26.1 C
Tulungagung
Saturday, August 13, 2022

Tak Jual di Pasar Hewan, Waspadai Hewan Sakit

 KOTA, Radar Trenggalek – Pandemi Covid-19 membuat intensitas pedagang di pasar hewan belum normal. Kondisi ini dikhawatirkan membuka celah pedagang untuk memperjualbelikan hewan ternak yang tak memenuhi standar penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmasvet) Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Trenggalek Ririn Harisetyani mengungkapkan, pihaknya telah mengecek dua pasar hewan kemarin (20/7), yakni di Pasar Hewan Kampak, dan Tugu. Menurut dia, intensitas pedagang tidak membeludak seperti tahun-tahun yang sebelumnya. “Tahun kemarin itu banyak, padat sekali,” ungkapnya.

Terhitung, ada 60 orang pedagang yang berjualan di Pasar Hewan Kampak. Sementara, melihat dari kisaran hewan ternak yang diperjualbelikan ada mencapai 160 ekor. Dia pun memprediksikan, total hewan yang diperjualbelikan mencapai 200 lebih ekor di pasar hewan tersebut.

Melihat dari jenisnya, kata dia, jenis ternak yang diperjualbelikan untuk ketiga pasar masih sebatas kambing, belum ada sapi. “Kambing jenis PE dan kacang,” kata dia. 

Dia tak memungkiri, intensitas jual-beli hewan ternak di pasar belum stabil. Ketidakstabilan itu dapat disebabkan hari-H Idul Adha masih sekitar dua pekan ke depan. Selain itu, bisa juga dipengaruhi karena adanya pandemi Covid-19. “Jadi belum tentu terindikasi terjadi penurunan atau belum waktunya ramai,” tegasnya.

 Di balik itu, pedagang yang enggan menperjualbelikan hewan ternak melalui pasar. Hal itu memunculkan celah pedagang yang menjual ternak tak sesuai standar penyembelihan hewan kurban. Ririn tak mengakui hal itu dapat terjadi. Namun, ada surat keterangan (suket) sehat hewan ketika penjualan hingga ke luar daerah. “Suket hewan itu dikeluarkan dari dinas. Dari situ kita bisa mengontrol kesehatan hewannya,” ujarnya.

 Wanita berjilbab itu meyakini, masyarakat sudah banyak yang mengetahui kriteria-kriteria hewan ternak yang sehat atau sakit. “Sebagaimana syarat hewan kurban, tidak cacat dan dalam kondisi sehat, pasti pembeli juga teliti,” ungkapnya.

Hasil pengecekan kesehatan hewan sementara ini, ujar Ririn, belum ditemui hewan-hewan yang sakit diperjualbelikan di pasar. Selain itu, umur kambing yang dijual juga sudah memenuhi standar. Pengecekan dengan merujuk SE di tengah pandemi Covid-19 dari Kementan. Mulai physical distancing, pemakaian masker, dan sebagainya. “Semisal terjangkit cacingan tidak, rabies tidak, atau mencret,” kata dia. (*)

 KOTA, Radar Trenggalek – Pandemi Covid-19 membuat intensitas pedagang di pasar hewan belum normal. Kondisi ini dikhawatirkan membuka celah pedagang untuk memperjualbelikan hewan ternak yang tak memenuhi standar penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmasvet) Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Trenggalek Ririn Harisetyani mengungkapkan, pihaknya telah mengecek dua pasar hewan kemarin (20/7), yakni di Pasar Hewan Kampak, dan Tugu. Menurut dia, intensitas pedagang tidak membeludak seperti tahun-tahun yang sebelumnya. “Tahun kemarin itu banyak, padat sekali,” ungkapnya.

Terhitung, ada 60 orang pedagang yang berjualan di Pasar Hewan Kampak. Sementara, melihat dari kisaran hewan ternak yang diperjualbelikan ada mencapai 160 ekor. Dia pun memprediksikan, total hewan yang diperjualbelikan mencapai 200 lebih ekor di pasar hewan tersebut.

Melihat dari jenisnya, kata dia, jenis ternak yang diperjualbelikan untuk ketiga pasar masih sebatas kambing, belum ada sapi. “Kambing jenis PE dan kacang,” kata dia. 

Dia tak memungkiri, intensitas jual-beli hewan ternak di pasar belum stabil. Ketidakstabilan itu dapat disebabkan hari-H Idul Adha masih sekitar dua pekan ke depan. Selain itu, bisa juga dipengaruhi karena adanya pandemi Covid-19. “Jadi belum tentu terindikasi terjadi penurunan atau belum waktunya ramai,” tegasnya.

 Di balik itu, pedagang yang enggan menperjualbelikan hewan ternak melalui pasar. Hal itu memunculkan celah pedagang yang menjual ternak tak sesuai standar penyembelihan hewan kurban. Ririn tak mengakui hal itu dapat terjadi. Namun, ada surat keterangan (suket) sehat hewan ketika penjualan hingga ke luar daerah. “Suket hewan itu dikeluarkan dari dinas. Dari situ kita bisa mengontrol kesehatan hewannya,” ujarnya.

 Wanita berjilbab itu meyakini, masyarakat sudah banyak yang mengetahui kriteria-kriteria hewan ternak yang sehat atau sakit. “Sebagaimana syarat hewan kurban, tidak cacat dan dalam kondisi sehat, pasti pembeli juga teliti,” ungkapnya.

Hasil pengecekan kesehatan hewan sementara ini, ujar Ririn, belum ditemui hewan-hewan yang sakit diperjualbelikan di pasar. Selain itu, umur kambing yang dijual juga sudah memenuhi standar. Pengecekan dengan merujuk SE di tengah pandemi Covid-19 dari Kementan. Mulai physical distancing, pemakaian masker, dan sebagainya. “Semisal terjangkit cacingan tidak, rabies tidak, atau mencret,” kata dia. (*)

Artikel Terkait


Most Read


Artikel Terbaru

/