26.1 C
Tulungagung
Saturday, August 13, 2022

9 Bulan, 154 Pasien Terjangkit DBD

TRENGGALEK – Di musim kemarau seperti saat ini, masyarakat Kota Keripik Tempe harus tetap mewaspadai bahayavirus demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, hingga kemarin (9/10) masih ada sejumlah masyarakat mengidap penyakit yang penularannya melalui nyamuk jenis Aedes aegypti tersebut.

Berdasarkan data yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek, dari 22 puskesmas yang ada di 14 kecamatan wilayah Trenggalek, mulai Januari hingga September kemarin ada total ada 154 pasien DBD. Dari jumlah tersebut, terbanyak terdapat di Puskesmas Suruh dengan 25 pasien DBD. Disusul Puskesmas Pule dengan 24 pasien DBD.

Sedangkan untuk jumlah pasien tersedikit terjadi di Puskesmas Pandean, Bodag, dan Kampak, dengan tidak ada pasien DBD.

“Kendati demikian, kami berharap agar masyarakat jangan terlena dan selalu mengantisipasi terkait kemungkinan jentik-jentik nyamuk yang berpotensi menyebabkan penyakit DBD,” ungkap Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek Sugito Teguh.

Dia melanjutkan, kemungkinan bulan depan akan turun hujan sehingga akan terdapat genangan air di tempat tertentu yang bisa menjadi sarang jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti. Itu dikhususkan untuk daerah yang menjadi endemis DBD, seperti di daerah Kecamatan Trenggalek, Tugu, Durenan, Pule, dan Suruh. Sehingga perlu dilakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan mengubur, menguras, dan menutup (3M).

“Ini telah banyak kami sosialisasikan agar masyarakat selalu waspada. Jika ada yang terjangkit, pastinya kami akan memutus rantai penularan dengan fogging,” ungkapnya.

Jika dibandingkan tahun lalu, jumlah penderita DBD mengalami penurunan lebih dari setengahnya. Ini terlihat mulai Januari hingga September 2017, jumlah penderita DBD sebanyak 362 pasien.

Dari jumlah tersebut, terbanyak juga terdapat di Kecamatan Suruh dengan 98 pasien. Disusul Kecamatan Pule dengan 58 pasien. Kendati demikian, dinkesdalduk KB tetap melakukan berbagai macam cara pencegahan. Seperti menyiagakan kader jumantik, menyediakan abate bagi yang membutuhkan, serta menyiapkan obat fogging jika ada masyarakat yang terjangkit.

“Obat fogging yang tersedia cukup hingga akhir tahun ini, semoga saja DBD tidak separah pada 2016 lalu yang terdapat hujan sepanjang tahun, “ jelas pria yang juga seorang dokter tersebut. (jaz/ed/tri)

 

TRENGGALEK – Di musim kemarau seperti saat ini, masyarakat Kota Keripik Tempe harus tetap mewaspadai bahayavirus demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, hingga kemarin (9/10) masih ada sejumlah masyarakat mengidap penyakit yang penularannya melalui nyamuk jenis Aedes aegypti tersebut.

Berdasarkan data yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek, dari 22 puskesmas yang ada di 14 kecamatan wilayah Trenggalek, mulai Januari hingga September kemarin ada total ada 154 pasien DBD. Dari jumlah tersebut, terbanyak terdapat di Puskesmas Suruh dengan 25 pasien DBD. Disusul Puskesmas Pule dengan 24 pasien DBD.

Sedangkan untuk jumlah pasien tersedikit terjadi di Puskesmas Pandean, Bodag, dan Kampak, dengan tidak ada pasien DBD.

“Kendati demikian, kami berharap agar masyarakat jangan terlena dan selalu mengantisipasi terkait kemungkinan jentik-jentik nyamuk yang berpotensi menyebabkan penyakit DBD,” ungkap Kepala Dinkesdalduk KB Trenggalek Sugito Teguh.

Dia melanjutkan, kemungkinan bulan depan akan turun hujan sehingga akan terdapat genangan air di tempat tertentu yang bisa menjadi sarang jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti. Itu dikhususkan untuk daerah yang menjadi endemis DBD, seperti di daerah Kecamatan Trenggalek, Tugu, Durenan, Pule, dan Suruh. Sehingga perlu dilakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan mengubur, menguras, dan menutup (3M).

“Ini telah banyak kami sosialisasikan agar masyarakat selalu waspada. Jika ada yang terjangkit, pastinya kami akan memutus rantai penularan dengan fogging,” ungkapnya.

Jika dibandingkan tahun lalu, jumlah penderita DBD mengalami penurunan lebih dari setengahnya. Ini terlihat mulai Januari hingga September 2017, jumlah penderita DBD sebanyak 362 pasien.

Dari jumlah tersebut, terbanyak juga terdapat di Kecamatan Suruh dengan 98 pasien. Disusul Kecamatan Pule dengan 58 pasien. Kendati demikian, dinkesdalduk KB tetap melakukan berbagai macam cara pencegahan. Seperti menyiagakan kader jumantik, menyediakan abate bagi yang membutuhkan, serta menyiapkan obat fogging jika ada masyarakat yang terjangkit.

“Obat fogging yang tersedia cukup hingga akhir tahun ini, semoga saja DBD tidak separah pada 2016 lalu yang terdapat hujan sepanjang tahun, “ jelas pria yang juga seorang dokter tersebut. (jaz/ed/tri)

 

Artikel Terkait


Most Read


Artikel Terbaru

/