Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah April DA7: Dari Pengamen Cirebon hingga 'Dihakimi' Netizen Usai Duet dengan Rhoma Irama

Natasha Eka Safrina • Kamis, 19 Februari 2026 | 14:15 WIB

Kisah inspiratif April DA7: Dari pengamen jalanan Cirebon hingga juara 3 DA7. Simak perjuangannya hadapi hujatan netizen usai duet dengan Rhoma Irama!
Kisah inspiratif April DA7: Dari pengamen jalanan Cirebon hingga juara 3 DA7. Simak perjuangannya hadapi hujatan netizen usai duet dengan Rhoma Irama!

JAKARTA – Takdir seseorang tidak ada yang tahu. Bagi Afrielni Mida Salehah atau yang kini akrab disapa April DA7, aspal panas dan debu jalanan Cirebon adalah saksi bisu perjuangan awalnya. Jauh sebelum lampu sorot studio televisi mengenalnya, April adalah seorang pengamen kecil yang bertarung dengan deru mesin angkot dan klakson kendaraan demi sesuap nasi. Dengan mikrofon usang yang kabelnya sering terputus, ia melambungkan doa melalui nada-nada tinggi di sudut pasar yang hiruk-pikuk.

Langkah berani diambilnya saat pintu audisi D'Academy 7 terbuka. Bagi April DA7, ini bukan sekadar kompetisi menyanyi, melainkan gerbang menuju kehidupan yang selama ini hanya ada dalam lamunannya saat berteduh dari hujan. Ia menanggalkan rasa minder sebagai anak jalanan dan berdiri di hadapan para legenda musik tanah air. Keajaiban pun terjadi; suara emasnya yang merupakan perpaduan antara kepedihan hidup dan harapan tak kunjung padam berhasil memukau jutaan pasang mata.

Baca Juga: Sejarah Tulungagung: Legenda Pertolongan Agung hingga Jejak Kerajaan Kediri dan Perlawanan Rakyat Lawan Belanda

Puncak Prestasi di Panggung Megah

Perjuangan itu berbuah manis. Malam grand final D'Academy 7 menjadi legitimasi bagi perjuangan bertahun-tahun April di jalanan. Meraih posisi juara 3 nasional, April DA7 membuktikan bahwa debu jalanan tidak bisa menutupi kilau berlian dalam dirinya. Saat namanya diteriakkan dan hujan konfeti membasahi panggung, ia tidak jemawa. Ia tersungkur dalam sujud syukur, mengingat kembali masa-masa menahan lapar saat mengamen demi membantu ekonomi keluarga.

Namun, dunia hiburan yang glamor ternyata menyimpan sisi gelap yang kejam. Popularitas yang ia raih menjadi pedang bermata dua. Menjadi juara berarti menjadi milik publik, di mana setiap nada yang keluar dari mulutnya akan dinilai dengan standar yang sangat tinggi, bahkan terkadang tidak manusiawi.

Ujian Berat: Kolaborasi dengan Sang Raja Dangdut

Ujian mental terbesar datang saat April DA7 mendapat undangan kolaborasi dari Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama. Bagi penyanyi dangdut manapun, berduet dengan Sang Maestro adalah kasta tertinggi pencapaian artistik. Namun, bagi gadis muda yang dulu hanya melihat Rhoma Irama dari televisi tetangga, undangan ini membawa beban sejarah yang luar biasa berat.

Baca Juga: Sejarah Tulungagung Terungkap: Dari Ngerowo, Pitulungan Agung hingga Jejak Majapahit, Ternyata Usianya Lebih dari 8 Abad!

Malam itu, di bawah lampu panggung yang megah, April mencoba menyembunyikan getaran di jemarinya. Meskipun tampil anggun, tekanan mental terlihat jelas dari sorot matanya. Bernyanyi berdampingan dengan figur yang memiliki aura sedominan Rhoma Irama membutuhkan ketenangan jiwa yang luar biasa. Sayangnya, di mata para kritikus digital, satu kesalahan kecil sering kali lebih diingat daripada seribu kebenaran.

Badai Hujatan dan Kedewasaan Mental

Begitu penampilan berakhir, narasi kebahagiaan April berubah menjadi mimpi buruk. Kolom komentar media sosialnya dibanjiri hujatan. Kata-kata pedas seperti "tidak pantas" hingga "merusak lagu legenda" menghujam mentalnya. Netizen yang tidak pernah tahu kerasnya hidup di trotoar tiba-tiba merasa berhak menghancurkan karier seorang gadis yang baru saja memulai langkah besarnya.

Di sinilah letak perbedaan April DA7 dengan penyanyi lainnya. Alih-alih membalas dengan kemarahan, ia memilih jalan kerendahan hati. Melalui unggahan yang menyentuh, ia berterima kasih atas kritik yang diberikan dan meminta maaf jika penampilannya belum memenuhi ekspektasi. Sikap dewasa ini menunjukkan bahwa meskipun suaranya sempat goyah di atas panggung, karakternya tetap kokoh seperti batu karang.

Baca Juga: Asal Usul Tulungagung: Sayembara Adipati Betak Keringkan Rawa Ngrowo, Jaka Baru Jadi Patih dan Lahirkan Nama Legendaris

Apakah Karier April DA7 Berakhir?

Banyak yang berspekulasi bahwa kariernya akan meredup pasca insiden tersebut. Namun, sejarah mencatat bahwa setiap legenda pasti pernah jatuh. Fase hujatan ini justru menjadi "kawah candradimuka" kedua bagi April setelah jalanan Cirebon. Dengan dukungan penggemar setia yang menjadi perisainya, April sedang bertransformasi menjadi bintang yang lebih tangguh.

Karier yang diawali dengan perjuangan berdarah-darah di trotoar tidak akan mungkin berakhir semudah itu hanya karena komentar negatif di layar ponsel. Esok hari, suara dari jalanan ini akan kembali menggema—lebih kuat, lebih jernih, dan lebih penuh jiwa. April telah membuktikan bahwa selama jantung masih berdetak, harapan tidak akan pernah mengenal kata berakhir.

Editor : Natasha Eka Safrina
#april da7 #d'academy #rhoma irama