SEMANGAT dan greget Eko Puji Siswanto Tulungagung berbisnis kuliner masakan ayam bakar bangkit kembali setelah menikahi Dwi Wahyuni, perempuan asal Ngawi Jawa Timur.
Pernikahan Eko dengan Yuni, panggilan akrab Dwi Wahyuni itu dilangsungkan sekitar sebulan lalu, Maret 2024. Eko sendiri sebenarnya kelahiran Surabaya, tapi sejak kecil hingga dewasa tinggal di Desa Tanggung, Campurdarat, Tulungagung, bahkan sekolah SD hingga kuliah di UIN SATU Tulungagung.
Pada tahun 2000-an, ia pernah bergabung dengan Mas Hari, seorang big bos pengusaha kuliner ayam bakar di kawasan Bulungan Blok M Jakarta yang sangat terkenal itu.
Kuliner milik Mas Hari itu menjadi kondang, lantaran banyak artis, bintang film dan penyanyi papan atas ibukota yang sering makan di sana. Maklum, selain menu masakan ayam bakar yang dikelola Mas Hari tersebut sangat nikmat, suasana di kawasan Blok M Bulungan Jakarta itu memang sangat menarik pandangan mata. Wajar kiranya jika hampir tiap malam suasana di kuliner milik Mas Hari tersebut selalu banyak pengunjung.
Eko yang selama 2 tahun bergabung dengan kuliner ayam bakar milik Mas Hari, tentu saja ia banyak belajar mengenai kiat dan teknik memasak ayam bakar yang nikmat sebagaimana yang dihidangkan di kawasan Blok M Bulungan Jakarta. Tentu, Eko sudah mewarisi resep menu masakan khas ayam bakar dari Mas Hari.
Meski demikian ia masih belum memiliki kesempatan yang pas untuk buka usaha kuliner ayam bakar, lantaran ia selama 13 tahun (tahun 2011-2024) merantau ke "Negeri Jiran" Malaysia. Selama di sana, Eko lebih banyak bekerja di bidang pembangunan terutama dengan keahliannya memasang keramik (mozaik).
Namun, setelah Eko menikahi dengan Yuni asal Ngawi pada Maret lalu, semangatnya menjalani bisnis kuliner ayam bakar menjadi bangkit kembali. Eko merasa terpanggil untuk mewujudkan bisnis kuliner ayam bakar tersebut karena sudah mengantongi "ilmu masak" dari Mas Hari Blok M Jakarta yang aslinya Banyuwangi.
Dan yang lebih menggembirakan lagi, ternyata Yuni istrinya selama ini juga buka usaha kuliner ayam panggang khas Ngawi dan menu lainnya. Maka, setelah pernikahan di bulan Maret lalu, Eko segera memboyong Yuni ke Tulungagung untuk memulai usahanya.
Dengan mengontrak rumah di pinggir jalan Desa Wajak Lor, Kec. Boyolangu, Tulungagung, pasutri (pasangan suami-istri) Eko dan Yuni pun memulai usaha kuliner yang menjajakan hidangan utama ayam bakar dan ayam panggang, di samping menu lainnya seperti ikan nila dan lele bakar serta minuman es teler dan sebagainya. Warung tersebut dinamakan "Arum Kaya Rasa".
"Ya alhamdulillah, mulai buka sebulan lalu sampai sekarang, warung kami selalu saja ada yang beli, bahkan beberapa orang pelanggan kami yang memesan makanan pula," ujar Eko merasa optimistis.
Karena usaha kuliner yang mereka buka masih kategori baru, sekitar sebulan, maka Eko dan Yuni sepakat membuat harga yang terjangkau untuk masyarakat umum. Kalau pada umumnya harga makanan ayam goreng atau ayam bakar sekitar Rp 20 ribu, bahkan ada yang lebih, namun di Warung "Arum Kaya Rasa" hanya dibandrol Rp 15 ribu saja.
Saat ditanya tentang permodalan usaha, Eko berterus-terang bahwa modal usaha warungnya yang sederhana itu dari hasilnya bekerja di Malaysia. Sementara dana tabungan dan untuk perputaran belanja dan sebagainya, Yuni menggunakan rekening Bank BRI dengan fasilitas atm-nya.
Eko juga menuturkan saat ia di Malaysia, hampir semua uangnya dititipkan atau ditabung ke familinya di Tulungagung yang dipercayanya atau yang memiliki amanah, salah satunya juga menggunakan rekening BRI.
"Saya merasa tidak nyaman kalau menyimpan uang Ringgit sewaktu di Malaysia hanya di lemari saja, makanya uang tersebut saya transfer ke rekening bank famili saya di Tulungagung. Selain untuk keamanan, dengan begitu saya tidak menjadi terlalu boros sewaktu di Malaysia. Makanya kalau sudah transfer, rasanya menjadi plong banget," kata Eko mengenang saat berulangkali mentransfer ke bank Indonesia.
Meski warungnya "Arum Kaya Rasa" sekarang masih kategori kecil, tetapi keduanya Eko dan Yuni memiliki kesepakatan untuk membesarkan bisnis kuliner yang dijalaninya kini.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra