29.1 C
Tulungagung
Friday, August 12, 2022

Cerita Siswa Terpilih Menjadi Paskibra Provinsi Jatim (2-Habis)

Terpilih sebagai calon anggota pasukan pengibar bendera (paskibra) provinsi tak pernah disangka Erza Akbar Rizkiawan. Bahkan, tugas baru ini menjadi tantangan baginya untuk mengharumkan nama daerah dan menjadi pribadi yang lebih baik.

 

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Kedungwaru, Radar Tulungagung

 

Senyum semringah tampak jelas pada raut wajah Erza Akbar Rizkiawan siang itu.  Karena siswa kelas X ini baru saja mengikuti penilaian akhir semester (PAS) yang dilakukan dengan sistem daring. “Lega rasanya baru saja mengikuti PAS,”ujarnya seraya mempersilakan Koran ini masuk ke rumahnya.

Selain lega karena baru saja menuntaskan PAS, remaja yang akrab disapa Erza ini lega karena baru saja terpilih menjadi calon anggota paskibra Provinsi Jatim. Ditemui di kediamannya yang beralamat di Perum Bumi Mas Blok L nomor 10, Erza pun menceritakan pengalamannya mengikuti seleksi paskibra. Dapat terpilih mewakili Kabupaten Tulungagung menjadi hadiah tersendiri baginya. Dia mengaku tidak menyangka akan mendapatkan tugas mewakili kota tercinta pada seleksi tingkat provinsi. “Sama sekali tidak menyangka kalau bisa sejauh ini. Terpilih sebagai anggota di tingkat kabupaten saja sudah senang, apalagi bisa sampai ke provinsi,”ujarnya.

Putra pasangan suami istri (pasutri) Agung Harimawan dan Kurniawati ini mengaku memiliki persiapan yang dilakukan singkat. Hanya sekitar satu bulan dirinya mempersiapkan diri. Bahkan saat itu sempat jatuh sakit setelah dinyatakan mewakili Kabupaten Tulungagung untuk mengikuti seleksi pada tingkat provinsi. “Saya sempat sakit sekitar satu minggu karena memang tenaga agak terforsir dan ternyata membuahkan hasil yang baik,”terangnya.

Remaja yang hobi berenang ini menyatakan, meskipun dilaksanakan di tengah pandemi, tak mengurangi kompetisi. Bahkan, persaingan sesama anggota paskibra dari berbagai kota/kabupaten di Jatim terbilang ketat. Terutama pada seleksi latihan fisik. Ini dilihat dari postur tubuh yang ideal, tegap, hingga memiliki kemampuan fisik yang cukup tangguh. Tak heran, berbagai latihan seperti lari, push up, dan sit up menjadi makanan sehari-hari. “Di sana saya banyak bertemu dengan perwakilan dari berbagai daerah yang memiliki fisik dan kemampuan mumpuni,” jelasnya.

Melihat banyaknya pesaing tak membuat nyalinya ciut dan minder. Ini justru membuatnya terpacu agar dapat sejajar dan lebih unggul dengan peserta lain. Tak hanya mengenai fisik, seorang anggota paskibra juga dituntut memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup luas. Terutama pengetahuan umum dan kebangsaan. Selain kedua poin tersebut, setiap anggota juga dituntut dapat menguasai pelatihan baris-berbaris (PBB) dasar. Mulai dari hormat, istirahat di tempat, langkah tegap maju, hingga hadap kanan-kiri. “Tiga poin ini harus dikuasai, yaitu fisik bagus, wawasan luas, dan menguasai PBB dasar,” tandasnya.

Selain harus memiliki tiga poin dasar tersebut, remaja kelahiran 13 November 2004 ini mengaku, menjalani latihan dan serangkaian tes di tengah pandemi juga menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, dengan latihan yang cukup berat, terdapat serangkaian protokol kesehatan (prokes) yang harus tetap dipatuhi. Seperti mengenakan masker dan menjaga jarak. “Pasti akan terasa engap atau kesulitan bernapas. Untuk itu harus bisa adaptasi,” ungkapnya.

Meskipun tidak memiliki catatan khusus dari pihak panitia, sembari menunggu masa karantina, Erza bertekad terus melakukan latihan fisik setiap hari di rumah. Terlebih dia bercita-cita ingin masuk tim 8. Namun apa pun nanti hasil dari latihan dan karantina, dia siap bertugas. Baik menjadi tim 17, 8, maupun 45.

Dunia baris-berbaris memang bukan hal asing baginya. Ini lantaran sedari kecil dia sudah tergabung dalam polisi cilik (pocil) dan kerap mengikuti lomba baris berbaris antarsekolah. Saat memasuki jenjang SMA, dia pun memutuskan untuk mengikuti seleksi menjadi anggota paskibra. Menurutnya, mengikuti kegiatan semacam ini tidak hanya perkara fisik, tapi juga pengabdian pada bangsa. Untuk itu, dia ingin membuat mandat sebagai anggota paskibra ini sebagai tantangan untuk dapat menjadi pribadi lebih baik. “Tentunya ingin sekali bisa menjadi yang terbaik dan membawa nama Tulungagung,” tegasnya. (*)

Terpilih sebagai calon anggota pasukan pengibar bendera (paskibra) provinsi tak pernah disangka Erza Akbar Rizkiawan. Bahkan, tugas baru ini menjadi tantangan baginya untuk mengharumkan nama daerah dan menjadi pribadi yang lebih baik.

 

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Kedungwaru, Radar Tulungagung

 

Senyum semringah tampak jelas pada raut wajah Erza Akbar Rizkiawan siang itu.  Karena siswa kelas X ini baru saja mengikuti penilaian akhir semester (PAS) yang dilakukan dengan sistem daring. “Lega rasanya baru saja mengikuti PAS,”ujarnya seraya mempersilakan Koran ini masuk ke rumahnya.

Selain lega karena baru saja menuntaskan PAS, remaja yang akrab disapa Erza ini lega karena baru saja terpilih menjadi calon anggota paskibra Provinsi Jatim. Ditemui di kediamannya yang beralamat di Perum Bumi Mas Blok L nomor 10, Erza pun menceritakan pengalamannya mengikuti seleksi paskibra. Dapat terpilih mewakili Kabupaten Tulungagung menjadi hadiah tersendiri baginya. Dia mengaku tidak menyangka akan mendapatkan tugas mewakili kota tercinta pada seleksi tingkat provinsi. “Sama sekali tidak menyangka kalau bisa sejauh ini. Terpilih sebagai anggota di tingkat kabupaten saja sudah senang, apalagi bisa sampai ke provinsi,”ujarnya.

Putra pasangan suami istri (pasutri) Agung Harimawan dan Kurniawati ini mengaku memiliki persiapan yang dilakukan singkat. Hanya sekitar satu bulan dirinya mempersiapkan diri. Bahkan saat itu sempat jatuh sakit setelah dinyatakan mewakili Kabupaten Tulungagung untuk mengikuti seleksi pada tingkat provinsi. “Saya sempat sakit sekitar satu minggu karena memang tenaga agak terforsir dan ternyata membuahkan hasil yang baik,”terangnya.

Remaja yang hobi berenang ini menyatakan, meskipun dilaksanakan di tengah pandemi, tak mengurangi kompetisi. Bahkan, persaingan sesama anggota paskibra dari berbagai kota/kabupaten di Jatim terbilang ketat. Terutama pada seleksi latihan fisik. Ini dilihat dari postur tubuh yang ideal, tegap, hingga memiliki kemampuan fisik yang cukup tangguh. Tak heran, berbagai latihan seperti lari, push up, dan sit up menjadi makanan sehari-hari. “Di sana saya banyak bertemu dengan perwakilan dari berbagai daerah yang memiliki fisik dan kemampuan mumpuni,” jelasnya.

Melihat banyaknya pesaing tak membuat nyalinya ciut dan minder. Ini justru membuatnya terpacu agar dapat sejajar dan lebih unggul dengan peserta lain. Tak hanya mengenai fisik, seorang anggota paskibra juga dituntut memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup luas. Terutama pengetahuan umum dan kebangsaan. Selain kedua poin tersebut, setiap anggota juga dituntut dapat menguasai pelatihan baris-berbaris (PBB) dasar. Mulai dari hormat, istirahat di tempat, langkah tegap maju, hingga hadap kanan-kiri. “Tiga poin ini harus dikuasai, yaitu fisik bagus, wawasan luas, dan menguasai PBB dasar,” tandasnya.

Selain harus memiliki tiga poin dasar tersebut, remaja kelahiran 13 November 2004 ini mengaku, menjalani latihan dan serangkaian tes di tengah pandemi juga menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, dengan latihan yang cukup berat, terdapat serangkaian protokol kesehatan (prokes) yang harus tetap dipatuhi. Seperti mengenakan masker dan menjaga jarak. “Pasti akan terasa engap atau kesulitan bernapas. Untuk itu harus bisa adaptasi,” ungkapnya.

Meskipun tidak memiliki catatan khusus dari pihak panitia, sembari menunggu masa karantina, Erza bertekad terus melakukan latihan fisik setiap hari di rumah. Terlebih dia bercita-cita ingin masuk tim 8. Namun apa pun nanti hasil dari latihan dan karantina, dia siap bertugas. Baik menjadi tim 17, 8, maupun 45.

Dunia baris-berbaris memang bukan hal asing baginya. Ini lantaran sedari kecil dia sudah tergabung dalam polisi cilik (pocil) dan kerap mengikuti lomba baris berbaris antarsekolah. Saat memasuki jenjang SMA, dia pun memutuskan untuk mengikuti seleksi menjadi anggota paskibra. Menurutnya, mengikuti kegiatan semacam ini tidak hanya perkara fisik, tapi juga pengabdian pada bangsa. Untuk itu, dia ingin membuat mandat sebagai anggota paskibra ini sebagai tantangan untuk dapat menjadi pribadi lebih baik. “Tentunya ingin sekali bisa menjadi yang terbaik dan membawa nama Tulungagung,” tegasnya. (*)

Artikel Terkait


Most Read


Artikel Terbaru

/