KABUPATEN BLITAR - Meski tidak ada wilayah khusus yang menjadi teritori Lodoyo, nama tersebut dipakai untuk ruang publik di Kecamatan Sutojayan. Bahkan, sejumlah tokoh masyarakat di Blitar Selatan berencana menggunakan Lodoyo sebagai kabupaten /kota baru.
Ya, nama Lodoyo memang sudah tidak asing di telinga masyarakat Bumi Penataran. Konon, daerah tersebut menyimpan banyak situs bersejarah. Bahkan, hingga saat ini masih dilakukan pencarian situs bersejarah lainnya.
Budayawan Bambang Tribawono mengatakan, masyarakat setempat menafsirkan arti Lodoyo sejak mengetahui ada pohon jenis Lo-doyong. Artinya, ada pohon Lo dengan posisi miring. Lokasinya berada di wilayah Kelurahan Kalipang. “Tepatnya di belakang SMPN 2 Sutojayan,” ujarnya kemarin (12/3).
Selain penafsiran tersebut, kata dia, ada versi lain pemaknaan Lodoyo, yakni Lo-doyo. Artinya, pohon Lo yang memiliki daya. “Terdapat energi pada jenis pohon tersebut,” paparnya.
Selain itu, lanjut dia, Lodoyo juga diartikan sebagai Loh-doyo. Loh dalam bahasa Bali memiliki arti perempuan atau ibu. Artinya, Lodoyo bermakna kekuatan ibu.
Bambang menjelaskan, pada masa lalu ada seorang raja perempuan berkekuatan raksasa menyerang Kahuripan Erlangga. Yakni, Dyah Tulodong. Dia menyerang Kahuripan di Mataram Kuno pada akhir abad kesembilan. “Kalau melihat dari lintasan peristiwa lebih cenderung mengartikan Lodoyo sebagai Loh-doyo,” terang pria 52 tahun ini.
Bambang menunjukkan, Lodoyo merupakan salah satu Kerajaan di Blitar Selatan. Diperkirakan, kerajaan tersebut berdiri pada awal abad ke 11 yakni 1015 Masehi. Lodoyo memiliki wilayah yang cukup luas. Yakni, separo Tulungagung bagian timur hingga separo Malang bagian barat. “Tentunya wilayah yang luas tersebut memiliki banyak potensi,” katanya.
Bambang memaparkan, nama Lodoyo hilang dari peta pada abad ke 16. Tepatnya setelah Kerajaan Lodoyo ditaklukkan oleh Kerajaan Kediri. Saat itu, Lodoyo hilang sebagai kerajaan bawahan dan diganti dengan wilayah Blitar. “Sejarah ini terjadi setelah ada kerajaan Mataram,” terangnya.
Lanjut dia, Lodoyo memiliki tiga kekuatan. Yakni, potensi sumber daya alam (SDA), kebudayaan, dan spiritual. Potensi SDA di wilayah selatan cukup banyak. Sebab, wilayah selatan memiliki wilayah perkebunan, hutan, dan potensi alam lainnya. Tak hanya itu, wilayah selatan juga memiliki peninggalan sejarah. “Pada saat itu, masyarakat menggunakan kekuatan spiritual untuk mengembangkan daerah. Seperti pembangunan situs, candi, hingga tembok sejarah,” paparnya.
Bambang menambahkan, Lodoyo merupakan bekas kerajaan atau kota lama. Sayangnya, kini Lodoyo tidak masuk dalam wilayah penting. Bahkan, tidak ada kawedanan, kecamatan, atau desa bernama Lodoyo. “Meski begitu, sebutan Lodoyo tersebut melegenda hingga saat ini,” tandasnya. (mg1/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni