KOTA BLITAR - Peluang usaha bisa datang dari mana saja. Terlebih, perkembangan informasi dan teknologi yang pesat saat ini membuatnya makin mudah. Seperti dilakukan Intan Cahyaningtyas, yang memiliki cara unik dalam menangkap peluang usaha. Ya, warga Kecamatan Ponggok ini membuka jasa pacar online atau virtual yang sudah dilakoni sejak 2016.
Konsepnya yaitu menyewa pacar dengan waktu tertentu dalam bentuk virtual. Bukan berwujud fisik. Pacar virtual itu ditujukan khusus kepada pria yang tak memiliki kekasih alias jomblo. Lewat jasa tersebut, si pria jomblo hanya bisa berkomunikasi jarak jauh.
Misi pacar virtual adalah menghibur pria-pria kesepian. Contohnya, mengingatkan sudah makan atau belum hingga teman curhat pengantar tidur. “Tidak sedikit orang yang mengira ini (jasa pacar online, Red) bercanda. Padahal emang beneran. Begitu,” beber Intan mengenai usaha uniknya kepada Koran ini.
Intan membuka jasa tersebut sudah sejak duduk di bangku kuliah. Alumnus salah satu perguruan tinggi di Malang ini mengaku banyak meraup untung dari bisnis unik itu. Tugasnya pun mudah. Hanya menjadi seorang pacar online yang perhatian.
Seperti halnya mengingatkan jam makan, menyapa setiap pagi, menanyakan kabar, sampai sleep call (saling telepon hingga tertidur). “Yang paling banyak orang butuh sih sleep call. Biasanya juga curhat-curhat,” beber wanita 26 tahun ini.
Perempuan berambut panjang ini senang dengan profesi itu. Selain menghibur rasa sepi orang banyak, juga memiliki banyak teman ngobrol. Rata-rata dalam sehari dia bisa menjadi pacar untuk tiga hingga empat orang. Usianya pun bervariasi.
Meski begitu, Intan hanya menerima cowok usia di atas 20 tahun. Dengan alasan cukup umur untuk menjalin asmara.
Menurutnya, banyak pacar virtualnya yang kesepian di dunia nyata. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki waktu untuk berkenalan dengan lawan jenis. Ada yang terlalu sibuk bekerja hingga gagal dalam urusan asmara.
Menanggapi itu, Intan berupaya keras memuaskan mereka dengan beragam cara. Selain mengerti kebutuhan, sebisa mungkin mengingat kesukaan mereka. Apabila sang “kekasih” suka mengobrol, Intan juga harus mendengarkan. Tidak jarang dari mereka sering sedih dan menangis. Intan pun lantas menenangkan mereka.
Ilmu itu didapatkannya ketika dulu sering menjalin long distance relationship (LDR) alias hubungan jarak jauh. “Kalau LDR itu kan kuncinya komunikasi dan kayak nebak gitulo, pacar kita lagi dalam situasi apa. Jadi, dari situ aku belajar pacaran online,” bebernya.
Meski demikian, tentu saja jasa itu tidak gratis. Para calon pacar virtual Intan harus merogoh kocek dari belasan ribu hingga ratusan ribu untuk menjalin hubungan dengannya. Untuk jasa menanyakan kabar bertarif Rp 15 ribu sehari penuh per tiga kali servis.
Lalu, untuk jasa sleep call hingga video call bisa Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu per tiga kali servis. Dan, semua “pacar” Intan tidak boleh bertemu langsung. Cukup kontak secara daring demi keamanannya.
Tak sedikit yang tertarik dengan jasa tersebut. Sebab, pelanggan lebih suka dengan kehadiran kekasih daring supaya mereka tetap bisa menjalani aktivitas. Yang jelas, Intan tidak menerima permintaan untuk bertemu langsung.
Selain itu, dia juga berhak untuk menolak apabila kliennya memiliki tendensi vulgar. Bahkan, jika memaksa, Intan langsung memblokir nomor “pacar” virtualnya itu tanpa ampun. “Ini bagian dari kode etik jasa pacar online. Tak hanya untuk klien Intan, tetapi juga untuk saya,” ungkapnya.
Ketentuan lainnya, semua obrolan dan rahasia pacarnya itu tidak boleh disebarkanluaskan kepada siapa pun. “Bisa jadi kalau tersebar, saya akan kehilangan ‘pacar langganan’,” sambungnya.
Menurut Intan, banyak orang merasa lebih suka hubungan online berbayar karena komitmen yang dijalin lebih jelas. Transaksi yang berjalan juga jelas. Intan mengisi kekosongan hati si cowok, sementara sang “pacar” mengisi saldo rekeningnya.
Tidak ada lagi patah hati atau harus berbentur dengan konflik pasangan pada umumnya. “Kecuali kalau mereka mau berhubungan lebih lanjut, jadi pacar beneran misalnya, ya nggakpapa sih. Asal cocok,” kelakarnya. (mg2/c1/sub) Editor : Doni Setiawan