24.2 C
Tulungagung
Saturday, August 13, 2022

Faskes Sulit Sesuaikan Tarif Rapid Test

KOTA, Radar Tulungagung – Meskipun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/I/2875/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antibodi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung mengaku kesulitan untuk melakukan penyesuaian tarif. Terutama pada fasilitas kesehatan (faskes) swasta. Sebab, beberapa faskes ini masih menyediakan rapid test dengan stok lama dengan harga di atas Rp 150 ribu. “Belum semua faskes bisa melakukan penyesuaian tarif seperti SE tersebut karena memang ada beberapa yang masih memiliki stok lama dengan harga di atas Rp 150 ribu,” jelas Sekretaris Dinkes Tulungagung Anna Sapti Saripah.

Namun, Anna menjamin jika masyarakat merasa membutuhkan rapid test untuk keperluan penting seperti melanjutkan studi ke luar kota bagi pelajar atau mahasiswa, dapat langsung mendatangi puskesmas setempat. Sebab, tidak akan dipungut biaya sepeser pun. Disinggung mengenai berapa jumlah faskes yang kesulitan melakukan penyesuaian tarif, dia pun tidak dapat menyebutkan dengan pasti. Sebab, masih dalam proses pendataan. “Jumlahnya berapa yang kesulitan, kami masih melakukan pendataan. Namun jika ada masyarakat yang mengetahui hal tersebut, dapat melaporkan ke kami,” terangnya.

Anna tak menampik penyesuaian tarif tidak dapat dilakukan dengan instan. Terlebih jika masih banyak faskes yang memiliki stok lama dengan harga beli masih cukup mahal. Sama seperti beberapa waktu lalu ketika wabah Covid-19 menyerang, harga kebutuhan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dan hand sanitizer begitu meroket di pasaran bahkan hingga terjadi kelangkaan. “Nanti jika stok lama ini sudah habis, tentu mereka baru dapat melakukan penyesuaian tarif,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, rapid diagnostic test (RDT) kini telah menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat. Terutama bagi yang akan melakukan perjalanan ke luar kota maupun melanjutkan studi ke luar kota. Tak heran jika kini semakin banyak fasilitas kesehatan (faskes) yang menyediakan layanan untuk melakukan RDT. Selain itu, melalui uji RDT, petugas dapat mengetahui kondisi awal (screening) terhadap kondisi kesehatan seseorang apakah terpapar virus korona atau tidak.

Meski demikian, mahalnya tarif untuk melakukan uji RDT banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Untuk itu, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan surat edaran mengenai batas tertinggi tarif uji RDT. Dalam edaran yang dikeluarkan sekitar awal Juli ini, tarif uji RDT dipatok maksimal Rp 150 ribu. (*)

KOTA, Radar Tulungagung – Meskipun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/I/2875/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antibodi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung mengaku kesulitan untuk melakukan penyesuaian tarif. Terutama pada fasilitas kesehatan (faskes) swasta. Sebab, beberapa faskes ini masih menyediakan rapid test dengan stok lama dengan harga di atas Rp 150 ribu. “Belum semua faskes bisa melakukan penyesuaian tarif seperti SE tersebut karena memang ada beberapa yang masih memiliki stok lama dengan harga di atas Rp 150 ribu,” jelas Sekretaris Dinkes Tulungagung Anna Sapti Saripah.

Namun, Anna menjamin jika masyarakat merasa membutuhkan rapid test untuk keperluan penting seperti melanjutkan studi ke luar kota bagi pelajar atau mahasiswa, dapat langsung mendatangi puskesmas setempat. Sebab, tidak akan dipungut biaya sepeser pun. Disinggung mengenai berapa jumlah faskes yang kesulitan melakukan penyesuaian tarif, dia pun tidak dapat menyebutkan dengan pasti. Sebab, masih dalam proses pendataan. “Jumlahnya berapa yang kesulitan, kami masih melakukan pendataan. Namun jika ada masyarakat yang mengetahui hal tersebut, dapat melaporkan ke kami,” terangnya.

Anna tak menampik penyesuaian tarif tidak dapat dilakukan dengan instan. Terlebih jika masih banyak faskes yang memiliki stok lama dengan harga beli masih cukup mahal. Sama seperti beberapa waktu lalu ketika wabah Covid-19 menyerang, harga kebutuhan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dan hand sanitizer begitu meroket di pasaran bahkan hingga terjadi kelangkaan. “Nanti jika stok lama ini sudah habis, tentu mereka baru dapat melakukan penyesuaian tarif,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, rapid diagnostic test (RDT) kini telah menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat. Terutama bagi yang akan melakukan perjalanan ke luar kota maupun melanjutkan studi ke luar kota. Tak heran jika kini semakin banyak fasilitas kesehatan (faskes) yang menyediakan layanan untuk melakukan RDT. Selain itu, melalui uji RDT, petugas dapat mengetahui kondisi awal (screening) terhadap kondisi kesehatan seseorang apakah terpapar virus korona atau tidak.

Meski demikian, mahalnya tarif untuk melakukan uji RDT banyak dikeluhkan oleh masyarakat. Untuk itu, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan surat edaran mengenai batas tertinggi tarif uji RDT. Dalam edaran yang dikeluarkan sekitar awal Juli ini, tarif uji RDT dipatok maksimal Rp 150 ribu. (*)

Artikel Terkait


Most Read


Artikel Terbaru

/