RADAR TULUNGAGUNG- Harga emas dunia kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar global. Sepanjang 2025, harga emas dunia tercatat melonjak hingga 61 persen. Bahkan, jika ditarik hingga Januari 2026, total kenaikannya mencapai 83 persen. Lonjakan ini menjadi salah satu rekor pergerakan harga komoditas paling mencolok dalam sejarah.
Kenaikan harga emas dunia tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Di tengah gejolak geopolitik dan tekanan fiskal Amerika Serikat (AS), emas kembali dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven) paling aman. Meski pada perdagangan terakhir sempat terkoreksi tipis 0,5 persen, harga emas masih bertengger di atas level psikologis USD 5.000 per tiga ons—angka yang tergolong sangat tinggi secara historis.
Namun, yang kini menjadi perbincangan bukan sekadar fluktuasi harga emas dunia. Sorotan mulai mengarah pada kondisi fundamental ekonomi AS, terutama membengkaknya utang pemerintah Negeri Paman Sam tersebut.
Utang AS Membengkak, Bebani Anggaran Federal
AS diketahui memiliki cadangan emas terbesar di dunia, yakni sekitar 8.133,5 ton. Cadangan tersebut menyumbang lebih dari 80 persen total cadangan internasional negara itu. Di sisi lain, data terbaru menunjukkan utang pemerintah AS telah menembus USD 38,5 triliun—rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Beban utang tersebut meningkat rata-rata USD 6,43 miliar per hari. Dampaknya, sekitar 13 persen anggaran federal terserap hanya untuk membayar kewajiban utang, dengan defisit tahunan mendekati USD 2 triliun.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar global. Sejumlah analis bahkan menyebut posisi fiskal AS berada dalam tekanan berat dan berisiko terhadap keberlanjutan jangka panjang.
Elon Musk menjadi salah satu tokoh yang vokal menyuarakan kekhawatiran tersebut. Ia menyebut AS berada di jalur menuju kebangkrutan jika tidak segera melakukan reformasi fiskal besar-besaran. Saat masih menjabat sebagai Kepala Department of Government Efficiency (Doge), Musk mendorong pemangkasan anggaran agresif dan efisiensi birokrasi. Namun, upaya tersebut terhenti setelah pecah kongsi dengan Presiden Donald Trump.
JP Morgan: AS dalam Tren Menuju Kebangkrutan
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Kepala Strategi Global JP Morgan Asset Management, David Kelly. Pada akhir 2025, ia mengakui ekonomi AS berada dalam bahaya akibat tekanan pembayaran utang yang semakin besar.
Di saat bersamaan, AS juga menghadapi berbagai tantangan geopolitik, mulai dari perang dagang dengan Tiongkok, konflik dengan Iran, isu Greenland dengan Denmark, hingga persoalan imigrasi dengan Meksiko dan Venezuela. Seluruh agenda tersebut menyedot anggaran dalam jumlah besar dan memperparah tekanan fiskal.
Tak hanya itu, negara-negara pemegang obligasi AS seperti Jepang, Tiongkok, dan Inggris dikabarkan mulai mempertimbangkan pengurangan kepemilikan surat utang AS. Jepang bahkan disebut ingin melepas sebagian obligasi guna menopang nilai tukar yen yang tertekan. Jika langkah ini diikuti negara lain, tekanan terhadap dolar AS bisa semakin besar.
Spekulasi Strategi di Balik Lonjakan Harga Emas Dunia
Dalam situasi tersebut, muncul spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa lonjakan harga emas dunia bukan semata karena faktor pasar, melainkan bagian dari strategi tertentu. Teorinya, dengan harga emas yang melonjak tinggi, nilai cadangan emas AS ikut terdongkrak signifikan.
Jika nilai cadangan meningkat, secara teoritis pemerintah AS memiliki ruang fiskal lebih luas untuk memperkuat neraca dan menutup sebagian beban utang. Meski demikian, hingga kini belum ada bukti konkret yang mengonfirmasi dugaan tersebut.
Yang pasti, ketegangan geopolitik global belum menunjukkan tanda mereda. Konflik dengan Venezuela, ancaman terhadap Iran, serta dinamika hubungan dagang dengan Tiongkok terus menjadi sentimen yang memicu aksi borong emas oleh investor global.
Emas kembali membuktikan reputasinya sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian. Lonjakan harga emas dunia hingga 83 persen dalam dua tahun terakhir menjadi refleksi nyata meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, khususnya Amerika Serikat.
Apakah spekulasi kebangkrutan AS akan menjadi kenyataan atau hanya sekadar alarm peringatan dini? Pasar tampaknya masih menunggu arah kebijakan fiskal dan geopolitik selanjutnya. Yang jelas, selama ketidakpastian masih membayangi, harga emas dunia berpotensi tetap berada di level tinggi.
Editor : Cholifatun Nisak