RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Keikhlasan dan kesabaran menjadi kunci bagi Yanto dalam merawat dan melakukan terapi terhadap pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sempat mendapatkan tentangan dari sang istri, pria asal Desa Kendal, Kecamatan Gondang, itu membuktikan bahwa pasien ODGJ bisa dibenahi. Bahkan bisa disembuhkan apabila penanganannya tepat.
Sebelumnya, Yanto memang mempunyai riwayat sebagai terapis yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat ODGJ. Bukan di Tulungagung, melainkan di Yayasan Jamrud Biru yang ada di Kota Bekasi, Jawa Barat, sejak 2016. Seiring berjalannya waktu, ada keluarga pasien ODGJ dari Tulungagung yang mengobatkan keluarganya sampai Bekasi. “Karena di Tulungagung waktu itu masih belum ada tempat rehabilitasi bagi penderita, makanya saya diminta untuk membuka sendiri di sini (Tulungagung),” ujar pria 42 tahun tersebut.
Pada 2020, Yanto memutuskan untuk pulang ke Tulungagung untuk mengabadikan diri merawat ODGJ, serta membuat rumah singgah bernama Yayasan Lentera Putih di Desa Kendal, Kecamatan Gondang. Di sana, ada sekitar lima sahabat disabilitas mental dengan penyebab yang bermacam-macam. Ada yang karena putus cinta, urusan rumah tangga, hingga kemasukan barang gaib saat mandi di sungai.
Dia bercerita bahwa pada awal pembukaan rumah singgah tersebut memang mengandalkan fasilitas seadanya. Pun, pasien yang tinggal serumah dengan keluarganya membuat istrinya tidak betah dengan keadaan waktu itu. Bagaimana tidak, pasien ODGJ tidak jarang melakoni berbagai aktivitas nyeleneh seperti mencoret-coret tembok atau yang lainnya. “Sempat diusir oleh istri saya malam-malam, hampir saja saya terpancing untuk angkat kaki dari rumah ini. Tapi saya pikir balik dan harus sabar, mungkin ini adalah sebuah ujian agar saya bisa ikhlas merawat semua ini,” katanya pada Rabu (14/5).
Empat bulan pertama mendirikan yayasan tersebut menjadi cobaan yang berat bagi Yanto. Mungkin hanya keikhlasan dan kesabaran dalam menerima pasien serta meyakinkan istrinya akan jalan hidup yang dipilih, yakni merawat pasien ODGJ. “Lalu, setelah 5-6 bulan berjalan, alhamdulillah semakin memahami. Pada bulan ke-7, bahkan istri saya sudah bisa menyesuaikan diri sampai ikut nimbrung merawat pasien ODGJ,” ungkap Yanto.
Meski Yayasan Lentera Putih sudah lama didirikan, tetapi saat ini masih melakukan proses pengurusan izin dan legalitas. Apabila kekurangan dalam hal materi, Yanto harus mengeluarkan biaya dari rekening pribadinya. Di samping itu, dia juga tidak pernah mematok harga bagi keluarga pasien yang menitipkan anggota keluarganya.
Yanto sadar betul bahwa tidak semua latar belakang keluarga pasien ODGJ berasal dari kalangan mampu. Kadang kala ada keluarga pasien yang memberikan Rp 1,5 juta atau Rp 300 ribu juta setiap bulannya untuk biaya makan dan bermukim di rumahnya. “Saya terima dengan senang hati, tidak jadi kendala. Keluarga pasien yang memberikan uang besar bisa menutup keluarga pasien lainnya yang bisa memberi dalam jumlah yang kecil,” katanya.
Yanto mengungkapkan, proses terapi pasien ODGJ yang dijalankannya tidaklah menggunakan obat-obatan. Namun, menggunakan metode pijat saraf pada bagian kaki. Menurut dia, pasien akan merasa nyaman setelah dipijat. Para pasien yang berhalusinasi dan susah tidur menjadi gampang tidur.
Selain itu, pasien di rumah singgahnya diajari senam, mengaji, bersalawat, jalan-jalan, sampai menyanyi setiap harinya. Seminggu sekali, pasien OGDJ juga diajak untuk melaksanakan ibadah salat Jumat di masjid yang berada di sekitar yayasan miliknya. “Pasien ODGJ rata-rata dikucilkan dari keluarga. Mereka masih bisa dibenahi, bahkan masih bisa sembuh dengan penanganan yang tepat,” tegas Yanto.(*/c1/rka)
Editor : Nurul Hidayah