RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Terowongan Niyama merupakan sebuah terowongan terbesar di Tulungagung. Terowongan tersebut juga memiliki unsur mistis yang pekat. Namun, dibalik itu Terowongan Niyama masuk dalam jajaran sejarah heritage Tulungagung karena unsur sejarahnya yang berperan penting. Peran pentingnya adalah terowongan ini pernah digunakan sebagai saluran terusan saat banjir yang pernah menghadang Kota Marmer pada zaman dahulu.
Mengungkit sejarah Terowongan Niyama, bermula dari sebuah bencana banjir yang terjadi pada 17 Novermber 1942. Kala itu, Jepang pernah menguasai Tulungagung. Tak hanya menewaskan warga, tapi juga mampu menghancurkan pemukman dan lahan pertanian hingga berakibat gagal panen.
Saat Jepang melakukan aksinya di Tulungagung, banyak sekali pekerja dari pribumi dikorbankan tanpa upah yang cukup. Hal ini berakibat banyak warga pribumi menjadi korban romusha tentara Jepang.
Baca Juga: Limbah Sungai Niyama Hiasi Pantai Gemah
Bangunan tersebut diselesaikan hanya dalam waktu satu tahun. pada tahun 1944, Jepang memberikan nama Terowongan baru tersebut dengan nama Niyama, Ni yang berarti dua, Yama berarti Gunung. Penamaan Terowongan Niyama memiliki arti yaitu terowongan yang diapit oleh dua gunung atau bukit. Kata Ni juga diparafrasekan sebagai Ne, yang berarti akar. Hal ini karena tampilan terowongan Niyama mirip seperti ‘tumpak oyot’ atau akar gunung yang naik.
Pada tahun 1955, Terowongan ini sempat rusak karena dihantam banjir yang sangat dahsyat. Namun, di tahun 1961 terowongan tersebut mulai direnovasi. Pada masa Orde Baru, Terowongan Niyama lebih kokoh seperti yang kita lihat sekarang.
Keberedaan terowongan tersebut mampu mengendalikan bencana banjir di Tulungagung sehingga lambat laun Terowongan Niyama sangat berguna di setiap musim hujan.
Baca Juga: Tak Banyak Orang Tahu, Potret Sungai Niyama Bisa Dijadikan Tempat Refreshing
Editor : Nurul Hidayah