29.2 C
Tulungagung
Saturday, August 13, 2022

Lahan Perkebunan Jadi Bisnis Makam Elit

KOTA, Radar Tulungagung – Bisnis makam elit di kawasan selatan Tulungagung tampaknya diminati investor. Menawarkan konsep eksklusivitas dan membidik kalangan menengah atas jadi sasaran. Niatan untuk mewujudkan hal tersebut bukan wacana lagi. Proses tahapannya kini sudah dilalui, termasuk perizinan.

Berbagai proses perizinan hingga sosialisasi pun sudah dilaksanakan pengembang. “Sudah dua kali sosialisasi. Sosialisasi waktu itu dengan berbagai instansi terkait maupun warga,” terang Kabid Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung Makrus Manan, kemarin (27/6).

Di samping sosialisasi, ada tahapan konsultasi publik. Dengan harapan, dapat masukan dan saran dari berbagai pihak terkait, terutama warga sekitar. Tahap selanjutnya, pembuatan kerangka acuan (KA). Pada tahapan itu, dokumen berisi seputar pengelolaan kawasan makam yang sebelumnya merupakan perkebunan kakao. Dari pihak investor PT Sang Lestari Abadi sudah membuat KA. Namun dari sidang dengan tim teknis, masih ada pembenahan. “Sidang KA ini melibatkan dinas pekerjaan umum, badan perencanaan pembangunan daerah, dinas pariwisata, tenaga ahli dari Universitas Brawijaya, dan lain-lain,” terang pria tersebut.

Jika memang saran dari tim teknis sudah dilakukan perbaikan terkait KA, maka ada sidang lagi. Nah ketika tidak ada persoalan, bisa masuk ke tahapan penyusunan rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL). Dokumen RKL/RPL itu menyangkut prakonstruksi, konstruksi, proses pembangunan, hingga pengelolaan. Artinya, tahapan ini tetap akan melalui sidang teknis untuk memberikan masukan pada konsultan dari pengembang.

Hal sama juga jika RKL/RPL ada pembenahan, konsultan harus melaksanakan rekomendasi tim teknis. Jika dokumen tidak ada persoalan, bisa diterbitkan surat keterangan lingkungan hidup (SKKL). “Ada tiga tahapan; KA, RKL dan RPL, dan SKKL, harus dilalui dalam perizinan ini. Mirip melaksanakan skripsi, ada bab pertama hingga keempat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, tim teknis sudah pernah studi banding di San Diego Hill Karawang yang memiliki lokasi pemakaman elit. Untuk konsep hampir sama, tapi fasilitas berbeda. Jika di kabupaten tersebut di pemakaman ada penginapan, perbelanjaan, ruang keluarga, di Tulungagung tidak ada. Hanya di lengkapi toko bunga, resto, dan tempat ibadah. “Kalau tarif pemakaman di Karawang itu mencapai ratusan juta, tapi di sini (Tulungagung, Red) kewenangan investor. Bukan ranah DLH untuk menentukan tarif,” tandasnya. (*)

KOTA, Radar Tulungagung – Bisnis makam elit di kawasan selatan Tulungagung tampaknya diminati investor. Menawarkan konsep eksklusivitas dan membidik kalangan menengah atas jadi sasaran. Niatan untuk mewujudkan hal tersebut bukan wacana lagi. Proses tahapannya kini sudah dilalui, termasuk perizinan.

Berbagai proses perizinan hingga sosialisasi pun sudah dilaksanakan pengembang. “Sudah dua kali sosialisasi. Sosialisasi waktu itu dengan berbagai instansi terkait maupun warga,” terang Kabid Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung Makrus Manan, kemarin (27/6).

Di samping sosialisasi, ada tahapan konsultasi publik. Dengan harapan, dapat masukan dan saran dari berbagai pihak terkait, terutama warga sekitar. Tahap selanjutnya, pembuatan kerangka acuan (KA). Pada tahapan itu, dokumen berisi seputar pengelolaan kawasan makam yang sebelumnya merupakan perkebunan kakao. Dari pihak investor PT Sang Lestari Abadi sudah membuat KA. Namun dari sidang dengan tim teknis, masih ada pembenahan. “Sidang KA ini melibatkan dinas pekerjaan umum, badan perencanaan pembangunan daerah, dinas pariwisata, tenaga ahli dari Universitas Brawijaya, dan lain-lain,” terang pria tersebut.

Jika memang saran dari tim teknis sudah dilakukan perbaikan terkait KA, maka ada sidang lagi. Nah ketika tidak ada persoalan, bisa masuk ke tahapan penyusunan rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL). Dokumen RKL/RPL itu menyangkut prakonstruksi, konstruksi, proses pembangunan, hingga pengelolaan. Artinya, tahapan ini tetap akan melalui sidang teknis untuk memberikan masukan pada konsultan dari pengembang.

Hal sama juga jika RKL/RPL ada pembenahan, konsultan harus melaksanakan rekomendasi tim teknis. Jika dokumen tidak ada persoalan, bisa diterbitkan surat keterangan lingkungan hidup (SKKL). “Ada tiga tahapan; KA, RKL dan RPL, dan SKKL, harus dilalui dalam perizinan ini. Mirip melaksanakan skripsi, ada bab pertama hingga keempat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, tim teknis sudah pernah studi banding di San Diego Hill Karawang yang memiliki lokasi pemakaman elit. Untuk konsep hampir sama, tapi fasilitas berbeda. Jika di kabupaten tersebut di pemakaman ada penginapan, perbelanjaan, ruang keluarga, di Tulungagung tidak ada. Hanya di lengkapi toko bunga, resto, dan tempat ibadah. “Kalau tarif pemakaman di Karawang itu mencapai ratusan juta, tapi di sini (Tulungagung, Red) kewenangan investor. Bukan ranah DLH untuk menentukan tarif,” tandasnya. (*)

Artikel Terkait


Most Read


Artikel Terbaru

/