RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Suatu tempat tak luput dari yang namnaya cerita rakyat, layaknya Gunung Budheg di Tulungagung. Dikisahkan ada orang yang bernaa Adipati Bedalem yang punya anak perempuan, yang memiliki paras yang cantik yaitu Bernama Rara Ringgit atau dikenal Roro Kembang Sore.
Suatu Ketika, ada utusan dari Kerajaan Majapahit Pangeran Lembu Peteng yang berperang dengan Kyai Besari. Mereka berdua merebutkan Roro Kembang Sore, perang tersebut membuat Roro Sore ketakutan dan berlari ke Desa Dadapan dengan berbonceng pada seorang janda yan Bernama Mbok Rondo Dadapan.
Ternyata, Mbok Rondo memiliki seoran anak laki-laki yaitu Joko Bodo dan terpikat kecantikan Roro Kembang Sore. Namun saying, cinta Joko Bodo dengan cara halus. Joko Bodo tetap kekeh meminta Roro Kembang Sore untuk menerima cintanya dan menjadi istrinya.
Setelah berpikir, Roro Kembang Sore menyetujui permintaan Joko Bodo dengan syarat. Roro Kembang Sore meminta Joko Bodo untuk bertapa di bukit menghadap laut selatan selama 40 hari 40 malam beralas batu dan memapaki cikrak di kepalanya dengan keadaan membisu. Di saat yang bersamaan, Roro Kembang Sore naik ke Gunung Cilik.
Ketika sampai di rumah Mbok Rondo tak menemui seorang pun dan mencari Joko Bodo yang sedang bersila di atas batu. Spontan Mbok Rondo memanggil Joko Bodo tapi tak ada respon apapun dari Joko Bodo. Karena jengkel Mbok Rondo mengutuk Joko Bodo yang budheg menjadi batu.
Mbok Rondo yang kala itu khilaf, tersadar bahwa perkataannya merubah anaknya menjadi batu. Kemudian menamai batu itu dengan nama Gunung Budheg. Hingga saat ini Gunung Budheg menjadi salah satu wisata alam di Tulungagung yang banyak dikunjungi oleh turis domestic maupun turis asing.
Editor : Nanda Nila Alvinda