KOTA BLITAR - Bercita-cita mengharumkan nama Indonesia, Fandi Jolati, atlet balap sepeda asal Kabupaten Blitar ini giat berlatih keahlian di atas trek. Gayung bersambut. Laki-laki 20 tahun ini berkesempatan mewakili Indonesia di ajang Track Asia Cup di Thaland yang diselenggarakan pada akhir Agustus lalu. Setelah bersaing ketat dengan tujuh negara lain, Fandi mampu menyabet medali emas bagi Bumi Penataran dan tim nasional (Timnas) Indonesia.
Kecintaannya pada dunia balap sepeda dimulai sejak dia duduk di tingkat VI SD. Dari sana, dia mulai giat berlatih dan rajin mengikuti berbagai kejuaraan. Kegiatan ini terus berlanjut hingga dia lulus dari bangku SMA. Lemari kaca di rumahnya kini penuh sesak dengan berbagai piagam penghargaan, piala, hingga medali yang dia pajang. Wajar, tak kurang 50 kejuaraan pernah dia menangkan.
Hingga suatu saat, bakatnya terendus oleh induk organisasi balap sepeda di tingkat pusat. Tepatnya pada 2020 lalu. Namun, saat itu dia belum bergabung dengan timnas secara resmi. Pasalnya, proses pemantauan yang dilakukan oleh timnas memakan waktu tak sebentar. Yakni sekitar dua tahun. Hingga di awal tahun ini, Fandi diminta bergabung untuk membela timnas di berbagai ajang kejuaraan internasional.
“Sejak SD, SMP, dan SMA dulu memang saya memilih sendiri karir menjadi atlet sepeda. Namun awalnya sempat bingung dan pilih-pilih hobi yang cocok. Pernah jadi atlet sepak bola, sepak takraw, hingga atlet voli,” kata Fandi.
Ada alasan khusus Fandi menjatuhkan pilihan ke balap sepeda. Itu karena dia tak ingin tergabung dalam cabor yang diisi oleh grup. Dia justru merasa lebih tertantang di cabor-cabor individu. “Jadi kalau menang, pialanya dimiliki sendiri, dan itu menjadi kebanggaan,” katanya lantas terkekeh.
Disinggung soal pengalamannya membawa nama Indonesia di Thailand, warga Dusun Gembongan, Desa Cangkring, Kecamatan Ponggok ini menyebut, medali emas yang dia sumbang kemarin merupakan gelar juara pertama sebagai wakil Indonesia. Padahal, dia baru bergabung dengan timnas sejak delapan bulan lalu. Meski begitu, dia tetap fokus untuk meraih medali. Pasalnya, dia juga harus bersaing ketat dengan tujuh negara lain. Yaitu, tuan rumah Thailand, Malaysia, Hongkong, Korea Selatan, Uzbekistan, India, dan Arab Saudi.
“Untuk lawan paling berat pada ajang Asia Cup yakni Malaysia dan Thailand. Bahkan nanti kita akan bertemu mereka lagi di ajang ACC 2024 dan SEA Games 2025. Malaysia masih jadi penantang terkuat,” ujar Fandi.
Tak hanya berlaga di satu nomor, rupanya Fandi bertanding di tiga nomor sekaligus di ajang kemarin. Dia meraih medali emas tersebut dari nomor sprint 500 meter.
Disinggung soal nomor lain, laki-laki ramah ini mengaku kurang persiapan di nomor sprint 200 meter dan 1 kilometer (km). Fandi memang sempat keberatan saat diminta turun di tiga nomor sekaligus. Sebab, dia menilai hal itu bisa membuatnya tak fokus. Untuk itu, dia sengaja memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk fokus berlating jelang SEA Games 2025 mendatang.
“Saat ini saya sudah berada di pemusatan latihan di Jakarta untuk persiapan SEA Games 2025. Agar nantinya bisa matang dan memenangkan kejuaraan itu. Nanti pada sela-sela itu, insya Allah berangkat di kompetisi ACC di India tahun depan dan optimistis juara lagi,” kata dia. (jar/c1/dit)
Editor : Doni Setiawan