KOTA BLITAR - Jenang atau bubur sumsum masih menjadi favorit sejumlah masyarakat. Biasanya kudapan ini digunakan sebagai pengganjal perut di pagi hari sebelum sarapan. Sering juga dikonsumsi ketika sedang sakit. Sebab, bubur sumsum memiliki tekstur yang lembut sehingga mudah ditelan.
Dulu penjual bubur sumsum hanya ditemui di pasar tradisional. Saat ini sudah banyak pedagang bubur sumsum di pinggir jalan. Bubur sumsum atau jenang sumsum memiliki tekstur yang lembut. Bahannya terbuat dari tepung beras dan santan. “Pakai santan yang kental kalau mau rasanya tambah gurih,” ujar salah satu penjual jenang sumsum, Riani Anisa, kemarin (30/6).
Perempuan yang meneruskan usaha keluarga ini mengaku, bahan untuk membuat bubur sumsum tidak banyak. Yaitu, tepung beras, santan, garam, gula merah, dan daun pandan. Cara membuatnya pun tidak sulit. Tepung beras dimasak dengan santan sampai mengental. “Supaya aromanya tambah sedap ditambah dengan daun pandan. Terus diaduk supaya tidak gosong,” jelasnya.
Menurutnya, kunci untuk menciptakan rasa pas pada jenang sumsum adalah takaran santan yang pas serta penambahan daun pandan. “Santannya harus kental. Karena masih memiliki rasa asli kelapa. Beda kalau cair, nanti kandungan santan akan berkurang,” paparnya.
Dulu, lanjut dia, jenang sumsum hanya disajikan dengan kuah gula merah. Seiring berjalannya waktu ditambah dengan toping yang bervariasi. Makanya saat ini sering juga disebut jenang campur. Topingnya meliputi mutiara, jenang gendul, agar-agar, ketan hitam, roti tawar, dan dawet. “Opsional sebenarnya. Kalau mau jenang putihnya saja juga bisa,” terangnya.
Jenang sumsum miliknya dijual dengan harga Rp 3 ribu. Cukup murah dengan isian yang lumayan untuk sekedar mengganjal rasa lapar. Tak heran, jenang sumsum miliknya ramai dijunjungi konsumen di hari Minggu. Tak hanya itu, di juga menerima pesanan jenang sumsum untuk beberapa acara. (mg2/hai)
Editor : Doni Setiawan