Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Winarto Pemimpin Prosesi Jamasan Tombak Kyai Upas

Anggi Septian A.P. • Kamis, 3 Agustus 2023 | 23:00 WIB
TRADISI:  Winarto saat  melakukan  prosesi  jamasan  tombak  pusaka  Kyai Upas  di Pendapa  Griyo  Ndalem  Kanjengan.
TRADISI: Winarto saat melakukan prosesi jamasan tombak pusaka Kyai Upas di Pendapa Griyo Ndalem Kanjengan.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Winarto telah lintas generasi memimpin upacara tradisi jamasan pusaka tombak Kyai Upas. Mulai dari buyut, kakek, dan ayahnya silih berganti menyucikan pusaka peninggalan leluhur tersebut. Selain itu, dia telah 26 tahun melakukan jamasan, pun sudah mempersiapkan penggantinya jika sewaktu-waktu ‘dipanggil’ Sang Pemilik Roh.

Tombak Kyai Upas merupakan salah satu pusaka warisan leluhur yang ada di Tulungagung. Tak ayal pusaka berbentuk tombak dengan panjang bilah sekitar 35 sentimeter (cm) dan ditopang landhean (kayu pegangannya) sepanjang 4 meter tersebut memerlukan perawatan khusus seperti jamasan. Winarto merupakan kunci utama dalam proses jamasan pusaka tombak itu.

Sedari kecil Winarto telah diajak ayahnya untuk mengikuti prosesi jamasan tombak Kyai Upas. Waktu itu umurnya terbilang belia sekitar 16 tahun. Menurut dia, tidak ada pelatihan khusus yang diberikan sang orang tua untuk menjalani proses jamasan tombak Kyai Upas. “Dulu itu awalnya diajak bapak saya ikut jamasan tombak Kyai Upas, sekitar tahun 1970. Tidak ada pelatihan khusus, hanya ikut dan melihat bapak saat jamasan tombak Kyai Upas,” jelasnya, Minggu (30/7).

Sebenarnya bukan Winarto yang dipersiapkan menjalani titah untuk merawat dan menyucikan pusaka tombak sakral itu, melainkan kakak kandungnya. Namun, takdir berkata lain sehingga membuatnya melakoni titah dari sang ayah. “Sebenarnya kakak saya yang disuruh untuk menjalani titah jamasan tombak Kyai Upas ini. Ya karena beragam hal, akhirnya saya yang menjalani titah itu,” ucapnya.

Pria berusia 69 tahun ini telah menjalani proses jamasan pusaka tombak Kyai Upas sejak puluhan tahun silam. Meski begitu, dia tidak pernah mengalami kejadian mistis sama sekali. “Dalam puluhan tahun itu saya tidak pernah mengalami kejadian mistis sama sekali, justru orang-orang yang di dekat saya yang mengalami hal-hal seperti itu. Saya suruh untuk lebih berfokus pada proses jamasannya,” paparnya.

Warga Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru ini mengaku terdapat perbedaan dalam proses jamasan pusaka tombak Kyai Upas sebelum tahun 2000-an dan sesudahnya. Sebelumnya, orang yang mengikuti prosesi jamasan pusaka tombak Kyai Upas hanya dari kalangan keluarga. Berbeda dengan sekarang yang turut dihadiri masyarakat umum. “Dulu itu hanya kalangan keluarga yang masuk. Sekarang kedinasan mana saja boleh hadir, masyarakat umum juga boleh. Jadi, jamasan sekarang itu lebih ramai daripada zaman dulu,” ungkapnya.

Proses jamasan pusaka tombak Kyai Upas ini hanya dibatasi untuk perempuan agar tidak masuk saat prosesi. Sebab, aturan tersebut untuk mengantisipasi bilamana terdapat perempuan yang sedang tidak suci atau sedang dalam masa menstruasi. “Itu kan karena perempuan itu memiliki masa tidak suci, makanya ada aturan itu. Ya untuk mengantisipasi saja,” tutupnya. (*/c1/din)

Baca Juga: Terkuak Latar Pendidikan Gus Iqdam di Pondok Al-Falah Ploso

Editor : Anggi Septian A.P.
#tulungagung #warisan leluhur #prosesi jamasan #tombak kiai upas tulungagung