 19:40 WIB

Suasana Malioboro saat Karnaval Imlek 2026 tetap meriah meski hujan deras, PBTY ke-21 Ketandan dipadati wisatawan dan pemburu kuliner.
Suasana Malioboro saat Karnaval Imlek 2026 tetap meriah meski hujan deras, PBTY ke-21 Ketandan dipadati wisatawan dan pemburu kuliner.
RADAR TULUNGAGUNG – suasana Malioboro saat Karnaval Imlek 2026 tetap dipadati wisatawan meski hujan deras mengguyur kawasan pusat wisata Kota Yogyakarta, Sabtu malam (28/2/2026).

Sejumlah agenda besar seperti karnaval budaya, bazar UMKM, hingga pesta kuliner dalam rangka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke-21 tetap berlangsung meriah dan menyedot perhatian pengunjung.

Tingginya intensitas hujan sejak sore hari tidak menyurutkan antusiasme masyarakat yang ingin menikmati suasana Malioboro saat Karnaval Imlek 2026.

Ribuan warga tetap memadati kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta yang menjadi pusat penyelenggaraan karnaval budaya Tionghoa. Lampu-lampu kota yang memantul di genangan air justru menghadirkan panorama malam yang dramatis.

Selain di Titik Nol Kilometer, kemeriahan suasana Malioboro saat Karnaval Imlek 2026 juga terasa di kawasan Kampung Ketandan yang menjadi sentra kegiatan PBTY ke-21.

Kawasan pecinan bersejarah ini dipenuhi wisatawan yang berburu kuliner khas hingga menyaksikan pertunjukan seni budaya lintas etnis.

Baca Juga: Berita THR TPG Terbaru: Pemerintah Tetapkan Aturan Baru THR Guru 2026, Hanya Guru dengan 3 Kriteria Ini yang Berhak

Karnaval Imlek Semarak di Tengah Guyuran Hujan

Karnaval budaya yang digelar di kawasan Titik Nol Kilometer menampilkan parade seni tradisional, barongsai, serta pertunjukan tari dari berbagai komunitas. Meski payung bertebaran dan jas hujan dikenakan pengunjung, kemeriahan acara tetap terasa.

Sejumlah peserta karnaval mengaku senang bisa tampil dalam perayaan tahunan tersebut. Atraksi barongsai dan parade kostum bernuansa merah emas menjadi magnet utama bagi wisatawan yang mengabadikan momen perayaan.

Kawasan Titik Nol Kilometer sendiri merupakan simpul wisata bersejarah yang dikelilingi sejumlah bangunan ikonik seperti Benteng Vredeburg dan Gedung Agung Yogyakarta. Kombinasi latar bangunan kolonial dan semarak festival budaya menciptakan suasana khas yang sulit ditemukan di daerah lain.

Malioboro Tetap Ramai Meski Cuaca Tak Bersahabat

Memasuki kawasan pedestrian Jalan Malioboro, aktivitas wisata terlihat tetap hidup. Wisatawan tampak berjalan santai menikmati suasana malam, berbelanja suvenir, hingga mencicipi jajanan kaki lima yang berjejer di sepanjang trotoar.

Beberapa pusat perbelanjaan dan lokasi wisata tetap dipadati pengunjung, seperti Hamzah Batik yang dikenal sebagai pusat oleh-oleh dan kerajinan khas Jogja.

Di sisi lain, kawasan Teras Malioboro 1 menjadi lokasi digelarnya bazar UMKM yang menawarkan produk lokal kreatif.

Tak jauh dari kawasan tersebut berdiri Pasar Beringharjo, pasar tradisional legendaris yang masih menjadi tujuan wisata belanja favorit.

Meski diguyur hujan, geliat ekonomi masyarakat tetap berjalan dengan aktivitas jual beli yang relatif ramai.

Baca Juga: Berita THR TPG Terbaru 2026: Tidak Semua Guru Terima TPG dalam THR, Ini 3 Kriteria Guru ASN Bersertifikat yang Diprioritaskan

Kampung Ketandan Diserbu Pemburu Kuliner

Kemeriahan PBTY ke-21 paling terasa di Kampung Ketandan. Gapura merah bergaya arsitektur Tionghoa menjadi penanda kawasan pecinan yang malam itu dipenuhi pengunjung.

Sebanyak ratusan stan kuliner berjajar menawarkan aneka makanan, mulai dari jajanan kaki lima hingga hidangan khas Tionghoa. Mayoritas stan menyajikan menu halal, sementara sebagian lainnya menawarkan kuliner non-halal.

Pengunjung tampak antusias mencicipi aneka sajian seperti bakso jumbo, seafood bakar, hingga jajanan tradisional Tionghoa.

Salah satu yang menarik perhatian adalah coipan, kudapan khas Kalimantan Barat berbahan tepung beras dengan isian sayuran yang disajikan hangat.

Pedagang mengaku penjualan tetap stabil meski hujan turun cukup deras. Akhir pekan menjadi momentum peningkatan jumlah pembeli yang datang bersama keluarga maupun rombongan wisata.

Wisata Sejarah Ikut Menjadi Daya Tarik

Selain festival budaya dan wisata kuliner, kawasan Malioboro juga dikenal sebagai pusat wisata sejarah. Wisatawan dapat menjumpai Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta yang kini tampil lebih tertata sebagai bagian dari sumbu filosofi kota.

Tak jauh dari sana berdiri Keraton Yogyakarta sebagai simbol kebudayaan Jawa yang masih lestari. Revitalisasi sejumlah kawasan membuat wajah pusat kota semakin rapi tanpa meninggalkan nilai historisnya.

Hujan yang turun sepanjang malam justru menghadirkan nuansa romantis khas Kota Gudeg. Pantulan cahaya lampu jalan di genangan air menciptakan suasana hangat bagi wisatawan yang menikmati liburan malam.

Meski cuaca kurang bersahabat, rangkaian agenda budaya tetap berjalan sukses. Perayaan lintas budaya ini menegaskan Yogyakarta sebagai kota wisata yang kaya tradisi dan toleransi.

Baca Juga: Sertifikasi Guru Terbaru 2026 Resmi Diatur: Guru ASN Berpeluang Dapat TPG Tambahan dalam THR dan Gaji 13

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#Tradisi Ramadan Berbagai Negara #suasana Malioboro malam hari #Kampung Ketandan Yogyakarta #wisata Jogja terkini #pembatasan sosmed pada anak