BLITAR – Ada banyak sentra kerajinan di Kota Blitar. Mulai dari kendang, batik, hingga patung. Tak banyak yang tahu bahwa di Kelurahan Klampok, Kecamatan Sanawetan, terdapat perajin perak. Pitoyo terbilang satu-satunya perajin yang tersisa.
Di ruangan 2×4 meter itulah tangan cekatan Pitoyo menyulap perak, emas, hingga mamas (emas imitasi) menjadi bermacam-macam aksesori siap pakai. Mulai dari cincin, gelang, anting-anting, hingga akik.
Sepak terjangnya dalam membuat kerajinan perak tak perlu diragukan lagi. Sudah 30 tahun lebih, pria 51 tahun ini berteman karib dengan palu, tatah, amplas, paron, dan sejumlah peralatan lain. Sembari mengerjakan pesanan aksesori dari konsumen, dia menceritakan awal menggeluti kerajinan perak.
“Awalnya diajari sama mas yang juga perajin perak. Sekitar 1990. Sejak kelas 3 SMP ikut ewang-ewang lah ceritanya. Selang dua tahun akhirnya bisa membuat sendiri sampai sekarang,” kenangnya kepada koran ini, ketika ditemui di rumahnya, kemarin (24/10).
Bahan-bahan berkualitas dia datangkan dari luar daerah, seperti Gresik dan Pasuruan, yang memiliki harga cukup miring. Namun, ada beberapa yang dari pasar lokal. Kemudian, diamond atau permata dari Jakarta.
Semua aksesori tersebut dibuat secara manual atau langsung buatan tangan. Tak pelak membuat proses pengerjaan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Namun, dia juga bermitra dengan pabrik di Surabaya untuk beberapa proses pengerjaan yang tidak bisa dilakukan secara manual. Itu juga tergantung dari jenis bahan dan tingkat kerumitan aksesori yang dipesan.
Selama ini, Pitoyo melayani pesanan dari penjual atau tengkulak. Tak jarang juga ada pesanan dari konsumen rumahan. Selain jasa pembuatan aksesori, dia juga melayani jasa cuci perhiasan yang kusam karena sering digunakan dan terkena debu.
Berkat kecekatannya, perhiasan yang kusam itu pun menjadi kinclong seperti baru. “Prosesnya dipoles dan direbus dengan air yang sudah dicampur sabun cuci piring. Sehingga warnanya bagus lagi seperti baru,” terangnya.
Menurut dia, produk yang paling laku atau banyak peminatnya adalah aksesori berbahan mamas. Sebab, memiliki warna yang persis dengan perhiasan emas, tetapi tidak memiliki kadar emas. Bahkan, warnanya lebih mengkilap dan lebih bagus. “Warnanya awet dan gak mudah luntur. Kalau dibiarkan dipajang di etalase bisa awet 5-10 tahun,” paparnya.
Hingga kini, Pitoyo melayani pesanan para tengkulak dari berbagai daerah hingga luar kota. Mulai dari Blitar, Kediri, Tulunggagung, hingga Jakarta. Tak jarang juga mendapat pesanan dari para pejabat di wilayah Blitar Raya.
Peminat perhiasan seperti perak dan emas ini masih cukup banyak. Biasanya menjelang Lebaran ramai orang yang memesan berbagai jenis perhiasan. Maka dari itu, dia segera mengirim berbagai contoh perhiasan ke pabrik untuk mempercepat proses pengerjaan.
Menjaga kualitas atau mutu produk adalah kunci. Tujuannya agar produknya tetap eksis.
Pitoyo mengaku bahwa dulu banyak perajin perak di tempat tinggalnya. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak yang beralih profesi lantara sepi peminat. Di samping itu, pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu juga menjadi salah satu faktornya.
Pitoyo terbilang satu-satunya perajin yang tersisa di Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan. “Kalau produk yang dibuat punya mutu yang bagus, bahan-bahan yang digunakan juga tidak sembarangan, pastinya konsumen akan suka dan tetap langganan. Selain itu, perbanyak kreasi bentuk dan ornamen agar tidak monoton dan menarik minat pembeli,” pungkasnya. (*/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan