KOTA BLITAR - Imajinasi menjadi hal yang penting bagi anak-anak. Hal ini juga menjadi salah satu indikator kecerdasan. Di sisi lain, gempuran gadget menjadi tantangan bagi generasi kini. Pasalnya, godaan melihat visual justru memotong kemampuan berimajinasi.
“Generasi anak sekarang memang serba visual, jadi itulah kenapa belajar pantomim itu perlu,” jelas koordinator pengajar akting Subiakta Arzad Anizary.
Arzad -sapaan akrabnya- menjelaskan pantomim adalah salah satu dari cabang ilmu akting. Pantomime merupakan pertunjukan teater yang menyajikan isyarat. Dialog yang dibangun akan disampaikan dalam bentuk mimik wajah atau gerak tubuh. Untuk anak-anak, kegiatan ini bagus untuk melatih daya imajinatif.
Metode latihannya, lanjut dia, menggunakan pendekatan dongeng dan permainan masa kecil. Contohnya seperti yang dilakukannya kepada siswa sekolah dasar.
Biasanya, para siswa penat usai seharian belajar. Hal itu digunakan arzad untuk mulai mengajak anak-anak bertukar cerita. Dari sana Arzad lalu meminta para siswa itu mempraktekan cerita itu dalam bentuk gerakan. Lama kelamaan, para siswa itu bisa mengutarakan dialog hanya dengan gerakan.
Ada juga metode yang menggunakan perantara lagu. Biasanya untuk siswa yang benar-benar bandel tidak bisa lepas dari gadget. Kemudian, dia akan meminta semua anak berdiri dan mengikuti gerakannya diiringi lagu. Tidak jarang, untuk menarik perhatian, dia menggunakan lagu-lagu yang sedang viral.
“Tapi hanya untuk menarik minat saja, sih. Tapi memanjakan mereka dengan lagu viral justru akan menurunkan daya kreativitasnya,” imbuh lelaki 23 tahun ini.
Beberapa manfaat anak usai olah tubuh dalam pantomim adalah keceriaan. Tidak dipungkiri, banyak anak yang begitu bosan dengan pelajaran. Sehingga, rasa bosan itu juga membunuh daya imaji anak. Bahkan tidak jarang banyak anak yang kurang perhatian orang tua. Mereka kesulitan untuk menceritakan permasalahan mereka. Sehingga mereka tidak bisa mengekspresikan diri sendiri. Melalui pantomim, Arzad bisa melihat permasalahan itu berkurang.
Ilmu pantomim secara tidak langsung menyalurkan kejenuhan anak. Pasalnya dalam dunia pantomim tidak ada batasan apapun. Mereka berimajinasi menjadi apa saja. Bahkan, Arzad mengakui ada anak yang pemalu kemudian menjadi lebih percaya diri.
“Anak-anak itu eman aja kalau misalnya tidak punya imajinasi. Yang boleh tidak punya imajinasi itu cuma orang dewasa,” tukas Arzad berkelakar. (mg2/hai) Editor : Doni Setiawan