26.2 C
Tulungagung
Friday, August 12, 2022

Kiat Mohammad Azkiyaul Hayyi Berprestasi sebagai Atlet Downhill

Bagi Mohammad Azkiyaul Hayyi, bersepeda tidak hanya sekedar mainan ketika masih kecil, tapi juga jalan meraih prestasi. Dengan menggeluti downhill sejak kecil, berbagai prestasi membanggakan diraihnya. Kini dia mempersiapkan diri mengharumkan nama Trenggalek pada kejuaraan provinsi (kejurprov) yang akan dilaksanakan tahun ini.

 

ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek

 

Jalan terjal, berlumpur, dan tanjakan dengan segala rintangan; mungkin lintasan sepeda seperti itulah yang menjadi makanan Mohammad Azkiyaul Hayyi setiap mengikuti pertandingan. Bagaimana tidak, bertahun-tahun mengikuti kejuaraan sepeda downhill, berbagai jenis rintangan dihadapinya. Itu malah menjadikan tantangan bagi dirinya untuk bisa lebih mengasah kemampuan.

Terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini menemuinya kemarin (14/7) di tempat biasanya dia bersantai dekat rumahnya, wilayah Kelurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek. Saat itu terlihat tiga sepeda downhill diparkir rapi di samping beberapa sepeda motor. Bersamaan itu, terlihat Ayi -sapaan akrab Mohammad Azkiyaul Hayyi- sedang duduk selonjor sambil bergurau dengan teman-temannya. Tidak ketinggalan, di sampingnya sebotol air mineral menemani.

Ya, saat itu Ayi tengah beristirahat setelah menyelesaikan latihan untuk persiapan kejurprov balap sepeda yang kini ditunda karena masa pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). “Karena ada PPKM, belum ada kejelasan terkait pelaksanaan kejurprov. Namun, hal itu tidak menghalangi saya untuk berlatih,” kata Ayi.

Itu terjadi karena harapan besar akan prestasi demi mengharumkan nama Trenggalek di pundaknya. Bukan hanya bualan semata, sebab berbagai prestasi pernah diraihnya pada ajang balap sepeda downhill. Mulai tingkat provinsi hingga terbuka yang mendatangkan peserta dari luar provinsi. Terbaru, pada kejuaraan sepeda gunung terbuka yang dilaksanakan di Pacitan akhir 2020 lalu. Kejuaraan tersebut merupakan kejuaraan pertama di masa pandemi Covid-19. “Untuk mengikuti kejuaraan tersebut, persyaratannya tidak mudah. Sebab, harus menerapkan protokoler kesehatan (prokes). Syukurlah kala itu saya berhasil mendapatkan juara pertama,” ungkapnya.

Dari kejuaraan tersebut, ada pengalaman yang dia dapat. Khususnya ketika menghadapi lintasan berlumpur. Sebab, kala itu kejuaraan dilaksanakan pada musim penghujan sehingga malam hari sebelum pelaksanaan perlombaan turun hujan. Itu membuat kondisi lintasan dipenuhi lumpur. Dari pengalaman perlombaan sebelumnya, banyak peserta yang gagal karena roda sepeda seperti menancap di lintasan akibat saking lengketnya lumpur. Jika bisa lolos, pastinya kayuhan sepeda akan semakin berat.

Karena itu, dirinya berdiskusi dengan senior di tim balap downhill tentang cara yang ampuh untuk mengatasinya. Dia pun terpikirkan untuk mengolesi roda sepeda yang digunakan dengan minyak goreng untuk mengurangi kerekatan lumpur lintasan. Benar saja, pagi harinya sebelum memulai perlombaan, Ayi dan teman setim membeli minyak goreng beserta kuas dan langsung mengolesi roda sepeda yang digunakan. “Syukurlah cara tersebut efektif mengurangi kelengketan lumpur agar tidak menempel di ban. Kendati saya harus lebih berhati-hati untuk menjaga keseimbangan karena roda semakin licin,” imbuh remaja 18 tahun ini.

Dengan pengalaman tersebut, kini dirinya berlatih untuk menambah kemampuannya bersepeda di segala lintasan. Itu dilakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi ketika kejurprov berlangsung.

Untuk program latihan, dirinya sepenuhnya menyerahkan pada sang pelatih. Sebab, dalam perlombaan balap sepeda downhill, tidak hanya diperlukan kecepatan ketika mengayuh sepeda saja, tapi juga ketangkasan dalam menghadapi rintangan, kekuatan fisik, dan mental agar tidak mudah down. “Tentu saya juga harus menjaga kondisi tubuh. Sebab jika latihan dilakukan asal-asalan, bukan manfaat yang didapat, melainkan hanya kelelahan dan bisa berakibat cedera atau sakit,” jelasnya. (*)

Bagi Mohammad Azkiyaul Hayyi, bersepeda tidak hanya sekedar mainan ketika masih kecil, tapi juga jalan meraih prestasi. Dengan menggeluti downhill sejak kecil, berbagai prestasi membanggakan diraihnya. Kini dia mempersiapkan diri mengharumkan nama Trenggalek pada kejuaraan provinsi (kejurprov) yang akan dilaksanakan tahun ini.

 

ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek

 

Jalan terjal, berlumpur, dan tanjakan dengan segala rintangan; mungkin lintasan sepeda seperti itulah yang menjadi makanan Mohammad Azkiyaul Hayyi setiap mengikuti pertandingan. Bagaimana tidak, bertahun-tahun mengikuti kejuaraan sepeda downhill, berbagai jenis rintangan dihadapinya. Itu malah menjadikan tantangan bagi dirinya untuk bisa lebih mengasah kemampuan.

Terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini menemuinya kemarin (14/7) di tempat biasanya dia bersantai dekat rumahnya, wilayah Kelurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek. Saat itu terlihat tiga sepeda downhill diparkir rapi di samping beberapa sepeda motor. Bersamaan itu, terlihat Ayi -sapaan akrab Mohammad Azkiyaul Hayyi- sedang duduk selonjor sambil bergurau dengan teman-temannya. Tidak ketinggalan, di sampingnya sebotol air mineral menemani.

Ya, saat itu Ayi tengah beristirahat setelah menyelesaikan latihan untuk persiapan kejurprov balap sepeda yang kini ditunda karena masa pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). “Karena ada PPKM, belum ada kejelasan terkait pelaksanaan kejurprov. Namun, hal itu tidak menghalangi saya untuk berlatih,” kata Ayi.

Itu terjadi karena harapan besar akan prestasi demi mengharumkan nama Trenggalek di pundaknya. Bukan hanya bualan semata, sebab berbagai prestasi pernah diraihnya pada ajang balap sepeda downhill. Mulai tingkat provinsi hingga terbuka yang mendatangkan peserta dari luar provinsi. Terbaru, pada kejuaraan sepeda gunung terbuka yang dilaksanakan di Pacitan akhir 2020 lalu. Kejuaraan tersebut merupakan kejuaraan pertama di masa pandemi Covid-19. “Untuk mengikuti kejuaraan tersebut, persyaratannya tidak mudah. Sebab, harus menerapkan protokoler kesehatan (prokes). Syukurlah kala itu saya berhasil mendapatkan juara pertama,” ungkapnya.

Dari kejuaraan tersebut, ada pengalaman yang dia dapat. Khususnya ketika menghadapi lintasan berlumpur. Sebab, kala itu kejuaraan dilaksanakan pada musim penghujan sehingga malam hari sebelum pelaksanaan perlombaan turun hujan. Itu membuat kondisi lintasan dipenuhi lumpur. Dari pengalaman perlombaan sebelumnya, banyak peserta yang gagal karena roda sepeda seperti menancap di lintasan akibat saking lengketnya lumpur. Jika bisa lolos, pastinya kayuhan sepeda akan semakin berat.

Karena itu, dirinya berdiskusi dengan senior di tim balap downhill tentang cara yang ampuh untuk mengatasinya. Dia pun terpikirkan untuk mengolesi roda sepeda yang digunakan dengan minyak goreng untuk mengurangi kerekatan lumpur lintasan. Benar saja, pagi harinya sebelum memulai perlombaan, Ayi dan teman setim membeli minyak goreng beserta kuas dan langsung mengolesi roda sepeda yang digunakan. “Syukurlah cara tersebut efektif mengurangi kelengketan lumpur agar tidak menempel di ban. Kendati saya harus lebih berhati-hati untuk menjaga keseimbangan karena roda semakin licin,” imbuh remaja 18 tahun ini.

Dengan pengalaman tersebut, kini dirinya berlatih untuk menambah kemampuannya bersepeda di segala lintasan. Itu dilakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi ketika kejurprov berlangsung.

Untuk program latihan, dirinya sepenuhnya menyerahkan pada sang pelatih. Sebab, dalam perlombaan balap sepeda downhill, tidak hanya diperlukan kecepatan ketika mengayuh sepeda saja, tapi juga ketangkasan dalam menghadapi rintangan, kekuatan fisik, dan mental agar tidak mudah down. “Tentu saya juga harus menjaga kondisi tubuh. Sebab jika latihan dilakukan asal-asalan, bukan manfaat yang didapat, melainkan hanya kelelahan dan bisa berakibat cedera atau sakit,” jelasnya. (*)

Artikel Terkait


Most Read


Artikel Terbaru

/