Logam mulia yang dikenal sebagai instrumen investasi aman ini sempat mengalami penurunan signifikan sebelum akhirnya melonjak drastis. Kondisi tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya: kapan waktu terbaik untuk mulai investasi emas?
Berdasarkan data terbaru, harga emas Antam pada Minggu, 1 Februari 2026, tercatat turun ke level Rp2.860.000 per gram.
Angka ini merosot cukup dalam dibandingkan harga sebelumnya yang masih bertengger di Rp3.120.000 per gram. Namun, penurunan itu tidak berlangsung lama.
Sehari berselang, harga emas Antam justru melesat tajam. Kenaikan mencapai Rp167.000 per gram membuat harga kembali naik menjadi sekitar Rp3.270.000 per gram.
Fluktuasi harga emas Antam yang cepat ini menunjukkan bahwa pergerakan emas sangat dinamis dan sulit diprediksi dalam jangka pendek.
Jangan Menunda Investasi Emas
Perencana keuangan Andi Nugroho menegaskan bahwa masyarakat sebaiknya tidak menunda investasi hanya karena menunggu harga turun.
Menurutnya, prinsip dasar investasi adalah memulai sesegera mungkin.
“Kalau kemarin belum sempat mulai, maka hari ini adalah waktu terbaik,” ujar Andi. Ia menilai menunggu harga emas turun justru berisiko karena tidak ada pihak yang bisa memastikan kapan harga benar-benar berada di titik terendah.
Bahkan, dalam banyak kasus, harga justru terus naik tanpa diduga.
Emas Cocok untuk Jangka Menengah dan Panjang
Andi menjelaskan bahwa emas lebih ideal dijadikan instrumen investasi jangka menengah hingga panjang. Ia menyarankan agar emas disimpan minimal selama tiga tahun agar potensi keuntungannya bisa lebih optimal.
Dalam jangka pendek, fluktuasi harga emas Antam memang bisa cukup tajam. Namun dalam rentang waktu yang lebih panjang, emas cenderung menunjukkan tren kenaikan yang stabil dan mampu menjaga nilai kekayaan dari inflasi.
Perhatikan Selisih Harga Beli dan Jual
Hal penting lain yang sering diabaikan investor pemula adalah selisih antara harga beli dan harga jual kembali.
Andi mengingatkan agar investor memastikan harga jual emas sudah lebih tinggi dibanding harga belinya saat akan mencairkan investasi.
“Keuntungan baru didapat kalau harga jual lebih tinggi dari harga beli. Jadi jangan hanya melihat harga naik hari ini, tapi perhatikan juga spread-nya,” jelasnya.
Pilih Emas Batangan, Bukan Perhiasan
Dalam hal bentuk investasi, Andi merekomendasikan emas batangan dibanding emas perhiasan. Alasannya, emas batangan memiliki nilai jual kembali yang lebih tinggi dan lebih mendekati harga pasar.
Sementara itu, emas perhiasan umumnya dikenakan biaya tambahan seperti ongkos pembuatan, yang membuat harga jual kembalinya lebih rendah.
Selain itu, perhiasan juga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen.
Pajak Juga Perlu Diperhitungkan
Investor juga perlu memahami aspek pajak dalam investasi emas. Untuk emas batangan, penjualan kembali dikenakan pajak sebesar 0,25 persen.
Sedangkan untuk perhiasan, pajak yang dikenakan lebih besar karena masuk kategori barang kena PPN.
Memahami kewajiban pajak ini penting agar perhitungan keuntungan investasi emas bisa lebih realistis dan tidak mengejutkan di kemudian hari.
Emas Fisik vs Emas Digital
Seiring perkembangan teknologi, investasi emas kini tidak hanya tersedia dalam bentuk fisik. Masyarakat juga bisa membeli emas digital melalui berbagai platform resmi.
Menurut Andi, baik emas fisik maupun emas digital memiliki potensi pertumbuhan dan tingkat likuiditas yang relatif sama.
Karena itu, pilihan jenis investasi bisa disesuaikan dengan kemampuan, kebutuhan, dan kenyamanan masing-masing investor.
“Yang terpenting bukan bentuknya, tapi konsistensi dan tujuan investasinya,” pungkasnya.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo