WONOTIRTO, Radar Blitar - Beberapa hari terkahir wilayah selatan Jawa dihebohkan kabar prediksi tsunami. Tak tanggung-tanggung ramalan bencana alam tersebut terjadi akibat gempa dengan kekuatan 9 skala richter (SR) yang dapat memicu gelombang setinggi 20 meter.
Meski begitu belum dapat dipastikan kapan peristiwa tsunami terjadi. “Mendengar kabar itu (tsunami, Red). Hanya hingga kini belum ada imbauan resmi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG),” ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar Achmad Cholik, kemarin (28/9).
Dia mengaku, hari ini rencananya ada video conference dengan BMKG terkait hal tersebut. “Di laman lembaga milik pemerintan ini disebutkan bahwa hingga kini belum ada teknologi yang mampu mendeteksi kapan terjadi gempa. Begitu pula dengan kekuatan bencana ini,” katanya.
Dia menjelaskan, penelitian yang dilakukan perguruan tinggi ternama nasional ini merupakan kajian ilmiah dengan menggunakan pendekatan atau model kemungkinan terburuk.
Lanjut dia, hal itu tidak lantas mengabaikan potensi yang ada. Mengintensifkan sosialisasi, latihan evakuasi, menyiapkan bangunan bangunan tahan gempa,
patut dilakukan.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Malang Musripan tidak menampik potensi tersebut. Sudah sejak lama perairan selatan Jawa menyimpan potensi bencana alam.
Dia sering memberikan imbauan serta peringatan bahaya bencana tersebut. "Memang kalau bencana tsunami sudah selalu disampaikan," tandasnya.
Menurut dia, selatan pulau Jawa masih menjadi perhatian serius BMKG, utamanya wilayah pesisir pantai.
Untuk diketahui, belum lama ini salah satu perguruan tinggi di wilayah Jawa Barat menyampaikan hasil riset terkait potensi bencana alam tsunami di wilayah selatan Jawa.
Dalam riset dikerjakan selama enam tahun tersebut, tsunami dengan tinggi gelombang sekitar 20 meter akan menghantam selatan Jawa Barat sampai dengan wilayah selatan Jatim akan ada tinggi gelombang mencapai belasan meter. (*)
Editor : Choirurrozaq