KOTA BLITAR - Kafe di Blitar memang tak terhitung lagi jumlahnya. Menu-menu variatif pun diusung demi memikat para pembeli. Seperti dilakukan Moh. Badru Sofa. Pemilik salah satu kedai kopi di Kecamatan Sukorejo itu menghadirkan menu ngopi bayar seikhlasnya.
Semerbak aroma kopi tercium di kedai minimalis di Jalan Jati, Kecamatan Sukorejo. Di balik meja kasir setinggi dada orang dewasa itu tampak seorang lelaki cekatan melayani muda-mudi. Pergelangan tangannya lihai menyeduh kopi hingga tersaji di meja pembeli.
Dia lantas menjelaskan cita rasa kopi robusta tubruk yang beda dari daerah lain.”Robusta khas Blitar itu bercita rasa lebih kuat. Masyarakat lokal harus tahu dan mempromosikan kearifan ini,” ujarnya kepada koran ini, sembari menyeduh kopi .
Lelaki itu bernama Moh. Badru Sofa. Ketertarikannya terhadap kopi sudah sejak 2014. Barulah setahun kemudian, dia tertantang mempelajari karakter kopi sebagai bekal merintis bisnis. Kini, dia tak ingin sajian kopi di kedainya hanya sebagai pemuas lidah pembeli. Namun, juga untuk memperkenalkan varietas biji kopi robusta khas Blitar.
Sejatinya, kopi tubruk mudah ditemukan di hampir semua warung kopi. Biasanya, menu sederhana ini dibanderol seharga Rp 5 ribu hingga Rp 8 ribu. Namun, tidak bagi Badru. Dia justru menjual segelas kopi robusta tubruk itu tanpa patokan harga alias bayar seikhlasnya.
Ide tersebut tak luput dari niatnya mempopulerkan kopi robusta khas tanah Blitar. “Sepertinya kopi di daerah sendiri jarang dikenal. Saat pembeli tanya, mengapa bayarnya sukarela, di situlah misi saya jelaskan,” tutur pria asal Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun ini.
Menurutnya, jenis kopi Blitar masih kalah pamor dengan varietas kopi dari daerah lain. Misalnya, dari Kota Malang, Gunung Arjuno, hingga Kabupaten Jember. Padahal, kualitas robusta lokal tak bisa dipandang sebelah mata. Kendati demikian, kata dia, popularitas kopi Blitar terus merangkak naik. Penikmatnya pun berasal dari berbagai kalangan masyarakat.
Selain ingin memberitahukan cita rasanya, menu bayar sukarela itu untuk membantu perekonomian petani. Badru mengaku membeli biji-biji kopi tersebut dari tangan petani di berbagai daerah di Blitar Utara. Seperti Kecamatan Doko dan Selorejo yang sudah jadi langganan. “Saat kopi mereka dikenal di daerah sendiri, sudah lumayan. Sederhananya, tidak perlu setor ke pabrik. Cukup di kota sendiri. Petani akan semangat,” jelasnya.
Dalam jangka waktu tertentu, dia membeli sekira 200 kilogram (kg) kopi robusta Blitar. Kopi tersebut sudah siap olah alias roasting sehingga mempersingkat waktu penyajian kepada pembeli. Nah, demi eksistensi kopi lokal, pria 29 tahun itu pun enggan membeli robusta dari daerah lain.”Bayar sukarela baru setahun ini. Pembeli juga kaget gitu. Karena pakai kopi murni, fresh yang enak, tapi bayar seikhlasnya,” imbuhnya.
Meski dijual tanpa patokan harga, rasa dan aroma kopi tersebut tetap sedap. Itu karena disimpan dalam wadah katup udara satu arah alias one way valve. Fungsinya agar udara atau gas dari dalam kemasan bisa keluar, sementara udara dari luar tidak bisa masuk ke dalam kemasan. “Harus kedap supaya tidak merusak rasa. Bisa juga pakai silica gel yang food grade, tergantung packaging,” tukasnya. (*/c1/sub) Editor : Endah Sriwahyuni