26.2 C
Tulungagung
Friday, August 12, 2022

Seorang Master Downhill di Tengah Covid-19

Pandemi Covid-19 tampaknya tidak menghalangi untuk menjalankan aktivitas dengan tetap protokol kesehatan (prokes). Kondisi ini membuat Dhiyan Purwo dan rekan-rekannya penggemar sepeda downhill mengubah layout sirkuit yang biasa digunakan. Dengan begitu, sirkuit yang biasanya digunakan pencinta downhill bisa pakai pengguna mountain bike (MTB) secara umum dan tetap prokes.

 

ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek

 

Pakai masker, cuci tangan, kurangi mobilitas, jaga jarak, dan jauhi kerumunan. Sosialisasi seperti itulah yang diserukan pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 ini. Tak ayal, berbagai aktivitas yang dimungkinkan melanggar prokes tersebut akan dilarang karena berpotensi mengakibatkan penyebaran Covid-19. Namun di sisi lain, kegiatan olahraga dan penyaluran hobi diperlukan masyarakat demi menaikkan imun tubuh. Namun, hal ini disikapi bijak Dhiyan Purwo yang terus berupaya tetap beraktivitas dan terus menyerukan imbauan pemerintah.

Ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek di rumahnya di Kelurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek kemarin (3/6), terlihat Dhiyan tengah sibuk memperbaiki satu unit sepeda MTB. Tangannya begitu terampil mengutak-ngutik komponen yang biasa digunakan untuk suspensi sepeda.

Bagian samping depan rumahnya tersebut telah diubah menjadi bengkel sepeda MTB. Hampir setiap hari dia selalu disibukkan dengan perbengkelan tersebut. “Di Jawa Timur (Jatim) mungkin hanya ada enam bengkel sepeda ini (sepeda MTB, Red) termasuk saya. Makanya saya membuka bengkel ini. Selain bisa jadi tambah penghasilan, juga membantu teman-teman penggemar MTB dalam perbengkelan,” kata Dhiyan kepada Koran ini.

Ketika pandemi Covid-19 ada, dirinya dan teman-teman penggemar MTB sempat merasa pusing. Hal itu bukan dampak perekonomian semata yang dirasakan, melainkan seluruh aktivitas masyarakat dibatasi. Karena itu, praktis dirinya dan teman-temannya tidak bisa bersepeda. Dikhawatirkan aktivitas olahraga tersebut bisa memicu kerumunan yang tidak sejalan dengan prokes. “Karena itu, kami berpikir bagaimana agar aktivitas hobi kami bersepeda bisa tetap dilakukan. Tentu saja tetap memperhatikan prokes,” ungkapnya.

Karena itu, salah satu cara yang tepat adalah buat tempat berkumpul sesuai prokes. Salah satu yang mendukung hal tersebut adalah memaksimalkan sirkuit Watu Jago yang dikelola penggemar MTB Trenggalek di Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek. Apalagi sebelumnya Dhiyan bersama teman-temannya telah mengubah layout di sirkuit tersebut. Sehingga jika dulunya layout sirkuit cenderung ekstrem dan hanya bisa digunakan untuk penggemar downhill yang dikatakan profesional, sekarang bisa dinikmati oleh para pencinta sepeda gunung pada umumnya. Sebab, beberapa trek sudah diubah tidak curam lagi, kendati ada bagian yang tetap dipertahankan untuk perlombaan.

Dengan bermain di sirkuit tersebut, praktis prokes tetap terjaga, khususnya menghindari kerumunan. Terlihat kendati ada tempat beristirahat untuk sebelum maupun sesudah berangkat dalam mencoba sirkuit tersebut, kerumunan para pencinta MTB praktis tidak terlihat. Sebab, untuk melaksanakan kegiatan tersebut, tidak ada yang mengundang. Pencinta MTB bisa datang dengan sendirinya. Sebelum berangkat, kendati ada yang beristirahat sejenak, pencinta lainnya menyiapkan perlengkapan untuk berangkat. Karena sirkuit MTB berbeda dengan jalan raya, hanya bisa digunakan oleh satu orang yang melintas.

Karena situasi yang tetap menerapkan prokes, para pencinta MTB dari berbagai daerah seperti Banyuwangi, Tangerang Selatan, dan sebagainya silih berganti berdatangan. Mereka merasa aman karena semua tetap memahami prokes yang dianjurkan pemerintah. “Memang banyak pencinta MTB yang datang ke sini. Namun mereka datang tidak di hari yang sama, tapi bergantian. Jadi tidak mengakibatkan kerumunan. Selain itu, dengan kedatangan mereka, perekonomian masyarakat juga terbantu. Sebab, tidak sedikit pencinta MTB yang membeli jajanan di warung milik warga,” jelas pria 45 tahun ini.

Untuk itu, dirinya bersama teman-teman yang lain akan tetap mempertahankan hal tersebut. Sepak terjangnya di dunia MTB khususnya downhill, sudah tidak diragukan lagi. Dhiyan pernah dua kali mewakili Trenggalek pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) downhill di tahun 2012 dan 2013. Semuanya masuk podium untuk kelas master B. Sedangkan, kini aktivitasnya pada dunia sepeda lebih dicurahkan untuk mendidik para junior agar bisa berprestasi. Selain itu, juga membantu para atlet downhill dalam hal suspensi sepedanya. “Dulunya ketika duduk SMP saya gunakan aktivitas bersepeda sebagai terapi penyembuhan penyakit asma. Namun lama-lama kecanduan dan ingin terus berkecimpung,” jelas pria yang akrab disapa Pak Dhe oleh para penggemar MTB. (*)

Pandemi Covid-19 tampaknya tidak menghalangi untuk menjalankan aktivitas dengan tetap protokol kesehatan (prokes). Kondisi ini membuat Dhiyan Purwo dan rekan-rekannya penggemar sepeda downhill mengubah layout sirkuit yang biasa digunakan. Dengan begitu, sirkuit yang biasanya digunakan pencinta downhill bisa pakai pengguna mountain bike (MTB) secara umum dan tetap prokes.

 

ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek

 

Pakai masker, cuci tangan, kurangi mobilitas, jaga jarak, dan jauhi kerumunan. Sosialisasi seperti itulah yang diserukan pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 ini. Tak ayal, berbagai aktivitas yang dimungkinkan melanggar prokes tersebut akan dilarang karena berpotensi mengakibatkan penyebaran Covid-19. Namun di sisi lain, kegiatan olahraga dan penyaluran hobi diperlukan masyarakat demi menaikkan imun tubuh. Namun, hal ini disikapi bijak Dhiyan Purwo yang terus berupaya tetap beraktivitas dan terus menyerukan imbauan pemerintah.

Ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek di rumahnya di Kelurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek kemarin (3/6), terlihat Dhiyan tengah sibuk memperbaiki satu unit sepeda MTB. Tangannya begitu terampil mengutak-ngutik komponen yang biasa digunakan untuk suspensi sepeda.

Bagian samping depan rumahnya tersebut telah diubah menjadi bengkel sepeda MTB. Hampir setiap hari dia selalu disibukkan dengan perbengkelan tersebut. “Di Jawa Timur (Jatim) mungkin hanya ada enam bengkel sepeda ini (sepeda MTB, Red) termasuk saya. Makanya saya membuka bengkel ini. Selain bisa jadi tambah penghasilan, juga membantu teman-teman penggemar MTB dalam perbengkelan,” kata Dhiyan kepada Koran ini.

Ketika pandemi Covid-19 ada, dirinya dan teman-teman penggemar MTB sempat merasa pusing. Hal itu bukan dampak perekonomian semata yang dirasakan, melainkan seluruh aktivitas masyarakat dibatasi. Karena itu, praktis dirinya dan teman-temannya tidak bisa bersepeda. Dikhawatirkan aktivitas olahraga tersebut bisa memicu kerumunan yang tidak sejalan dengan prokes. “Karena itu, kami berpikir bagaimana agar aktivitas hobi kami bersepeda bisa tetap dilakukan. Tentu saja tetap memperhatikan prokes,” ungkapnya.

Karena itu, salah satu cara yang tepat adalah buat tempat berkumpul sesuai prokes. Salah satu yang mendukung hal tersebut adalah memaksimalkan sirkuit Watu Jago yang dikelola penggemar MTB Trenggalek di Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek. Apalagi sebelumnya Dhiyan bersama teman-temannya telah mengubah layout di sirkuit tersebut. Sehingga jika dulunya layout sirkuit cenderung ekstrem dan hanya bisa digunakan untuk penggemar downhill yang dikatakan profesional, sekarang bisa dinikmati oleh para pencinta sepeda gunung pada umumnya. Sebab, beberapa trek sudah diubah tidak curam lagi, kendati ada bagian yang tetap dipertahankan untuk perlombaan.

Dengan bermain di sirkuit tersebut, praktis prokes tetap terjaga, khususnya menghindari kerumunan. Terlihat kendati ada tempat beristirahat untuk sebelum maupun sesudah berangkat dalam mencoba sirkuit tersebut, kerumunan para pencinta MTB praktis tidak terlihat. Sebab, untuk melaksanakan kegiatan tersebut, tidak ada yang mengundang. Pencinta MTB bisa datang dengan sendirinya. Sebelum berangkat, kendati ada yang beristirahat sejenak, pencinta lainnya menyiapkan perlengkapan untuk berangkat. Karena sirkuit MTB berbeda dengan jalan raya, hanya bisa digunakan oleh satu orang yang melintas.

Karena situasi yang tetap menerapkan prokes, para pencinta MTB dari berbagai daerah seperti Banyuwangi, Tangerang Selatan, dan sebagainya silih berganti berdatangan. Mereka merasa aman karena semua tetap memahami prokes yang dianjurkan pemerintah. “Memang banyak pencinta MTB yang datang ke sini. Namun mereka datang tidak di hari yang sama, tapi bergantian. Jadi tidak mengakibatkan kerumunan. Selain itu, dengan kedatangan mereka, perekonomian masyarakat juga terbantu. Sebab, tidak sedikit pencinta MTB yang membeli jajanan di warung milik warga,” jelas pria 45 tahun ini.

Untuk itu, dirinya bersama teman-teman yang lain akan tetap mempertahankan hal tersebut. Sepak terjangnya di dunia MTB khususnya downhill, sudah tidak diragukan lagi. Dhiyan pernah dua kali mewakili Trenggalek pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) downhill di tahun 2012 dan 2013. Semuanya masuk podium untuk kelas master B. Sedangkan, kini aktivitasnya pada dunia sepeda lebih dicurahkan untuk mendidik para junior agar bisa berprestasi. Selain itu, juga membantu para atlet downhill dalam hal suspensi sepedanya. “Dulunya ketika duduk SMP saya gunakan aktivitas bersepeda sebagai terapi penyembuhan penyakit asma. Namun lama-lama kecanduan dan ingin terus berkecimpung,” jelas pria yang akrab disapa Pak Dhe oleh para penggemar MTB. (*)

Artikel Terkait


Most Read


Artikel Terbaru

/