BLITAR - Kue koya merupakan jajanan jadul yang populer sekitar tahun 1980-1990-an. Kini, jajanan ini mulai jarang ditemui. Namun, tak sedikit masyarakat yang membuat kue koya untuk suguhan seperti momen Idul Fitri.
KUE koya memiliki rasa yang manis dan dikenal cukup ringkih. Pasalnya, kue koya mudah hancur. Jadi harus hati-hati jika mengambil sehingga tidak pecah dan berceceran.
Untuk memakannya juga tidak membutuhkan effort yang tinggi. Orang dengan gigi ompong pun bisa menikmati manisnya kue koya. “Nggak perlu dikunyah, diemut seperti permen nanti bisa hancur sendiri,” ujar Maulida Rohaya kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (4/11).
Warga Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, ini mengaku proses pembuatan kue koya tergolong simpel. Siapa saja bisa membuat. Sebab, bahan- bahan yang dibutuhkan juga mudah didapatkan.
Ada berbagai variasi kue koya seperti orisinal,cokelat, dan kacang hijau Kali ini, Maulida membuat kue koya rasa kacang hijau.
Cukup tiga bahan yang diperlukan. Yakni, 1 kilogram (kg) kacang hijau, 1 kg tepung ketan, dan 2 kg gula merah atau gula kelapa.
Kacang hijau menggunakan kacang hijau kupas seperti untuk isian ondeonde. Itu agar warna kue koya lebih cantik. Sementara untuk gula kelapa warnanya lebih gelap sehngga akan membuat warna kue koya tidak pucat.
“Kacang hijau dan tepung ketan harus disangrai dulu untuk menghilangkan rasa tepung pada kue,” jelasnya.
Untuk membuatnya, semua bahan yang sudah disiapkan dicampur untuk diuleni. Gula merah diparut terlebih dahulu. Kemudian, semua bahan dicampur dan diuleni hingga kalis.
Selanjutnya diayak dengan ditekan-tekan untuk menghasilkan tekstur yang lebih halus. Proses ini membutuhkan ketelatenan. Sebab, semakin halus, bubuk adonan yang dihasilkan akan semakin bagus. “Jangan biarkan adonan terlalu kering. Bisa ditambah sedikit air supaya bisa padat ketika dicetak,” bebernya.
Setelah adonan dirasa cukup, selanjutnya tinggal dicetak dengan cetakan khusus yang terbuat dari kayu. Caranya cukup ditekan- tekan hingga padat.
Setelah itu dijemur sebentar agar lebih padat. Kemudian dioven dengan api kecil. Tidak membutuhkan waktu lama, yang penting harus sering dicek agar tidak gosong. Tanpa bahan pengawet, kue koya bisa tahan hingga 6 bulan. “Sebenarnya setelah dijemur bisa langsung dinikmati, karena semua bahannya sudah matang. Kalau tidak punya oven cukup dijemur. Yang penting waktu mencetak harus dipastikan benar-benar padat,” tandasnya. (ink/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan