Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Malam Mbediding Dampak Fenomena Monsun Australia

M. Subchan Abdullah • Rabu, 2 Agustus 2023 | 17:27 WIB
FENOMENA ALAM: Cuaca dingin yang terjadi beberapa minggu terakhir ini merupakan kondisi yang wajar saat musim kemarau.
FENOMENA ALAM: Cuaca dingin yang terjadi beberapa minggu terakhir ini merupakan kondisi yang wajar saat musim kemarau.

KOTA BLITAR - Di pagi hari, suhu dingin menyelimuti Bumi Bung Karno selama beberapa hari terakhir. Bahkan, kondisi tersebut berlangsung hingga malam hari.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Jawa Timur, Andang Kurniawan  mengungkapkan, fenomena alam tersebut lumrah terjadi di musim kemarau seperti sekarang. Fenomena terjadi karena beberapa faktor, salah satunya aktifnya Monsoon Australia. Adapun di Australia saat ini sedang musim dingin.

Tak hanya itu, pada musim kemarau ini otomatis tutupan awan juga berkurang. “Sehingga energi laten panas yang ada di permukaan bumi banyak terbuang ke angkasa, sehingga di pagi hari terasa lebih dingin,” ungkapnya, kemarin (30/7). Suhu dingin ini berpotensi terjadi setiap pagi selama musim kemarau.

Dengan demikian, lanjut dia, suhu dingin akan sering terasa setiap pagi hari selama kemarau. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga puncak musim kemarau yakni September.

Hawa yang terasa dingin akhir-akhir ini dipengaruhi adanya periode musim dingin di benua Australia yang berada di tekanan udara cukup tinggi. Hal ini yang kemudian menyebabkan suhu udara musim kemarau di Blitar menjadi lebih dingin dari musim hujan.

Penyebabnya, adanya pola tekanan udara yang realtif tinggi di Australia dan rendah di Asia. Pola tekanan tersebut membuat pergerakan massa udara dari Australia membawa udara dingin dan kering mengarah ke Asia melewati Indonesia.

Dikutip dari analisis iklim BMKG Jawa Timur, bahwa untuk sementara Monsoon Australia diperkirakan lebih kuat dibanding normalnya. Hal itu berpotensi mengurangi peluang pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan. “Termasuk wilayah Blitar, terutama Blitar selatan,” jelasnya.

Lebih lanjut, meski di pagi hari terasa dingin, suhu di siang hari cenderung hangat. Bahkan, suhu di siang hari bisa diprediksi mencapai 30 derajat Celsius. “Meski terasa terik tidak menutup kemungkinan masih terasa dingin,” tandasnya. (mg1/c1/sub).

Editor : Doni Setiawan
#BMKG Jawa Timur #cuaca panas #cuaca dingin #cuaca ekstrem